When Weekend Comes

Teringat pertemuan kita di akhir pekan berlalu. Indah senyumanmu menyinari pagi hari hingga sore. Hehe. Sampai bertemu lagi, mentari. Dari sudut bumi yang lain, ku akan tersenyum menyambutmu.

Engkau mentari…
Terkadang hadir bersama pelangi.
Pelangi yang tampilan langit di atas sana.
Langit biru berhias awan beraneka corak.
Suka aku suka.
Sangat.

Ketika malam tiba, engkau tiada.
Namun masih ku perhati indahnya langit bertabur bintang banyak sekali. Dan juga awan serta sebuah cahaya bulan nan jelita.
Suka aku suka.
Sangat.

***

Terkadang kita berhadapan dengan keadaan yang jauh dari keinginan. Supaya kita mengerti makna kenyataan. Agar kita masih mau menemukan hal-hal yang patut kita syukuri. Lalu menikmati yang ada dengan bahagia. Sehingga tak ada lagi waktu untuk tak menyadari setiap hikmah yang dapat kita petiki.

Ingatlah!
Engkau hanya perlu mengingat. Hal apakah yang bisa ku syukuri saat ini? Dengan segala yang ku miliki. Dengan semua yang ku punyai. Lalu mensabari yang belum ku miliki. Saat ku menginginkannya, namun belum ku miliki saat ini.

Ingatlah!
Bahwa kadar rezeki kita semua sudah tertakar. Termasuk kapan kita akan meninggal. Maka, hapuslah airmatamu, kawan… Lihatlah indahnya alam yang ada di sekitarmu, lalu bertasbihlah memuji-Nya. Lagi, saat engkau dalam kesedihan mendalam. Maka keluarlah sejenak. Angkat wajahmu menengadah langit. Di sana ada pencerahan menyinari hatimu yang bersedih. Pencerahan yang akan menundukkannya, lagi.

Ingatlah!
Bahwa ada yang lebih besar dari masalah yang engkau hadapi. Ada yang selalu memperhatimu saat ini. Maka jangan goyah, lelah dan atau gundah lagi. Karena sesungguhnya engkau tidak pernah sendiri. Selamanya engkau tidak akan sendiri untuk menghadapi rupa-rupa hidup ini. Bangkitlah, berdiri dan melangkah lagi. Berjuanglah mengalahkan dirimu sendiri dengan segala kecengengannya. Karena engkau mampu.

Ingatlah!
Aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Karena kesedihanmu akan membuatku bersedih, juga. Maka tersenyumlah kawan… senyuman khas yang engkau miliki. Senyuman yang mensenyumkan, karena engkau tersenyum bersama hati. Hati yang tidak sedih lagi. Senyuman secerah sinar mentari.

Tersenyumlah kawan, karena mentari pun tersenyum. Dan engkau adalah mentari di hatiku.

Dedicated to :: Engkau, sahabatku yang menitik airmata karena dalamnya kesedihan. Terima kasih untuk berbagi. Dengan demikian kita mengerti makna kebersamaan. Kita belajar memberi inspirasi. Walau tanpa kita sadari, ada yang tercerahkan. Dan engkau mencerahkanku di kelam malam saat kita memandang langit penuh bintang bersama rembulan. Tanpamu, mungkin aku sudah terlelap lebih awal… Tapi engkau datang untuk mengingatkanku. Bahwa kita harus belajar lagi. Belajar dari kenyataan yang kita hadapi.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close