โ€‹โ€‹๐Ÿ’ญApakah yang engkau suka?

Suka. Aku sangat suka jalan-jalan. Karena di sepanjang jalan ku dapat menyaksikan beraneka pemandangan. Maka, ku mengusaha untuk dapat jalan-jalan dalam berbagai kesempatan terbaik. Seperti pagi hari, atau sore hari. Bahkan malam hari, aku pernah jalan-jalan. Dulu. Sehingga pagi, siang, sore dan malam hari adalah waktu-waktu terbaik yang ku gunakan untuk jalan-jalan.

๐Ÿ‘ฃMengapa jalan-jalan?

Sering, aku melakukan aktivitas yang satu ini, kalau sedang membutuhkan pencerahan. Kalau aku ingin menemukan sepercik dua percik inspirasi dalam hari. Saat aku sedang mual dengan rutinitas pekerjaan. Kalau aku sangat ingin menyaksikan sinar mentari dari lokasi yang berbeda dari biasanya. Saat ku ingin bertemu dengan wajah-wajah baru penuh senyuman. Maka aku akan jalan-jalan.

๐Ÿ‘Apakah yang dilakukan saat jalan-jalan?

Selama melangkah dalam perjalanan, aku memperhatikan sekitar. Apakah mereka yang juga sama-sama berjalan sepertiku, atau objek tertentu yang ku temui. Termasuk mengabadikan beberapa potret dalam perjalanan. Karena dengan begini, aku menjadi sangat menikmati waktu-waktu melangkah. Hingga ke menit-menitnya. Bahkan detik-detik berlalu, menjadi sangat berharga, jadinya.

Selangkah demi selangkah, kaki-kaki ini mengayun. Seperti itu pula dengan tangan yang mengayun bergantian. Ku hayati setiap pergerakannya. Seraya menerbitkan senyuman di hati. Karena ku belajar mensyukuri detik ini yang sedang ku jalani. Senyuman yang sesekali menebar di wajah, senyuman bahagia. Ya, kapan lagi momen yang sama ku alami? Sebab ia akan berlalu dan menjadi kenang-kenangan nanti. Ia akan berakhir dan tersimpan rapi dalam pigura perjalanan. Ia abadi sebagai bagian dari pengalaman, menjadi bagian dari pengetahuan.

Ke mana saja jalan-jalan?๐Ÿƒ

Kembali ke alam. Merasakan semilir angin menerpa pipi. Merasakan sinar mentari meraba wajah. Merayakan setiap gerakan saat melangkah. Memberitakan padanya bahwa semua ada untuk mengajaknya kembali bersyukur. Mengingatkannya untuk tak lupa bersabar. Meneguhkannya dengan keyakinan. Menguatkannya untuk bergerak lagi. Ya. Sebelum sampai di tujuan, semua adalah jalan yang ia tempuh. Hanya jalan-jalan yang menyampaikannya pada tujuan. Sehingga semangat lagi kaki-kaki melangkah, ketika lelah mulai terasa. Sedangkan senyuman sering menebar indah, ketika langkah-langkah mulai goyah. Karena ia yakin, semua akan berlalu.

๐Ÿ’ŒApa saja pesan yang engkau petik saat jalan-jalan?

๐Ÿ’"Saat lelah menyapa, hentilah sejenak. Perhatikan sekeliling, amati. Untuk memperbarui energimu. Lalu melangkahlah lagi, dengan senyuman. Senyuman yang engkau ukir karena bersamanya engkau mempunyai teman dalam perjalanan.โ€

๐Ÿ’žโ€œSaat engkau melangkah, engkau tidak hanya sendiri. Karena sesungguhnya di sana… di sana… di mana-mana… banyak yang sedang melangkah juga, sepertimu. Hanya saja, jalan-jalan yang mereka tempuh berbeda. Maka, bergeraklah, lagi. Berjuanglah untuk melangkah lagi. Besok, lusa, dan di hari-hari nanti. Semoga engkau sangat menikmati langkah-langkahmu dari hari ke hari. Lalu ukirlah prasasti menjadi lebih meriah lagi. Prasasti terbaik, untuk eksistensi diri. Setiap hari. Sepanjang waktu. Seluruh sisa usiamu. Karena dengan begitu, maka engkau abadi. Meski kelak engkau sudah tak melangkah lagi. Walau nanti engkau tiada lagi. Namun seluruh jalan-jalan yang engkau tempuhi menjadi bukti. Bahwa engkau pernah ada di sana, engkau pernah bersamanya.โ€

๐Ÿ’Ÿโ€œSaat menjejak di bumi, seringlah mendata kondisi diri. Ingatkan ia untuk mengingat lagi. Siapa diri dan ke mana mau pergi. Maka langkah-langkahmu akan terus berlanjut, hingga nanti.โ€

๐Ÿ’—โ€œSejak dini. Saat ini. Ajari diri untuk sering tahu diri. Ingatkan ia agar mengerti makna perjalanan yang ia tempuh. Supaya ia kembali ingat pula untuk meneruskan langkah-langkah lagi. Meski pun tidak di sini, lagi. Karena jalan-jalan selalu ada dan membentang indah di sana, di sana, … tidak hanya di sini. Semoga semangat tumbuh lagi, setiap hari."

๐Ÿ’•โ€œMunculkan tekad. Kepalkan tangan. Lalu angkat lebih tinggi, lebih jauh. Jauuuuuh. Tinggiiiiiii. Hingga menembus langit yang telah engkau sangkutkan impianmu di sana. Dan kemudian, lepaskan perlahan, seraya melambaikan jemari pada jalan-jalan yang pernah engkau tempuhi.โ€๐Ÿ‘‹

๐Ÿ’“โ€œDari mana pun engkau berada, ingatlah untuk berterima kasih. Berterimakasihlah wahai diri, buat semua. Semua yang berkontribusi. Semua yang berela hati. Semua yang baik budi. Semua yang menyayangi. Semua yang menjadi jalan, menyampaikanmu pada tujuan. Lalu, tersenyumlah, lagi…๐Ÿ™‚

Sungguh. Sungguh. Dengan begini, semogaโ€ฆ ketika engkau merasakan lelah, engkau masih mau melangkah lagi. Melangkah di dunia nyata, hingga sampai pula di sini.

๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‰๐Ÿ’จNah, nah lha…lha…lhaa…

Setelah beberapa waktu berkutat dengan lembaran-lembaran kertas penuh angka, aku pun menjadi mules. Kepala mendadak pening, lalu beraneka ragam kunang-kunang pun bermunculan. Mual merajalela, hingga ku tak sanggup lagi bernafas. Membuat kemampuan untuk bertahan pun berkurang. Aku ingin mencari angin sejenak, boleh yaa.

โ€‹ โ€‹

Aha! Hingga sampailah aku di sini. ๐Ÿ•ดUntuk menemukan inspirasi. Untuk memetik buah-buah pesan. Untuk memperhatikan sekeliling. Untuk menyaksikan wajah-wajah penuh senyuman. Untuk melanjutkan langkah-langkahku.

๐ŸŽถ๐ŸŽผ๐Ÿ’กIdealnya, kita dapat beraktivitas yang sama dengan penuh konsentrasi, hanya beberapa jam saja. Sedangkan untuk sebagian orang, malah tidak mampu bertahan lama di satu tempat serupa. Kalau aku, mulai mengetahui pula bagaimana kemampuanku. Seiring dengan bergulirnya waktu. Sepanjang perjalanan yang ku tempuh dalam beraktivitas. Maka, untuk berlama-lama berkutat dengan aktivitas serupa, aku tidak bisa. Maka, untuk mengalihkan perhatian sejenak, ku ambil waktu untuk berdiri, melangkah, kemudian berjalan. Berjalan-jalan aja. Dan beberapa saat kemudian, setelah tercerahkan, boleh kembali melanjutkan aktivitas. Dengan semangat baru, pikiran lebih cerah, dan tentu saja bersama senyuman.

Pernah!

Aku pernah mengalami kondisi serupa. Kondisi yang menyampaikanku pada tahap mual saat mengerjakan tugas, beberapa tahun lalu. Yah, ketika proses mengolah data skripsiku yang engga kelar-kelar. Maka pada suatu sore menjelang malam, saat ku masih sibuk bercengkerama dengan angka-angka. Maka nuansa yang sama ku alami. Lalu, aku pun berjalan-jalan. Jalan-jalan saja. Engga ke mana-mana. Hanya untuk merubah suasana, sejenak. Berikutnyaโ€ฆ selanjutnyaโ€ฆ Boleh kembali melanjutkan aktivitas

โ€‹โ€‹
.

โ€‹ โ€‹

๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ˜

โ€‹Semangatt…!!!๐Ÿ˜๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃโ€‹

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s