there-is-a-will-there-is-a-wayEngkau tidak akan bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain… Tetapi kembalilah pada rasa yang ada dalam dirimu agar engkau gembira.” [Syaikh ‘Aidh Al-Qarni]

***

Hidup ini adalah rangkaian pilihan demi pilihan. Pilihan-pilihan yang dapat menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya. Selagi kita menjalani kehidupan, maka kita harus memilih. Karena tanpa memilih, kehidupan yang kita jalani akan begitu-begitu saja. Ya. Tidak akan ada perubahan yang kita lakukan.

Tidak banyak pilihan yang ada di depan mata, dalam sekali waktu. Pilihan-pilihan untuk kita tentukan. Pilihan-pilihan yang akan kita ambil. Namun ia hanya beberapa saja. Saat ini, di sini. Ada pilihan yang dapat kita pilih. Walau tak banyak meski beberapa. Namun kita harus memilih. Dan saat menentukan pilihan, kita harus memiliki kemauan.

Ada kemauan pasti ada jalan.  Begini pepatah bijak yang ku ingat di sepanjang jalan saat ku melangkah. Karena saat melangkah, aku menempuh jalan. Ya. Jalan-jalan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam daftar impianku. Dan ternyata jalan-jalan tersebut sudah ada saja. Sebelum aku sampai di sana. Kemudian, aku mendapati diriku sudah melangkah pula di atasnya. Di jalan-jalan yang banyak cabangnya. Jalan-jalan yang beraneka jenisnya. Jalan-jalan yang saat menempuhnya, dapat mengingatkan ku lagi pada pepatah bijak tadi. Ada kemauan pasti ada jalan.

“Lalu, kemauan apakah yang kita punya? Sehingga jalan-jalan itu ada untuk kita?,” begini sering ku menanyai diri.

Sekarang, di sini. Apakah yang kita lakukan? Apakah kita melakukannya berdasarkan kemauan? Kita mau karena kita berani memilih? Kita melakukannya dengan senang hati? Sehingga tanpa kita sadari, jalan mulai terlihat.

Yha, selanjutnya tentang kemauan. Maukah kita masih terus melangkahkan kaki setelah kemauan kita miliki? Kemauan yang ada lebih awal sebelum kita memilih. Sebelum pilihan itu ada. Maukah kita berani memilih. Karena pilihan kita tak banyak untuk saat ini. Selanjutnya, kita akan melanjutkan langkah berikutnya dengan pilihan kita, tersebut.

***

Saat ini, di sini. Adalah ketika langkah-langkahku hendak terhenti. Karena beberapa langkah lagi aku sampai di tujuan. Ya, tujuanku adalah rumah kami. Sebuah rumah berlantai 2 (dua). Catnya berwarna pink. Rumah yang beberapa bulan terakhir ku tempati. Bersama beberapa orang cewe’-canti’ lainnya. Rumah yang saat berada di dalamnya, aku betah sekali. Sehingga setelah masuk, sulit bagi ku untuk keluar lagi. Kecuali untuk memenuhi keperluan sehari-hari yang harus ku jalani. Maka aku memilih meninggalkannya sejenak, sebelum kembali lagi. Begini hari-hariku di sini. Tiada yang asing, apalagi membuat pusi-ng. Semua berlangsung teratur, disiplin dan rapi jali. Berangkat ku pagi, lalu kembali sore hari. Aktivitas yang tersusun sangat teliti. Karena setelah ku perhati, inilah jalanku kini. Jalan yang ku tempuhi dengan senang hati. Karena di sini, saat ini, adalah jalan. Jalan untuk mencapai tujuan.

Nah, sore saat ini, di sini. Seperti biasanya, aku kembali. Kembaliku dengan langkah-langkah kaki lagi. Langkah-langkah yang menemani sejak tadi. Langkah-langkah ringan, berayun dengan melodi. Sebab, di sepanjang perjalanan ku sangat menikmati situasi. Aku sangat menghayati pemandangan di sekitar. Termasuk beberapa hal di luar kendali yang ku perhati.

Ya, sempat tak luput dari perhatianku tadi. Ketika dari kejauhan ku melihat seorang pejalan kaki. Beliau tampak ragu-ragu ketika hendak menyeberang jalan. Sehingga berkali-kali melepaskan kesempatan untuk menyeberang. Lalu memilih mundur lagi hingga ke tepi. Karena ‘akhirnya engga jadi menyeberang’. Sebab kendaraan ramai sekali. Ditambah pula beliau berdiri bukan di depan zebra cross. Sehingga untuk menyetop kendaraan agar memberi jalan, tidak mudah.

Ah, pemandangan seperti ini jarang terjadi. Sangat jarang. Maka sejenak ku tergeli. Karena menurutku sang pejalan kaki tadi mempertunjukkan sebuah komedi. Begini ku berpikir tadi saat menyaksikan pemandangan ini. Kemudian aku memilih untuk akhirnya berlalu. Untuk meneruskan langkah-langkahku lagi. Setelah sejenak perhatianku untuk fokus di jalan teralihkan pada pemandangan terhadap sang pejalan kaki lainnya di ujung sana.

Sesampainya aku di ‘rumah kami’, senanglah hati. Alhamdulillah, selamat kembali. Semangat lagi. Karena berjumpa dengan adik-adik nan manis. Dan saat mulai nongol di depan pintu, mengucap salam dan masuk, ada pemandangan berbeda dari biasanya.

What happen wahai ladies?

Aha! Semua ada di kamar-kamar masing-masing. Sendiri-sendiri. Dek Nisha memegang dan mengoperasikan blekberi, Kak Esty sibuk menatap lepi. Akhirnya ku tahu bahwa beliau sedang berkutat dengan rangkaian tugas-tugas kampus yang banyak sekali. Hihii, marii kita subsidi Kak Esty dengan beberapa camilan. Supaya semangat beliau semakin meninggi menyelesaikan tugas-tugas. Sedangkan Dik Inel menonton televisi. Semua terlihat tekun dan konsentrasi. Sehingga saat kedatanganku pun, mereka masih asyik sekali.  Dan aku berpikir, ini adalah inspirasi. Lalu aku pun bergegas menepikan perlengkapan yang ku bawa tadi. Menukar sepatu, menaruh tas dan kemudian melakukan kesibukkan sore ku pula.

Beberapa menit kemudian, kami sibuk-sibuk sendiri. Dan di sela kesibukan, ku sampaikan pada mereka, bahwa tentang kisah sore ini perlu abadi. Ku akan merangkai kisah di dalam diari. Agar kami ingat-ingat lagi nanti.

Cukup mudah bukan? Untuk menemukan secuplik inspirasi. Aku memilih mau memperhatikan sekitar, lalu menemukan hikmah yang dapat ku petik. Seperti misi yang pernah kami rangkai. Bersama sahabat seperjuangan di awal kami bertemu. Untuk mau melanjutkan langkah-langkah seperti ini meski tidak selalu bersama. Dan saat ini di sini, aku memilih. Berada di sini saat ini adalah pilihanku. Pilihan yang ku jalani dengan sungguh-sungguh.

Hai. Ketika ku harus memilih, maka aku pun memilih. Namun saat ku dapat menemukan pilihan tanpa harus memilih, maka aku tidak akan memilih. Sama sekali tidak akan.  Sesederhana ini ku menjalani kehidupan. Karena aku yakin, sepanjang ada kemauan, pasti ada jalan.

Nah! Sekarang di sini, kemauan ku apa? Kemauan yang membuatku harus memilih atau mendapatkan pilihan tanpa harus memilih?

***

Bila ku tak harus memilih, maka pilihkan pilihan terbaik untukku. Bila ku harus memilih, maka aku memilih untuk menerima. Karena hidupku adalah menjalani pilihan-Mu dengan senang hati. Sedangkan aku hanya memiliki kemauan. Kemudian melanjutkan langkah-langkah bersama kemauan yang senantiasa ku perbarui.

Seperti ketika ku melangkah di jalan-jalan yang ku tempuh. Aku hanya mau. Mau melangkah. Sedangkan jalan-jalan tersebut, Engkau yang memilihkan untukku. Jalan-jalan yang sudah ada, sebelum aku melangkah di sana. Saat kemauan ku ada, maka aku pun sampai di sana.

Sehingga kelak bila ku harus memilih, maka ku mohon petunjuk-Mu Ya Allah… untuk memberikan ku pilihan yang Engkau pilihkan. Lalu, aku menjalani, menerima dengan bahagia. Karena ku yakin, pilihan-Mu adalah yang terbaik untukku. Sehingga ku tak harus memilih.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s