😍Sekian lama waktu bergulir. Sepanjang pergulirannya itu, engkau sangat berarti bagiku. Arti yang ingin ku berai selalu. Meski melalui sebuah paragraf yang terdiri dari kalimat-kalimat sederhana. Sesederhana pribadimu, wahai Ayah dan Ibu.
 
😆Wahai Ayah dan Ibu yang ku rindu. Bagaimana kabarmu saat ini? Semoga Ayah dan Ibu sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan-Nya, harapku. Dalam doa-doa yang kita persembahkan kepada-Nya, ku yakin kita dapat kembali bertemu. Kita selalu bersapa dan bercengkerama mesra. Walau untuk bertatap mata denganmu, wahai Ayah dan Ibu, belum bisa segera. Tidak bisa kapanpun kita mau. Karena jarak membentang diantara kita. Jarak yang tidak lagi sedepa. Memang tidak sejauh sebelumnya, namun membutuhkan waktu juga, untuk kita bisa berjumpa. 
😅Dan kini, aku merinduimu, wahai Ayah dan Ibu. I miss you so much, my lovely parent. 
😍Sehingga sekali dalam waktu-waktu terbaikku, ku sapa engkau dengan suara. Namun sering ku merasakan sapaanmu Ayah dan Ibu, meski kita tidak bertukar suara. Apakah ini yang namanya pertautan jiwa? Jiwa yang saling bersama meskipun raga kita berjauhan. Apakah ini karena bersatunya hati kita sejak mula? Aku yang hadir ke dunia ini, melalui engkau wahai Ayah dan Ibu. Maka besar pengorbananmu untukku, teringat selalu dalam langkah-langkahku. Langkah-langkah yang ku jejakkan dengan sepenuh hati, dalam mencapai tujuan hidupku. Karena tanpa tujuan, hidup ini menjadi begitu-begitu saja. Berbeda halnya dengan adanya tujuan di depan sana. Maka, tergerakkan lagi raga ini untuk mencapainya. Tergerakan lagi jiwa ini untuk bangkit segera. Ketika lelah alami raga. Ahaaa… Ternyata tujuan dapat pula menguatkan kita, yaa Ayah dan Ibu.
😆Wahai Ayah dan Ibu, masih ku ingat kini. Betapa engkau sangat menyayangi kami anak-anakmu. Meski pun untuk mengucapkannya, engkau kelu. Namun semua terlihat dari ekspresi wajah yang engkau perlihatkan pada kami, setiap waktu. Besar kasih dan sayangmu, tidak ada bandingannya. Seluas samudera kasihmu Ibu, sehangat sinar mentari sayangmu Ayah. Terima kasihku untuk segalanya. Aku mencintaimu, wahai Ayah dan Ibu. Sepenuh cinta, sedalam jiwa.
😅Terbentang jasa-jasamu di sepanjang aliran darah kami. Terhampar perhatianmu pada lembaran kulit. Terselip sayangmu Ayah dan Ibu di setiap denyut nadi kami. Sedangkan bukti cintamu adalah diri kami. Betapa engkau sangat mencintai kami anak-anakmu, meski kami tidak pernah meminta. Namun engkau memberikan semua dengan apa adanya. Sehingga kami menerimanya dengan lega, tanpa pernah ada harapan untuk kembali. Walau begitu, saat kami belum dapat memberikan yang terbaik untukkmu, Ayah dan Ibu menjadi ingatan kami sepanjang waktu. Bagaimana cara agar engkau bahagia? 
😍Suatu waktu, sesekali. saat terlihat mendung di wajahmu atau embun bergelayut di dua bola matamu, maka hati kami teriris, terluka. Apakah sebab engkau begitu, wahai Ayah dan Ibu? Karena beratnya beban di pundakmu kah? Atas tanggung jawab yang engkau emban sebagai orang tua? Atau karena adanya sikap dan ucap kami yang melukai hatimu? Bahkan tanpa pernah kami sadari, engkau memalingkan wajah karena terlalu sendu. Sebab engkau tidak mau memperlihatkan kesedihanmu pada kami. Maka, segala cara engkau lakukan untuk selalu berbinar-binar ceria di hadapan kami.  Wajah senang dan bahagia engkau tunjukkan selalu, demi melihat kami pun bahagia. Namun masih terlihat ada kelam di matamu, oleh pandangan mata kecil kami, dulu.  Ini dulu, ketika kami masih bernama anak-anak yang lugu. Namun kini kami mulai belajar mengerti wahai Ayah dan Ibu, mengapa dulu engkau begitu? 
😅Dan akhir-akhir ini, wajahmu terlihat mudah tersenyum, bahagia… aku bahagia dengan bahagiamu wahai Ayah dan Ibu. Semakin ringan langkah-langkahku, kini. Bersama doa-doa terbaikmu, aku yakin bisa. Bisa, bisa, menempuh hari-hari lebih berbinar cerah ceria. Karena terbayang di pelupuk mataku, kebahagiaanmu yang menyerta, aaaaa.. leganyaa. Alhamdulillah.
 
Esok
//InsyaAllah…
di bulan depan, ku datang padamu wahai Ayah dan Ibu, untuk menatap lagi dua pasang bola matamu. Untuk ku saksikan binar-binar cerah mengerling di sana, untukku. Begitu pula yang ku bawa untukku, senyuman hangat penuh rindu, setelah kita lama tak bertemu.
😍Wahai Ayah dan Ibu, maafkan aku yang jauh darimu, sehingga membuat engkau merinduiku hingga menangis. Dan terima kasih Ayah dan Ibu untuk memberiku kepercayaan melanjutkan langkah-langkah meski tidak selalu di sisimu. Terima kasihku Ayah dan Ibu atas kesempatan untuk turut merasakan rindu, saat kita berjauhan raga. Sehingga dengan semua ku belajar untuk menjadi pribadi yang berjiwa teguh, berkarakter tak mudah mengeluh, dan penuh keyakinan serta percaya, semua akan berlalu. Karena segala keadaan ada masanya, begini Ibu memesankanku dulu. Beberapa saat sebelum kita berpisah. Dan jalan hidup ini tidak selalu datar dan mulus. Seperti halnya sebatang pohon yang tumbuh di bumi. Ia pernah berbentuk bibit, kemudian berdaun, tumbuh  dan terus bertumbuh, hingga akarnya kuat mencengkeram bumi. Sedangkan batangnya bisa menjadi tempat bersandar bagi pejalan saat berteduh di daunnya yang rindang. Lalu, bagaimana dengan buah yang ia hasilkan? Sebatang pohon berbuah manis, dapat menjadi penghilang dahaga bagi penikmatnya. Lalu tentang bunga-bunga yang bermunculan sebelum menjadi buah, merupakan pemandangan yang indah untuk dipandang, bukan? Sungguh, begitu pula dengan kehidupan yang kita jalani. Semua ada awalnya, ada akhir nya juga. Lalu cermatlah memetik hikmah di dalamnya. Dalam kehidupan yang sedang berlangsung, kini.
😆Terima kasih Ayah dan Ibu, yang mendidik kami lebih awal. Sebelum engkau menyekolahkan kami. Terima kasih untuk selalu mendidik kami, walau jarak telah membentang di antara kita. Namun kita semakin dekat di hati, walau terpisah jauh. Huhuhuuuu… Rinduku padamu Ayah dan Ibu, ku coba urai dengan tetesan tinta hati yang bergerak menderu di lembar catatanku. Semoga ia (rinduku) ini sampai padamu Ayah dan Ibu nun jauh di sana. 
😍😅😆

2 thoughts on “Dear My Lovely Parent

  1. Yaa, begitulah Teh Widiaaa…😀

    Hello kita jumpa lagii.
    Ehiyaa, teteh juga cantik tulisannya, yn suka mampir dan baca-baca. Terima kasih yaa, untuk berbagi inspirasi juga. Mari kita melanjutkan langkah bersama, untuk saling menyemangati. Terlebih saat jauh-jauhan begini, maka akan semakin banyak rindu yang bermunculan. I will miss you, too sahabat baruku. Esok, lusa dan di hari nanti… ^^

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s