Ya. Ini adalah sebuah catatan tentang jemari. Jemari siapa? Ada berapa? Siapa saja namanya? Mengapa mereka ada? Bagaimana perannya? Sejauh ini, apakah hadiah terbaik yang kita beri padanya?

Semula ku tidak memiliki tema untuk merangkai catatan. Makanya, lama ku terdiam. Tanpa pergerakan, hanya memperhatikan tuts-tuts yang berbaris rapi. Lalu, jemariku pun meraih alat komunikasi. Ya, alat komunikasi yang biasanya kami gunakan untuk berkirim informasi dan bertukar inspirasi. Alat komunikasi yang untuk beberapa waktu kemudian, tergenggam manis di antara jemari. Karena akhirnya ku tidak memfungsikannya. Namun hanya menimang-nimang, membolak-balik, tanpa ku nyalakan. Sampai akhirnya ku simpan lagi di tempatnya semula. Ya, ia kembali ke lokasi awalnya dengan tanpa ekspresi. Perpindahan yang dilakukan oleh jemari.

Setelah jemari menyimpan alat komunikasiku tadi, kemudian ia kembali menuju tuts-tuts nan rapi. Untuk selanjutnya asyik sendiri. Ya, mereka saling menyemangati, terus berlarian. Awalnya pelan dan menekan tuts satu persatu. Namun beberapa menit kemudian, ku saksikan jemari semakin kencang berlari. Entah apa yang ia kejar. Aku pun tidak mengerti. Maka, hanya ku awasi ia dari sini. Melalui dua bola mata yang bergerak ke kiri dan ke arah kanan cepat sekali. Karena ia tidak mau ketinggalan sehuruf pun yang jemari ketikkan. Mengapa? Iya, agar rangkaian kata yang jemari susun menjadi rapi, ulasnya. Saat ku tidak mau diam. Masih menanyai.

Lalu, mata juga sesekali memejam. Karena ia ingin menyelami arti kata demi kata yang jemari rangkai. Walau terkadang saat ia memejam, jemari melakukan kesalahan. Yak, ia mengetik huruf tak beraturan. Semaunya membariskan huruf-huruf menjadi kalimat. Dan karena hanya melakukan game-game an, mata pun membiarkan. Karena jemari memberi alasan, supaya ku dapat melatih kecepatan.

Tanggapnya, cepat! Saat mata melirik tajam pada kata kerja yang kehilangan imbuhan. Namun jemari mengabaikan. Mereka pun kembali sibuk kejar-kejaran saling mendahului. Dan hasilnya adalah ….. Tulisan iniiiii. Hihiii.😀 #Editedbyjemarijugakemudian. Salah sendiri.

Lalu, ini jemari siapa? Tentu saja jemarinya yang merangkai catatan.

“Jemari siapa? Jawab, jawab”, bisik pikiran.

Jemari ada berapa? Terhitung jumlahnya ada sepuluh. Namun yang eksis mengetuk huruf-huruf hanya delapan. Sedangkan dua jempol sibuk membuat jarak pada spasi. Mereka sesekali kerja bergantian. Kadang barengan. Dan seringnya malah bersenyuman. Lalu tertawa-tawa keisengan. Karena melihat delapan jemari lainnya saling berteguran dengan huruf-huruf. Selain itu, mereka terkadang juga bantu-bantu jempol menekan tombol spasi. Kenapa? Kalau mereka kelelahan dan ingin mencari suasana baru. Sekaligus menemukan penyegaran sejenak.

Nah! Semenjak tadi kita membahas jemari. Lalu, siapa saja namanya?

Mari kita kupas satu persatu.

Yang pertama bernama jempol. Ia pendek. Ya, posturnya lebih besar dari teman-temannya. Berbeda sendiri. Dan sangat jarang kelihatan saat merangkai tulisan. Karena jauh baginya untuk menjangkau huruf demi huruf di keyboard. Walau begitu, ia sangat ahli saat beraksi di layar alat komunikasi bernama handphone. Karena wilayah keypad adalah kekuasaannya.

“Hahahaaaa… Tawanya pecah penuh kelegaan. Karena ia adalah Sang Raja di layar keypad.”

Berikutnya ada kelingking. Kelingking adalah jari terkecil dari semua. Selain langsing, ia juga pendek. Dan posturnya yang kecil ini sering kali menjadi korban kejepit di antara tuts-tuts mesin ketik, dulu. Saat kami belajar mengetik sepuluh jari di mesin tik. Hikshiks. Namun ia tetap tabah dengan pend3rit44nnya ini. Karena kelingking yakin bahwa tidak selamanya nasibnya sama. Kelak, ia akan menari bersama jemari lainnya di tuts-tuts yang indah. Yaitu keyboard. Dan ternyata, semua bukan lagi mimpi bagi kelingking.

“Terlihat kelingking lebih sering mengedipkan matanya pada jempol di sela-sela menekan tuts-tuts. Karena ia terpesona oleh jempol yang sering mensenyuminya.”

Selanjutnya yang menjadi bagian dari jemari bernama jari manis. Yes! Si jari manis nan jelita, sukanya terbawa suasana. Ketika jemari lainnya bergegas mengetikkan huruf-huruf, begitu pula adanya ia. Ia pun sangat disenangi oleh teman-temannya. Karena pandai membawa diri.

Berikutnya adalah jari tengah. Ia adalah yang paling jangkung dari semua. Jari tengah yang tak mau kalah oleh telunjuk saat beraksi. Jari tengah yang jarang istirahat. Karena posisinya di tengah, maka ia berada di tempat sangat strategis untuk menjangkau huruf-huruf lebih banyak. Sama seperti telunjuk. Sehingga mereka menjadi sahabat akrab yang selalu kompak. Mereka saling membantu, saling menolong. Sangat erat keakraban yang mereka cipta.

Lihatlah, saat telunjuk terluka dan tidak dapat menjalankan fungsinya untuk merangkai kata, maka jari tengah yang menggantikan tugas-tugasnya. Begitupun saat kondisi sebaliknya terjadi. Maka jari telunjuk yang sering berlari kian kemari menjangkau huruf-huruf yang mereka sukai.

Begitulah keakraban jemari. Mereka bersinergi, untuk menyenangkan hati, menggembirakan ia. Supaya tersalurkan suara hati, melalui jemari. Kalau demikian, sejauh ini, apakah hadiah terbaik yang kita beri padanya? Pada jemari yang berdedikasi.

~…..”Jemari Mari Ke Mari, Ku Ajak Engkau Menari”…..~

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s