Ha” iya.
Bo” la.
Sa” ma.
May” mai.
I-Ci” ha.
Be” ng beng
Co” kelat
Di” ma.
*))Bi”ngung? Aku Juga. Aku jadi lapar kalau lagi bi-ngung. Dan mau minum kalau lagi haus. Air, mana air? Air putih aja. Ga usah repot-repot buat air berwarna. Aku haus cekaleeeeeee. Hehee. Just ~ intermezzo. Hohooo. Oiyaa, tadi aku ngapain yaa. Hayoo, ingat-ingat lagii. Hihiiii. Iya, iya, aku hanya mau berbagi aja. Berbagi yang baik-baik. Demi ingat bahwa dengan berbagi maka kita akan menjadi lebih baik atau ‘merasa’ baikan. Huuuuhuuuuu, sak-it di sini terasa, sangat sakit. Pedih, perih, bila ku ingat banyak salah padamu kawan. So, pardon me, please. ^^

#edisiingatdosapadasemua

***

Akhir-akhir ini. Sesuatu yang membuatku bernafas lega adalah saat pasangan bertemu dengan pasangan sejatinya. Ketika ku ingat selembar kertas yang selama ini ku cari-cari. Ternyata ia ada di sana atau di sana. Saat ingatanku kembali. Ya, pada saat itulah hatiku senang sekali, pikiranku lega kembali. Karena bertemu jawaban segala pertanyaan. Sebab bersua teman sesama teman seperjalanan. Berkawan lagi mereka dengan gembira. Untuk selanjutnya, langkah-langkah pun mengayun indah menapak bumi. Kami melanjutkan perjalanan lagi, bersama mereka.

Ya. Saat ada satu hal yang masih nyangkut, bagiku sangat berefek pada pikiran ini. Aku akan ingat-ingat lagi. Aku sekuat tenaga memikir ulang. Mengingat segala kronologi. Menelusuri detik ke menit. Menyelami hingga ke sudut hari.

“Ke mana ia pergi, yaa?”
“Aku simpan di mana, yaa?”
“Huwwwwaaaaa…. ini ga ada pasangannyaa? Masih di siapa yaa?”
“Bagaimana iniiii?”
Seperti inilah lebih kurang pertanyaan demi pertanyaan yang ada dalam pikiranku. Lalu ku sibuk mencari informasi. Bertanya pada ingatan. Berisik pada sekeping hati. Hingga sesekali terlontar tanya pada sesiapa yang berelasi dengan ku dalam hal ini. Dan yang terakhir ini terjadi, kalau pikiranku sudah tak mampu memberi jawaban lagi. Saat ia pasrah atas tanya ku bertubi-tubi. Maka meleburlah ia, mencari jawaban dari yang mungkin mengetahui. Begitu kami sehari-hari.

Ya. Terkadang hal-hal berlangsung lancar. Namun sesekali ada kendala. Maka, kita harus menemukan solusi, benar ya? Maka saat solusi belum dapat kita temukan sendiri, bertanyalah. Beranilah mengungkapkannya. Ah, dalam hal ini ku masih belajar. Belajar untuk tega menanya. Tega demi kemaslahatan semua.

Kita bertanya supaya berai penuhnya pikiran. Agar terang kelamnya perasa-an. Dengan harapan tertemukan ujung perma-salahan. Dan yang ku inginkan dari bertanya adalah untuk memperoleh pencerahan. Yah, bukan malah memperu-mit keadaan. Hingga menimbulkan kesal-atau salah pengertian. Bukan, bukan tujuan demikian ku mengajukan pertanyaan. Namun demi kelancaran langkah dalam perjalanan. Supaya lebih cemerlang pikiran, tenang perasaan. Sedangkan raga ini, mau bergerak lagi. Begitu pula wajah ini. Ia pun menebarkan senyuman indah. Sehingga ia tidak selalu mengalami keseriusan. Karena selalu serius ternyata tidak mengenakkan. Bawaannya menjadi ‘horor’ gitu dalam melanjutkan perjalanan. Perjalanan hidup yang sedang kita tempuh ini. So sesekali senyumilah langkah, tertawailah diri, ketika ia berproses menempuh hari-harinya.

Maka saat ku bertanya dan kemudian jawaban yang ku terima menjadi, “Mengapa tidak begini… begitu… dan bla bla blaaa…” bukan mendapatkan solusi, maka ku langsung berpikir begini. Karena mereka tak mengerti yang ku alami kah? Ku bertanya dengan cara yang belum pas kah? Atau memang bertanya ku pada yang bukan ahli? Begini ku sering introspeksi diri. Menanyai diri lagi. Jadi mestinya gimana?

Nah! Setelah ku bertanya namun akhirnya tanpa jawaban berarti, sering ku diam lalu berpikir lagi. Memikirkan jawaban. Menemukan yang belum punya pasangan. Dan seringnya ketemu di lokasi yang tidak pernah terpikirkan.

Olalaaaaaa… Hahaaa.  :D  Sering ku menertawai diri sendiri atas kesalahan yang ia lakukan. Atau karena kelupaan yang kambuh-kambuh. Bahkan pada ingatan yang akhirnya sembuh.

Setelah shalat Subuh, saat ini. Ketika ku merangkai catatan pagi. Saat pikiran sedang terang-terangnya. Ketika suasana alam tenang-tenangnya. Ketika yang terdengar di dalam ruangan hanya detak jam dinding meriuhkan keadaan. Ketika suara yang terdengar di luar ruangan adalah cericit burung-burung di atap rumah tetangga.  Ya, pada saat ini aku teringat sesuatu. Ingatan yang tetiba muncul. Ingatan yang beberapa hari lalu ku bongkar-bongkar dari rekaman ingatan. Namun ia tak kunjung menampakkan wajah. Ggrrrrrrr…

Dan kini saat ku tak memikirkannya lagi, ia hadir sekilas. Ngintip dari balik tirai. Ia hadirkan serangkaian kronologi di hari-hari yang lalu. Kronologi tentang perjalanan selembar kertas kecil berisi tulisan. Selembar kertas yang sangat ku butuhkan. Sehingga ku mencari-carinya saat ia tak jua ku temukan.  Ai! Tersenyumku saat ingatan muncul meski sekilas. Ingatan yang ku syukuri sebagai jalan. Jalan hadirnya senyuman lagi. Senyuman yang sempat menepi, saat ku sedang serius mengingati.

Beginilah aku. Akan ingat dan ingat lagi, kalau belum menemukan jawaban. Namun bisa lupa selupa-lupanya kalau tiada dalam ingatan. Yaiyalah… lupa=tak ingat.

Eh, bukan ku bermaksud melupakan yang terlupa. Namun karena banyaknya pikiran yang mengantri, hilir mudik, berseliweran, dalam ingatan ini. Maka terkadang sesuatu ku teringat. Terkadang sesuatu terlupa. Maka engkau akan mendapatiku segera meraih catatan, bila engkau memintaku mengingat sesuatu. Karena mungkin dan sering beberapa detik kemudian aku sudah tak ingat lagi sejenak. Kalau ku tuliskan, maka insyaAllah kembali ingat dech. Hehe.

***

Oleh karena itu kawan, mohon maafkan atas semua kesalahan (yang disengaja atau tak sengaja), ridhai dan ikhlaskan semua kebaikan tak terbalas (seperti kebaikan budi yang akan ku bawa mati, #kuingatkalimatini! “HUTANG EMAS DAPAT DIBAYAR. HUTANG BUDI DIBAWA MATI.”

Dan sangat berterima kasihku pada semua, atas segala kemudahan yang ku terima saat kita berinteraksi. Untuk segala kebaikan yang ku peroleh, walau kita tak saling kenal. Atas senyuman yang engkau layangkan dari kejauhan, saat ku dalam perjalanan. Sehingga menambah semangatku untuk melanjutkan langkah lagi. Karena ku yakin di depan sana, di jalan-jalan berikutnya yang akan ku tempuh, senyuman serupa sedang menantiku. Senyuman cerah, ceria, mensenyumkanku lagi. Senyuman yang ku damba sejak lama. Senyuman sahaja hamba-hamba-Nya di dunia.

Semoga senyuman yang engkau bagikan dalam pertemuan dengan siapa saja, menjadi saksi atas suasana hatimu juga kawan. Bahwa ia bahagia bersapa. Ia sentosa saat bersama. Ia lega saat bersua dengan bagian hatinya yang lain. Hati hati yang kemudian menyatu, karena mereka satu sejak mula. Maka karena berbeda jarak dan lain raga yang mereka tempati, membuat mereka selalu saling merindui untuk bersatu lagi… []

🙂🙂🙂

5 thoughts on “Ingat-ingat Lagi

  1. Hi!
    Thank you so much for subscribing to my blog! Where did you find my blog, may I ask? I always wonder what promotion techniques are working well for me. Thank you again and welcome!
    Janice

    Like

    1. Hi my new friend Janice, I found it from recommendations in Wp Reader. When reading I am enjoying your blog. then follow it happily.🙂

      You are welcome. And thank you very much for visiting us back.

      Best Regards,
      -My Surya-

      Liked by 2 people

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s