Buat mentari yang tak pernah henti berjuang.  Menebarkan sinar kebaikan pada seluruh alam.

Buat mentari yang memantauku dari kejauhan. Memberikan perhatian meski tidak kelihatan.

Buat mentari yang sering memberiku pesan dan nasihat. Menasihati melalui lisan meski terbata karena haru di jiwa.

Buat mentari yang senantiasa mendoakanku saat melangkah. Melangkah untuk meneruskan perjuangan.

Ayah, engkau mentari di hatiku.  

***

wahwahawhaw
Ayah, aku rindu…

Dear,

Ayahku…..

Tidak ku rasa sengatan mentari di kulitku hari ini. Kulit yang menerima sinar mentari langsung, karena ku ada di bawah terpaan sinarnya.

Tidak ku rasa sengatan mentari di kulitku hari ini. Karena ku tahu bahwa perjuanganku saat ini tidak seperti perjuanganmu dulu, Ayah.

Ya, ketika engkau rela berpanas-panas di sawah untuk mencari nafkah. Sedangkan aku, berpanas-panas di bawah sinar mentari seterik siang ini, karena ku sedang melangkah. Melangkah untuk mencari celah, supaya dapat mengintip dan memandang mentari lebih bebas. Supaya dapat memetik sepercik inspirasi dari sinar cemerlangnya.

Hanya melangkah. Bukan membanting tulang mencari nafkah, seperti yang engkau lakukan, dulu. Maka, bagaimana bisa ku berkata lelah? Kalau semua ini ku lakukan untuk mensenyumkan wajah ini lebih sumringah?

Ah. Tidak akan ku hiraukan, sekalipun aku lelah.

Selangkah demi selangkah ku masih mengayunkan kaki-kaki ini. Selangkah demi selangkah pula tanganku bergantian saling mengelap keringat di puncak hidung. Karena setitik demi setitik, keringat muncul dari sana. Maka mengelapnya lagi dan lagi, ku lakukan kini. Yah, sesekali di puncak hidung, sesekali di pelipis. Persis sama seperti yang dulu Ayah lakukan, ketika ku masih kecil.

Yap, teringat jelas dalam memori, ketika siang berteman terik mentari. Kita sedang duduk-duduk di bawah sebatang pohon di depan rumah. Ya, pohon rambutan yang rindang daunnya. Sedangkan angin bersemilir menyejukkan suasana sekitar kita. Namun tidak mengalahkan hangatnya mentari yang membuat keringat bermunculan di puncak hidungku. Ai! Mentari benar-benar berkuasa ya, Yah, ketika siang.

Ayah, kini ku sudah mulai beranjak dewasa dan dekat dengan saatnya menikah. Mohon doa dan restu Ayah, semoga di waktu yang tepat ada yang khitbah. Seorang jodoh terbaik pilihan Allah. Karena senantiasa dalam doa ku pinta kepada-Nya, untuk memilihkanku satu yang terbaik. Di antara hamba-hamba-Nya yang shaleh. Lalu, kami pun menikah dengan sumringah. Dan kemudian, membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah hingga jannah. Aamiin ya Allah.

Ya, sama persis seperti harapan Ayah. Seorang yang akan menggantikan peran Ayah bagi kehidupanku selanjutnya. Seorang yang tidak hanya tabah dengan kekuranganku, namun juga tidak berubah dengan kelebihanku. Namun kami dapat saling melengkapi, untuk terus memperbaiki diri. Agar kekurangan dan kelebihan masing-masing dapat saling kami lengkapi dengan kelebihan dan kekurangan yang lainnya.

Ayah, aku pun menjadi rindu padanya. Ia yang gagah jiwanya dan seperti Ayah kesabarannya.

Namun kini wahai Ayah, ketika semua masih belum terijabah. Aku semakin yakin dan percaya kepada Allah. Bahwa Dia masih memberiku kesempatan untuk berbenah. Berbenah dengan sepenuh hati. Untuk menjadi putri yang baik, berbakti dan membahagiakan Ibu dan Ayah, seperti citaku semenjak lama, wanita yang shalehah, calon istri yang menenangkan. Sehingga membuat nyaman dalam keluarga saat kami bersama, serta sebaik-baik muslimah yang beliau damba. Untuk mendampingi di dunia hingga ke surga, selamanya bersama.

Walau tentu semua tidak mudah, namun ku selalu bersangka baik kepada Allah. Maka, saat ini, masih ku berjuang untuk memenuhi semuanya, masih dalam rangka berbenah.

Wahai Ayah, hari ini sungguh cerah. Sangat cerah. Bahkan menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Iya, cerahnya bertambah saat aku menyimak kata demi kata yang Ayah pesankan. Ya, pesan yang Ayah sampaikan melalui nada suara. Suara khas milik Ayah. Suara laki-laki nan ramah. Suara yang hanya ku hayati benar-benar. Karena melalui nada suara Ayah, tersirat banyak pesan berharga. Walau hanya beberapa kata yang Ayah sampaikan. Akan tetapi Ayah, sangat dalam maknanya, sangat mengena di hati. Aku suka gaya Ayah. Seorang Ayah yang tidak banyak bicara, namun sekali berpesan, duhai mengesankan.

Begini Ayah berpesan, “Kita yang menjaga diri kita.”

Pesan yang singkat. Singkat sekali, bukan?

Iya, ketika penjagaan Ayah tidak sampai padaku, saat kita berjauhan raga seperti ini. Namun semenjak dulu Ayah sering memesankan tentang hal ini. Sehingga ingatanku lebih mudah mencari-cari Ayah, atas segala hal yang akan ku lakukan. Ku ingat lagi pesan Ayah, ingat lagi dan lagi. Termasuk ekspresi dan raut wajah Ayah. Semua pun mendekat, hingga ke relung hati.

Wahai engkau Ayah yang baik, semoga Allah semakin menyayangi Ayah. Meski dengan segala coba, namun engkau tetap tabah. Walau ujian datang silih berganti, engkau hadapi dengan istiqamah. Dan satu hal lain yang selalu ku ingat dari Ayah adalah, tentang kehangatan kasih sayang yang membentang indah. Engkau hamparkan kasih sayang buat keluarga, tanpa lelah. Meski ragamu lemah, namun semangatmu terus bertambah. Seperti tadi, saat kita bertukar suara. Terdengar jelas betapa engkau memiliki persediaan semangat melimpah untuk engkau bagi.

“Selamat Berjuang, ya Nak…! Doa Ayah menyertai langkah-langkahmu,” bisik Ayah.

Bisikan yang ku dengar dengan saksama. Bisikan meneduhkan, menenangkan, menyegarkan, sampai ke ruang hatiku.

Terima kasih Ayah, untuk segala segala lelah dan payah selama ini memperjuangkan nafkah terindah buat kami.  Terima kasih buat segalanya, semuanya. Semoga Allah memberkahi selalu, segala pengorbanan Ayah. Semoga rahmah Allah senantiasa menaungi Ayah, hingga jannah.

Dari,

Putri Kecil Ayah

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s