Tentang Engkau Tersenyum

Senyumanmu lebih meriah tadi malam. Senyuman yang engkau pamerkan pada seluruh alam. Senyuman anggun, menenangkan, meneduhkan. Senyuman yang membuatku nyaman menatap wajahmu berlama-lama. Senyuman khas pelita malam. Senyuman sahaja ketika malam. Senyuman terangi kelam. Senyuman yang mengagumkan. Aku menyukai senyumanmu, kawan. Senyuman nan cantik.

Aku duduk sendiri di tepi atap. Menatap padamu dari sini. Engkau yang muncul pelan-pelan dari balik awan. Dengan tenang, menepikan mereka perlahan.

Ai! Sungguh ingin ku membantumu kawan. Untuk turut menyibak awan malam supaya engkau cepat kelihatan. Namun urung ku lakukan. Karena aku mau menikmati penantian ini dengan tetap memperhatikanmu. Dengan cara ku menjaga tatapan agar tak sedetikpun berkedip. Ku perhatikan engkau sungguh-sungguh. Sampai akhirnya, senyumanmu pun tumbuh. Alangkah menyenangkan. Aku terkagum, terpesona saat menyaksikan senyumanmu yang sangat sempurna.

***

Aku usai melakukan aktivitas senja menjelang malam, ketika catatan ini ku rangkai. Setelah menerima sebuah pesan cantik dari seseorang di sana. Kaito namanya, sahabatku.

Kaito yang kurang enak badan seharian tadi, karena virus-yang menghinggapi raganya. Sehingga membuat Kaito kalah ‘sejenak’. Kekalahan yang membuat Kaito tidak dapat beraktivitas seperti hari-hari biasanya. Huuwwaaa, semoga engkau cepat sembuh, kawan. Aku sedih kalau dengar engkau sakit seperti ini.

"Liat dari halaman belakang rumah. Aq penasaran… Bangun dari kasur dan langsung ke halaman belakang. Masya Allah CANTIKNYA… Tapi sayangnya tidak bisa diabadikan dengan kamera biasa," curhat Kaito dari seberang sana.

Sedangkan aku mengangguk, mengiyakan. Karena saat ku arahkan kamera hape ke rembulan, terlihat cantiknya, namun keciiiiiil, sekali. Sehingga cahayanya yang cantik menjadi kurang sempurna. Namun, masih ingin menikmati cahaya rembulan lebih lama, ku duduk manis di atap lebih lama juga.

Kami, aku dan Kaito.
Walau lokasi kami berbeda.
Namun aktivitas kami sama.
Duduk di tengah kelam, menyaksikan senyuman rembulan.
Dan kami sangat menikmati moment seperti ini.

***

Seraya melirik rembulan, sesekali mataku mengarah ke lembar catatan. Untuk ku abadikan tentang malam kebersamaan kami yang indah.

Moon… Engkau cantik malam ini dan aku menyukaimu. Suka senyumanmu nan meneduhkan hati, membuatku ingin menatapmu lagi. Lagi dan lagi. Karena engkau merupakan ciptaan Ilahi yang mendominasi langit malam ini. Karena dari lokasi ku berada kini, bebintang tidak kelihatan. Apakah karena cahaya kemilaumu yang menerangi? Ahhh… memang iya, khan?

Buat bebintang yang belum kelihatan, ku yakin ia sedang melirik dari atas sana. Melirikku yang terdiam di tengah kelam, berteman nyamuk-nyamuk.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

3 thoughts on “Tentang Engkau Tersenyum

  1. indah senyummu seindah tulisanmu, terkadang saya iri terhadap tulisan karya orang lain yang menakjubkan, ingin rasanya meniru tapi sulit untuk tersampaikan. good jobs my friend.

    Like

    1. Widia sayang, semua orang meniru dan terus meniru. Kita juga harus begitu. Dan seiring waktu, kita menemukan bahwa diri kita tidak lagi sedang meniru. Tidak mudah memang, tapi yakinlah bahwa ini mungkin terjadi, kalau kita percaya ini mungkin. Lakukanlah dengan senang hati. Hehe… ^^

      “Intinya, menulislah dengan gaya kita sendiri, saat meniru karya orang lain yang kita sukai,” pesan sahabat yang ku ingat selalu saat akan merangkai tulisan.

      Semoga mencerahkan, Widia sayang… 🙂 🙂 🙂 Mari menebar senyuman melalui tulisan yang mensenyumkan.

      “Terima kasih yaa, atas pertemanan.”

      Like

      1. iya sama-sama, dan tidak henti-hentinya terimakasih untuk tulisannya yang terus menginspirasi

        Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close