Lembut tutur kata hadir melalui lisan muliamu. Lisan yang tertata saat bicara. Bicara yang meneduhkan jiwa melalui suara yang engkau nadakan. Adem. Tenang. Penuh makna. Begini kesan ku petik atas nasihat yang beliau sampaikan.

Seorang bapak yang sudah berusia. Beliau yang terlihat masih segar dan bugar. Pribadi nan sahaja dan berwibawa. Sosok panutan sepanjang usia. Beliau adalah teladan yang mengajarkan kami tentang tatakrama. Meski di usia yang sudah senja. Namun arti yang beliau punya, mampu menggugah jiwa muda kami. Agar mau memperhatikan lagi. Supaya berkenan untuk peduli lagi. Semoga hingga di hari nanti. Saat kami pun menua usia, namun jiwa senantiasa muda. Lalu kami pun masih mau berbagi. Ya, seperti yang beliau teladankan pada kami.

Lembut tutur berisi pesan, melalui lisan. Tenang paras menunjukkan pesan, melalui ekspresi. Sedangkan nada suara beliau, sungguh menenangkan hati.

Ai! Terus ku bertanya pada sekeliling, lagi. Pagi di sini. Masih sejak pagi. Ketika ada yang belum ku mengerti. Termasuk atas apapun yang ada di luar fikir ini. Apakah ini asli??

Bertanyaku lagi dan lagi. Hingga sebuah jawaban ku terima.

"Iya, di sini semua asli. Benar dan terjadi," bisik suara yang ku senyumi lagi. Senyuman berikut anggukan kepala tanda mengerti. Bahwa ku harus mempercayai. Atas semua yang ku hadapi. Karena ini bukan mimpi pagi. Apatah lagi mimpi di siang bolong. Sehingga dengan terus meyakinkan diri, aku mau melangkah lagi. Seraya menelusuri jalan hidup ini.

Bersama syukur dan sabar menemani diri.

Aku bersyukur, karena masih ada orang-orang baik yang menasihati saat ku salah. Memberiku kekuatan dengan aliran semangat saatku lemah. Membuatku bahagia lagi ketika ku gundah. Pun membersamaiku tersenyum lebih sumringah. Sehingga kehidupan yang ku jalani hari ke hari pun menjadi terasa lebih indah. Alhamdulillah…

Saat ada yang berbicara langsung pada kita dan kemudian menitip nasihat, maka tersenyumlah. Berbahagialah. Karena kita memperoleh perhatian dan kepedulian. Bersyukurlah, berterimakasihlah. Lalu petik hikmah demi hikmah. Sebagai oleh-oleh dari perjalanan saat nanti kita pulang ke rumah. Karena tidak semua orang lho, berbuah hal yang sama pada kita.

Maka terimalah nasihat dengan sepenuh hati. Petik nasihat yang mulia untuk selanjutnya kita bagi.

🙂🙂🙂

3 thoughts on “Melalui Lisan Muliamu

  1. anda memiliki cara bahasa yang bagus sehingga saya ingin berkenalan dan belajar bahasa dengan anda, penulisan anda yang indak membuat saya takjub dengan kemampuan anda, keinginan saya semoga saya bisa belajar dengan anda, saya senang bisa mengenal anda semoga kita bisa bekerjasama bolehkah saya mengirim tulisan anda di blog saya?

    Like

    1. Hallo Widiam,🙂

      Wah surprised mendapat apresiasi seperti ini, dan yakinlah bahwa Widiam juga bisa, karena karya-karya nya mengandung pesan dan hikmah yang terselip di dalamnya.

      Okeee, silakan Widiam dengan senang hati, dan mari kita berteman,🙂

      Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s