“Kebahagiaan yang sempurna ada saat kita mampu menjadi lebih bermanfaat dan lebih baik dari waktu ke waktu.”

***

Sengaja. Hari ini, aku berangkat ke tempat aktivitas lebih awal dari biasanya. Ya, tidak seperti jadual pada hari-hari sebelumnya. Termasuk jalur yang ku lewati. Karena aku melewati jalur yang tidak sama dengan hari kemarin dan kemarin lagi. Tujuannya apa?

Tujuanku adalah untuk menjemput bahagia yang sempurna, tentunya. Kebahagiaan yang pernah hilang dari kehidupanku. Kebahagiaan yang dini hari tadi mengabarkan padaku bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menemuiku (lagi). Dan pada saat mengirimkan kabar tersebut, ia dalam proses mendekat denganku. Maka, ku jemput ia di ujung jalan yang sudah ia tunjukkan padaku. Tempat yang memang tidak asing bagiku. Tempat yang memang untuk pertama kalinya ku kunjungi dulu, saat kami akan berpisah. Dan setelah saat itu, aku tidak pernah lagi berada di sana. Namun pagi ini, aku bersegera untuk cepat sampai di sana, sebelum kebahagiaan yang sempurna lebih dahulu sampai. Lalu, ku menanti kedatangannya dengan senyuman terbaik yang ku persiapkan.

Tidak sia-sia ku berangkat lebih awal. Tidak juga percuma kalau ku melewati jalan berbeda hari ini. Karena di sepanjang perjalanan, ku dapat menikmati pemandangan berbeda pula. Ya, karena ku menyediakan waktu untuk itu. Waktu untuk memperhatikan sekitar, seraya bersenandung di dalam hati. Karena sebentar lagi, kebahagiaan yang sempurna membersamaiku. Kami akan segera berdekatan. Kebahagiaan yang saat bersama dengannya, maka tiada lagi yang kurang dalam hidupku. Karena kebahagiaan yang sempurna, sudah menjadi bagian dari hidupku.

Ai! Alangkah indahnya, bersyukurku di dalam hati. Karena beberapa saat setelah ku sampai di  jalan yang kami sepakati, kebahagiaan pun mendekat. Ia memamerkan senyumannya yang berbinar. Dan senyuman itu tertuju padaku awal kami berpandangan. Kebahagiaan yang memberiku isyarat bahwa aku pun perlu melakukan hal serupa seperti yang ia lakukan. Maka, mengembanglah senyuman dari wajahku menjadi lebih berseri lagi. Senyuman yang kami bersamai untuk beberapa waktu lamanya. Sebelum kami bertukar bahasa dan berkomunikasi. Selanjutnya, kebahagiaan yang sempurna pun mengajakku untuk lebih mendekat padanya, saat ku masih terpesona berdiri, menatapnya tanpa kedipan mata. Masih, aku masih seakan berada di alam mimpi. Aku masih belum mempercayai, dengan semua yang ada di hadapanku. Saat ternyata, kebahagiaan yang sempurna, sudah bersamaku lagi dengan wajahnya yang berseri-seri.

Sepi. Masih sepi di jalan ini. Masih sunyi dari kebisingan suara kendaraan yang biasa melewati jalan ini. Sehingga suasananya sangat pas buat kami yang sedang bereuni. Suasana yang hampir mirip dengan dulu, ketika kami akan berpisah. Ya, di jalan ini, kami masih bersama. Untuk saling menceritai tentang keadaan kami masing-masing selama tidak bersama. Sehingga dari kebahagiaan yang sempurna, ku peroleh banyak pengalaman baru. Pengalaman yang ia kumpulkan saat tidak bersamaku. Sedangkan yang dapat ku bagikan padanya adalah kisah-kisah hidupku tanpanya. Suasana yang sangat berbeda dengan yang ia alami. Kisah yang tidak sama dengan yang ia ceritakan padaku. Ah, sungguh, aku sangat membutuhkan kebahagiaan yang sempurna, berada di dekatku seperti ini. Dengan demikian, hari-hariku menjadi semakin berseri-seri, wajah lebih sering menebarkan senyuman. Sedangkan hati dalam kondisi tenangnya selalu.

Sudah hampir lima belas menit kami bertemu, bersama, dan bertukar kisah. Sudah lima belas menit pula tidak ada kendaraan yang melewati jalan ini. Apakah karena mereka menyadari, bahwa kami tidak mau ada yang mengganggu. Apakah karena mereka sedang memberi kami sebuah kesempatan untuk kami optimalkan penggunaannya demi kebaikan kami ke depannya?

Kebahagiaan yang sempurna, masih asyik dengan senyumannya. Senyuman yang sejak pertama kali ia bawa menemuiku. Saat aku memperhatikannya, lagi. Kebahagiaan yang sempurna. Ah! Sungguh mudah baginya menebarkan senyuman seperti itu. Apakah karena ia terlalu sempurna dalam kebahagiaannya? Maunya, aku selalu bersamanya seperti ini. Kebersamaan yang memberiku jeda untuk sejenak melupakan ketidakbahagiaan yang menyelip dalam hariku. Kebersamaan yang sebelum ini pernah ku impikan menjadi bagian dari waktuku. Kebersamaan yang mensenyumkan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s