menatap-masa-depanSemua tentang . . . Semua tentang . . . Semua tentang … Semua tentang ini mengingatkanku pada seorang ; adik imut yang ku sayang. Beliau adalah Adik Imutimutimutimutttttssssss. Apakabarnya adik saat ini yaa?

Hai, adik imut yang baik hati, suka mengusili, namun aku tidak merasa terusili oleh beliau. Mengapa? Karena cara beliau berkomunikasi dan memperlakukanku, sangat unik, imut dan lucu. Seperti paras beliau yang imut dan membuatku sering tersenyum saat ingat beliau. Lalu, siapakah adik imut sesungguhnya?

Aku waktu kecil dulu, merupakan penyanyi cilik lho. Eh, penyanyi atau penari ya Dik imut yaa? -Dalam hal ini aku lupa lagi. Karena ingatanku tidak mudah berteman dengan diri, seringkali- Sehingga aku juga sempat mendapat surat dari penggemarku, lho Uni. Tambah adik imut menceritaiku tentang masa kecil beliau yang berseri. Sedangkan aku pun tersenyum seraya membayangkan bagaimana saat beliau menjadi penyanyi/penari cilik.

Dan berikutnya, adik imut juga menceritaiku tentang hal-hal menarik yang membuat kami akhirnya menjadi dekat, mendekat, akrab. Hingga tibalah saatnya, raga kami pun berjarak tidak lagi sejarak satu kubikel. Karena kini, adik imut ada di sana, jauh di mata. Sedangkan aku di sini, dekat di pikiranku, ada adik imut.

Semoga, saat ini beliau pun sedang mengingatku. Karena saat ini, aku ingat beliau. Sebab ku sering membuktikan bahwa saat kita ingat pada seseorang atau sesuatu, maka saat yang sama kita juga sedang diingat oleh seseorang atau sesuatu itu. Apapun, siapapun. Apakah engkau juga mempunyai kisah tentang hal ini, kawan? Tentang ingatan yang saling bertemu.

Saat ingatan saling bertemu, maka selalu ada jalan untuk melangkah. Agar pertemuan tidak hanya dalam ingatan. Namun kita usaha dengan pergerakan, agar raga pun bertemuan. Termasuk perasaan yang saling mendekat, kemudian. Sehingga terciptalah tujuan. Tujuan yang kita ingin capai, dengan jalan-jalan yang kita tempuh. Begitu.

Sejak saat ini, pagi-pagi sekali. Aku kembali teringatkan oleh dua buah kata, ‘Tujuan Hidup’. Ya, tujuan hidup yang konon menjadi alasan mengapa kita masih mau bergerak hari ini. Tujuan hidup yang memberi kita kesempatan untuk meneruskan perjuangan meski dalam kelelahan. Tujuan hidup yang menyemangati kita agar mau melangkah lagi, sebelum sampai padanya. Tujuan hidup yang bersamanya, kita semakin bertumbuh dan bertambah semangat lagi untuk menjalani hidup hari ini. Dan tujuan hidup pula yang membuat orang sakit berharap segera sembuh. Agar ia dapat melanjutkan perjuangannya, demi mencapai tujuan hidup. Begitu pula dengan nenek-nenek yang masih mau berusaha, bekerja, walau tidak lagi menjadi kewajibannya mencari nafkah. Karena tujuan hiduplah yang membuat beliau begitu. Beliau tahu, tujuan hidup yang beliau miliki.

Saat kita memperhatikan. Ketika kita mau mengambil pelajaran. Sesungguhnya banyak hal di sekeliling kita yang dapat menjadi bahan pelajaran. Kalau kita mau belajar lagi. Belajar menemukan tujuan hidup, kalau kita belum memilikinya. Karena selain kita, nun di luar sana, semua orang hidup dengan tujuannya. Lalu, apakah tujuan hidupmu, teman?

Tujuan hidup yang membuat ku datang lagi ke sini, meski untuk menitipkan sebuah titik. Tujuan hidup yang memberiku motivasi lagi agar mau melangkah di dunia nyata untuk menemukan inspirasi. Agar selanjutnya ku dapat berbagi di sini, tentang dunia yang ku dekati, di sini. Tujuan hidup pula yang memberiku semangat lagi, agar pagi-pagi segera bangkiiiit dan bergerak. Walau dingin dan sejuknya alam masih memayungi. Tujuan hidup pula yang membuatku mau berela-rela memperhatikan langit dan menengadahkan wajah hampir setiap hari dalam waktu-waktu tertentu. Supaya ku dapat bercermin dan berkaca lagi, pada mentari. Tujuan hidup pula yang mengajakku untuk mau meneruskan perjalanan, meski ke daerah yang belum pernah ku kunjungi. Karena ku yakin, di sana, di lokasi yang akan ku kunjungi, ada banyak hikmah dan bahan pelajaran untuk ku petiki sepulangnya nanti. Tujuan hidup pula yang memberiku jeda agar mau tenang sebentar lagi, saat ku ingin bergegas dan tergesa. Karena katanya, “Pikirkan lagi, hayo, pikirkan lagi.”

Begitulah, dengan tujuan hidup yang mulai ku teliti semenjak beberapa tahun terakhir, hingga saat ini kami masih bersama. Tujuan hidup yang memberiku banyak kesempatan untuk ku jalani dengan sepenuh hati. Tujuan hidup yang saat mengingatinya, membuatku ingin sering-sering mensenyumi hari ini. Karena akhirnya, hidupku hari ini memang seperti mimpi. Mimpi yang menjadi nyata, begini ku sering menggumami. Sebab, sememangnya begitu. Semua terjadi, begitu saja. Semua ku alami, seadanya. Semua ada untuk memberiku nada-nada terbaik untuk ku nikmati. Semoga, kelak di hari nanti, saat mimpi-mimpi ini berakhir, aku masih mau ingat. Bahwa kami pernah bersama saat ini. Walau sebentar, meski tidak selamanya.

Hari ini, masih seakan mimpi. Ya, seperti mimpi yang terus ku lanjutkan lagi, meski ku telah terjaga dari lelapku. Mimpi yang masih menari-nari dalam ingatanku, untuk ku jalani lagi. Mimpi yang menjadi nyata, dan saat ini kami sedang melangkah bersama. Mimpi yang mengajakku berlari, terkadang. Agar kami sama-sama dapat memperhatikan keajaiban di luar sana. Mimpi yang sering menarik-narikku agar ikut dengannya (lagi). Ketika aku bilang tidak sudi berangkat. Mimpi yang memberiku banyak janji-janji untuk ia tepati, kalau aku bersedia serta dan menjadi bagian dari dirinya. Mimpi yang tidak hanya mimpi semata, namun ia nyata.

Dan sepagi tadi, untuk melanjutkan mimpi yang terputus semalam, aku bangkit lagi. Bergerak, melangkah, mengingat beliau-beliau yang berarti. Termasuk adik imut yang sempat memesankanku begini, sebelum kami berpisah raga tak lagi sedepa, “See you on the top.”  Seketika itu juga, aku teringat mimpi-mimpiku. Aku menjadi terbangun, dan kemudian mempercayai kenyataan. Bahwa kami sudah harus berpisah. Dan ternyata, kebersamaan kami hanya jalan. Selanjutnya kami perlu menempuh jalan berikutnya, untuk mencapai tujuan hidup masing-masing, di jalan berbeda. Dan walau saat ini kami tidak bersama lagi, namun ku masih ingin selalu berada bersama beliau, untuk menemani dik imut.  Kami sangat dekat, sedekat ketika kami berada di antara kubikel oren, dulu. Kami tetap bersama saling mengingat dan ‘mungkin’ juga mengusili, karena kami saling memahami. Dan kini, tujuanku di sini adalah untuk mewujudkan tujuan hidupku.

Untuk berada di depanmu, bersenyuman, meski kita tidak bertatap mata. Untuk terus ada di hatimu, sekalipun kita tidak pernah berjumpa. Untuk sering menyapamu, sekalipun tanpa suara. Untuk menjadi bagian dari kebahagiaanmu, karena kita pernah bersama, walau dalam susunan kata. Dan untuk terus engkau ingat, sekalipun aku telah tiada.

🙂🙂🙂

 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s