“Learning by doing. Memperhatikan dan meniru. Salah? Belajar lagi. Gagal? Coba lagi. Jatuh? Bangkit lagi.”

***

Saat ini, aku ingin membahas tentang memasak.

Ada apa dengan memasak?

Memasak sangat penting dalam kehidupan ini. Memasak yang merupakan sebuah aktivitas menyenangkan, kalau kita melakukannya sepenuh hati. Memasak yang juga bisa menjadi hobi, kalau kita menekuni dalam hari-hari. Memasak yang bisa membahagiakan suami, bagi seorang istri. Memasak yang menjadi jalan berseri-serinya sebuah keluarga, karena masakan ibu enak sekali. Memasak yang menjadi jalan bahagianya istri, karena suatu hari suami memasakkan makanan kesukaan istri. Memasak yang setiap hari, orang-orang tertentu melakukannya.

Siapakah yang memasak?

  1. Akuuuuu…

Yah, aku juga memasak. Entah memasak apalah, yaa. Intinya, aku pernah berteman dengan peralatan seperti kompor, panci, pisau dan talenan, segala pernak pernik perbumbuan, termasuk menggiling cabe yang berwarna merah ituuch.

Hay, ternyata aku juga bisa memasak. Walaupun memasak goreng-gorengan, seperti tempe, ikan teri, telur mata sapi, dan kerupuk berbentuk uang receh. Selain itu, juga ada yang bisa ku masak lagi, seperti sayur-sayuran dan membuat agar. Termasuk juga mengolah kacang hijau menjadi sarapan pagi yang “enak ~ yummy”, kata Kak Esty setelah mencicipi.  Selanjutnya, bersih-bersih peralatan masak, ini pun acap kali aku tekuni. Tentu saja setelah aktivitas memasak selesai, atau di sela-sela menanti masakan jadi.

Wah! Seruuu sekali, aktivitas ini. Karena setelah memasak, tentu kita dapat menikmati menu yang sudah jadi, iya kaann? Inilah kebahagiaan yang ku alami. Kebahagiaan hati.

  1. Engkauuuuu…

Engkau juga bisa memasak, bukan? Terlepas dari sebagai seorang perempuan atau pun laki-laki. Maka aktivitas memasak ini bisa dilakukan oleh kita semua. Tentu saja kalau kita mau, maka kita bisa. Bisa karena kita biasa. Dan biasa memasak, tentu menjadikan kita ahli dalam permasakan. Seperti chef Onna yang sering ku asisteni saat kami sama-sama di rumah. Maka, sering ku kagumi, chef yang satu ini. Karena dari bahan-bahan yang ada, chef Onna sudah bisa menciptakan menu yang yummy dan semua keluarga sukai. Sungguh, beliau adalah istri kreatif yang ku kenali. Sehingga kakak perempuanku yang satu ini, menjadi guruku dalam memasak.

  1. Kitaaaaaa….

Saat berada di dalam sebuah lingkungan dengan banyak anggota keluarga atau tinggal bersama teman-teman di lain kota untuk belajar hidup mandiri, maka memasak dapat menjadi penghilang jenuh dan sekaligus arena berlatih diri. Karena memasak sebenarnya tidak repot-repot amat, ternyata. Cukup sediakan daftar menu yang akan kita kreasi, bahan-bahan yang kita butuhkan, dan peralatannya. Serta, luangkan waktu yang kita punyai dalam sehari. Lalu, tersenyumlah menjalani proses mengolah bahan-bahan tadi. Karena beberapa waktu kemudian, masakan pun jadi.

Masak Apaaaaaan…..?

Masaklah apa saja. Bikinlah, masakan yang kita sukai, engkau sukai, dan semua suka. Supaya masakan pun senang, karena kita menikmatinya. Nah, tentang rasanya? Tentu sesuai selera. Boleh pedas, asin, gurih, atau manis. Dalam hal ini, aku suka masakan pedas ‘sedikit aja’, ‘asin juga sedikit’, dan gurih serta manis, sedikit juga. Karena aku tidak suka makanan terlalu pedas. Sebab kulit lidahku sangat sensitif, dan mudah sekali perih kalau menyantap makanan terlalu pedas.

Kapan memasaakk…..?

Waktu memasak boleh kapan saja, bisa disesuaikan. Boleh pagi hari, siang atau sore hari. Bahkan malam hari juga boleh masak-masak, kalau kita mau masak lagi. Dan yang engga boleh adalah masak dalam nuansa gelap karena mati lampu. Karena masakan bisa hangus dan ‘rugi’ kan jadinya?  Ingat Dik Nisa yang engga mau makan kalau gelap. Katanya enga tahu beda mana lauk dan juga nasi.  :D  “Awalnya aku ga ngerti, namun iya juga sih,” setelah ku pikir-pikir.

Bahan-bahan beli di manaaaaaa…?

Sebelum memasak, kalau tidak tersedia bahan-bahan untuk kita masak, maka terlebih dahulu kita perlu menyediakan bahan yang akan kita masak.  Nah, kemarin aku memasak (lagi). Namun sebelumnya, belanja dulu di pasar tradisional. Pasar yang menjual segala kebutuhan dapur. Pasar yang banyak orang di dalamnya. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, dan sangat jarang terlihat ada anak-anak.

Mengapa harus ke pasar tradisional?

Karena aku ada tujuan lain, selain berbelanja. Yaitu menemukan inspirasi dan membaca keadaan. Memperhatikan sekeliling dan kemudian memetik hikmah yang berserakan. Untuk ku kumpulkan dan kemudian membawanya sebagai oleh-oleh dari perjalanan.

Setelah masuk ke pasar tradisional, maka aku pun melihat-lihat. Aku memperhatikan terlebih dahulu, apa saja yang orang jual di pasar. Termasuk memperhatikan cara ibu-ibu berbelanja. Lalu ku tiru, dan ku praktikkan pula.

Wah, ternyata belanja di pasar tidak mudah, yaa. Apalagi yang berkaitan dengan belanja keperluan untuk kita masak. Karena kita perlu lebih selektif, dan memperhatikan baik-baik. Agar yang kita beli adalah yang terbaik.

Seperti: saat belanja cabe merah, maka ku perhatikan seorang ibu yang tidak mau bawa cabe yang rusak. Maka, beliau mau memilih cabe-cabe yang cantik saja, untuk selanjutnya akan masuk ke timbangan. Begitu juga yang ku lakukan. Aku memperhatikan, meniru, lalu menjadilah aku seperti ibu-ibu yang belanja tadi.  Meski dengan harga yang sedikit lebih mahal (karena bisa memilih), namun rasanya bahagia, karena kita membeli sesuai kebutuhan.

Dan yang paling mengesankan bagiku, selama berbelanja di pasar tradisional adalah … nuansanya. Yap, dari wajah-wajah mereka, para penjual, terpancar semangat dan kebahagiaan. Di sana, membentang keceriaan yang mensenyumkan. Walau terkadang, ada beberapa penjual yang kurang bahagia, namun tertutupi oleh lebih banyak kebahagiaan pada wajah lainnya. Mengapa mereka bahagia? Karena pembeli berdatangan untuk memborong jualan mereka.

Nah, begitu juga dengan kegiatan memasak. Saat kita memasak, maka terpancar kebahagiaan pada wajah kita, karena akan ada yang menikmati menu yang kita masak. Ya, mereka adalah anggota keluarga kita. Ah, sungguh sederhana yaa, cara untuk berbahagia. Maka, mari kita membahagiakan beliau yang sudah memasak untuk kita, dengan cara terbaik yang kita bisa. Agar semakin banyak kebahagiaan menebar di bumi ini.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s