Melihat sekeliling alam. Terlihat pemandangan menawan. Ooo… Sungguh menakjubkan! #secercahsyukur

***

Akhir-akhir ini. Di hari-hari tidak sibuk dengan rutinitas, maka aku pun melangkah ke lantai paling atas. Tepatnya di lokasi penjemuran pakaian. Ya, biasanya selepas mencuci pakaian, aku berlama-lama di sini. Untuk memperhatikan sekeliling, seraya duduk manis di atap. Atap yang kemiringannya sekitar empat puluh lima derajat ini, sempat membuatku gentar untuk bertengger di atasnya. Awalnya memang begitu. Namun dalam waktu belakangan, aku menjadi terbiasa mendekatinya. Lalu, merayap untuk dapat sampai di puncak atap. Dan selanjutnya apa yang terjadi?

Yach, teriak-teriak sendiri, terkagum, terpesona, tertakjub, dan juga tersenyum, tentunya. Senyumi angin yang bersemilir menyapu wajah tirusku. Senyumi awan yang melambai-lambai dari kejauhan. Senyumi pesawat yang sesekali melintas, menderu, meninggalkan harapan di hatiku, untuk berada di dalam gembul perutnya. Senyumi tepi langit yang sering berhiaskan mentari. Ketika pagi, ia ada di sisi Timur. Sedangkan saat sore, ia tersenyum dari sisi langit Barat.

Sore, saat ini. Ketika ku baru kembali dari aktivitas di luar rumah. Sejenak setelah sampai, aku dan beberapa orang teman, pun beralih ke lantai paling atas. Selanjutnya bincang-bincang seraya menikmati angin sore yang sejuk.

Menjelang Maghrib, sebelum adzan berkumandang dari masjid-masjid terdekat. Beberapa puluh menit sebelum mentari benar-benar menghilang dari pandangan. Sebelum rintik hujan turun ke bumi. Saat suasana alam masih terang dan cemerlang. Saat itulah kami kembali menyaksikan suasana alam. Sambil merenungkan pemandangan yang ada di sekeliling. Seraya mensyukuri kesempatan menghirup udara segar hari ini. Serta bertukar kisah, cerita dan saling mencurahkan isi hati. Termasuk tentang kegiatan seharian tadi, di tempat aktivitas masing-masing.

Adalah kami, aku dan mereka, teman-teman di sini. Meski terpaut usia yang lumayan jauh, namun tidak mengurangi eksistensiku sebagai bagian dari cerita-cerita mereka. Karena sama seperti sebelumnya, ku senang menyimak curhatan teman-teman (adik-adik) ku di sini. Baik seputar perkuliahan, pergaulan dan pertemanan, maupun saat ada yang dari hati ke hati, berbagi perasaan. Ahaaaa… serasa menjadi psikolog dech, jadinya. Saat mereka memintaku memberi solusi atau pendapat tentang keadaan yang mereka alami. Karena hampir dalam berbagai kesempatan berbagi suara hati, topik yang mereka sampaikan adalah terkait perasaan.

Mereka teman-teman (adik-adik) ku mau bercerita, karena mereka ingin berbagi apa yang mereka rasakan. Sedangkan aku sebagai  penyimak, dan pendengar yang baik, ingin membahagiakan mereka dengan caraku. Maka, saat kami sama-sama mempunyai tujuan dalam melakukan suatu hal, terciptalah sebentuk komunikasi. Komunikasi yang menjadi jalan sampainya informasi dari penyampai informasi pada penerima informasi. Dalam hal ini, aku adalah penerima informasi, karena aku menyimak. Sedangkan teman-teman (adik-adik) ku adalah penyampai informasi yang mereka punya. So, semakin indahlah pemandangan sore yang sudah sangat indah ini, dengan adanya komunikasi antara kami. Sehingga waktu yang kami habiskan bersama, pun menjadi semakin berkesan pula. Alhamdulillah…

***

Dalam kesempatan ku menuju lantai paling atas hanya sendiri, maka ku sering menatap langit. Dari atas atap, sambil duduk manis, lamaaaaaa sekali mataku tertuju ke atas sana. Bukan bengong, namun menghitung tumpukan awan yang bergerak pelan. Lalu mereka menyatu dengan sesamanya, membentuk kumpulan awan yang lebih lebar lagi. Atau, mengiringi perjalanan pesawat dengan tatapan dua mata ini, hingga ia benar-benar menghilang dari tatapan. Untuk selanjutnya, ku kucek mata pelan, untuk meyakinkan diri, bahwa ini kenyataan. Aku tidak sedang bermimpi, namun ini benar-benar terjadi. Aku sedang berada di bawah langit sebagai atap. Sedangkan atap sebagai tempatku berpijak. Ai!  #mungkindulukupernahmemikirkantentanghalini?entahlah!

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s