Tetiba hari ini aku rindu ‘pulang’. Ya, ku rindu menatap wajah penuh senyuman ibunda. Memandang binar bola mata beliau yang berkerling memancarkan kehangatan. Menyentuh lembut kulit beliau yang mendamaikan, menenangkan, dan memberiku kesejukkan. Menyimak nasihat-nasihat dan pesan beliau, langsung. Seraya bersenyuman, kami bertukar kisah dan pengalaman. Lalu, tertawa bersama untuk mengendalikan keadaan dan mencairkan suasana. Karena sering, dalam percakapan kami, ujung-ujungnya menjurus pada keseriusan. Namun urung, karena kami kembali menenangkan diri. Untuk fokus pada solusi, yang dapat kami lakukan.

Ibunda, beliau selalu begitu. Beliau tidak mau membuatku sedih, apalagi susah. Sering, beliau mencari cara agar ku gembira menjalani waktu. Bahkan tak jarang, beliau yang mengalami kesedihan ataupun kehilangan, demi membuatku bahagia. Maka saat kami berjauhan begini, aku sering tersentuh. Saat ingatan pada ibunda memenuhi ruang ingatan.

“Semua demi kebaikanmu, Nak… Ibunda hanya menyarankan. Sedangkan yang menjalani adalah engkau,” begini beliau menyampaikan padaku. Dalam berbagai kesempatan kami berbicara masalah serius dan tentang masa depan. Lalu, ujung-ujungnya, aku sering menurut pada beliau. Sehingga untuk sebuah keputusan penting, ku percayakan pada beliau.

Beliau adalah orang tuaku. Ibu yang melahirkanku. Ibu yang menjagaku semenjak kecil. Ibu yang mengasuhku dengan perhatian melimpah. Ibu yang tidak pernah sekalipun mencubitku, sehingga membuatku sakit. Ibu yang dengan berbagai upaya semampu beliau, berjuang untuk memberikan yang terbaik untukku. Ibu yang tidak rela kalau aku terluka. Ibu yang memberikan pengobatan padaku, sebelum aku mengalami sakit. Ibu yang memberikan upaya pencegahan padaku, agar ku selamat dalam perjalanan hidup ini. Supaya berhati-hati dalam pergaulan, dan baik dengan teman. Aku ingat pesan beliau, semenjak kecil dulu.

Dan hingga saat ini, ketika ku berjarak raga dengan beliau, rindu sering menyapaku. Aku rindu segala yang beliau sampaikan padaku, lagi. Baik berupa nasihat dan pesan-pesan tentang kehidupan. Maupun segala kebutuhanku yang beliau penuhi dengan penuh pengorbanan. Aku rindu beliau, sungguh mendalam.

Hari ini, tepat saat mentari mulai meninggi. Di waktu sinarnya mulai menghangat. Saat senyuman teduh mentari pagi tadi mulai berkurang dan berganti dengan hangat yang akan semakin menyengat beberapa waktu lagi. Pada saat ini, aku merindukan beliau. Ibunda yang jauh di mata. Beliau yang mengulurkan doa padaku tidak berkesudahan. Beliau yang mengharapkan banyak kebaikan bagiku. Beliau yang tidak berjeda mengingatku dalam doa-doa beliau. Beliau yang ku ingat dalam waktu-waktuku melanjutkan perjalanan. Ingatan pada beliau yang menjadi penyemangatku. Sehingga saat ku lelah, tetiba semangat kembali menggugahku untuk bangkit lagi. Lalu aku pun meneruskan perjalanan, meski sempat terhuyung, sempoyongan. Namun hanya sekejap, kawan. Setelah itu, segar dan bugarku lagi, karena ku yakin, beliau senantiasa menemani ku dalam perjuangan.

Perjuanganku dibandingkan perjuangan beliau, bukan apa-apa. Sehingga mengingat pengorbanan dan perjuangan beliau, membuatku kembali tegar atas segala cobaan, godaan, terpaan, maupun badai kehidupan. Dengan keyakinan, ku mantabkan hati untuk terus berjalan. Sebab, “Doa ibu menyertaimu selalu, Nak…,” bisik beliau di ujung sana, dalam berbagai kesempatan kami bertukar suara.

“Terima kasih ibu, atas segalanya. Belum dapat ku balas jasa-jasa dan pengorbanan ibu, semuanya. Walau begitu, semampu yang ku daya, aku masih berjuang untuk menjadi jalan bahagianya ibu. Karena bahagiamu ibu, adalah senyumanku. Senyumanku, adalah demi kebahagiaan ibu. Ku bersyukur, mempunyai ibu yang dengan adanya engkau. Karena engkau tidak akan pernah terganti. Engkau adalah mentari dalam hari iniku, di sini. Meski dari kejauhan, ku pandangi ia selalu. Karena mentari mengajarkanku tersenyum, semenjak awal hari. Seperti halnya engkau, ibu. Yang meneladankanku untuk mensenyumi hari dan memetik hikmah dari apa yang terjadi.”

Hari ini, jauh di sini, kini. Aku merindumu ibu, rinduuuuuuuu sekali. Semoga ibu sehat selalu, bahagia, gembira, tersenyum ceria. Seperti mentari yang bersinar cemerlang saat ini.


Maka, bila ada yang mengingatkanku tentangmu, ibu, terbitlah senyuman di wajahku. Saat ku tahu, ingatan itu membuat engkau bahagia. Namun bila sebaliknya, aku akan terharu dan menitik airmataku pelan-pelan.

🙂🙂🙂

 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s