Tenang… tenang… hujan belum turun, kawan. Hanya mendung menggelayut langit. Maka, tersenyumlah…

***

Ada satu alasan, mengapa orang marah. Karena ia merasa benar, dan tidak peduli apakah betul-betul dalam kebenaran. Maka, saat ia merasa benar itulah, kesalahan orang lain terlihat jelas. Sedikit kekeliruan dan khilaf orang, tampak terang. Dan selanjutnya, ia pun lebih mudah mengalirkan emosi yang tidak tertahankan. Lalu, marah.

Marah. Aku sudah berulang kali mengungkapkan. Bahwa aku sangat tidak senang berhadapan dengan orang yang sedang marah. Apalagi kalau ada yang sedang marah di depanku. Karena aku sungguh tidak tega dengan kondisi yang si marah alami. Ya, bagaimana tidak, kawan?

Engkau dapat memperhatikan sendiri, bagaimana ekspresi orang yang sedang marah. Ah, sungguh tidak cantik lagi, bila perempuan sedang marah. Sedangkan laki-laki, walau setampan apapun rupanya, kalau marah menjadi tak keren lagi. Percuma.

***

Saat ini, mendung. Ya, masih mendung. Karena hujan belum turun menderas ke bumi. Begitu pula dengan suasana hatiku. Suasana hati ketika ada yang marah di dekatku. Memang bukan aku yang mendapat perlakuan marah. Akan tetapi, sedih rasanya, melihat kemarahan ada di sekitarku. Sungguh perih di dalam hati, dan rasanya mau menangis, saat itu juga. Namun belum, belum kawan. Karena masih mendung di sini.

Pelupuk mataku mulai berat. Sejenak setelah suara tinggi terdengar oleh indera pendengaran ini. Sedangkan hatiku menjadi tidak menentu. Ia yang sungguh perasa, menjadi semakin sensitif. Ada apa dengan kemarahan?

Sehingga ku berpikir, “Apakah tidak ada cara lain untuk mengungkapkan kemarahan, selain bersuara tinggi? Yang efek berikutnya adalah membuat wajah orang yang sedang marah tersebut berekspresi tak jelas? Terlihat ga rapi aja susunan wajahnya. Kusut. Mengkerut. Tanpa kebahagiaan. Ai! Emang ada orang marah yang bahagia?”

***

Sejauh perjalanan yang ku tempuh di dalam menjalani hidup ini, beberapa kali saja aku menerima suara tinggi yang tertuju padaku. Itu pun dulu. Duluuuuuuu sekali. Saat aku masih belum mengerti, tentang ekspresi yang ku terima tersebut. Dan setelah ku selami hingga ke dasar hati, ternyata aku dimarahi. Hihiiii.😀 Geli bila mengingati. Karena tetiba airmata sudah menetes di pipiku, dan aku pun sesenggukan. Lalu dalam waktu yang lama, tak henti tersedu, karena suara tinggi itu menyentuh hatiku. Aku pilu. Aku sendu. Huhuhuhuuu. Itu dulu. Duluuuu sekali. Apakah karena aku tidak pernah siap dengan ekspresi tersebut? Ekspresi yang ketika itu baru bagiku, sehingga sangat asing bagiku.

Yah, seperti bom atom menimpa hatiku. Hati yang langsung hancur berkeping-keping. Rusak. Terbelah, berderai. Lalu, kemudian-kemudian hari, ku tata hatiku yang luka karena serpihan atom tadi. Ku rawat hati dengan telaten. Ku perhatikan kondisi terakhirnya, lebih sering. Seraya membalut sisa-sisa luka yang masih bisa ku obati, aku mengajaknya bicara. Ia yang tidak dapat ku sentuh, namun menjadi sangat mudah tersentuh oleh perlakukan asing baginya. Begitu kesanku tentang ekspresi ‘marah’. Ia bisa melukai hati seseorang. Dan hatiku pernah terluka.

Selebihnya, ku menerima perlakuan lembut dan penuh kesopanan dari sesiapa saja yang ku temui. Perlakuan yang ku sukai, sehingga aku belajar untuk berlemah lembut. Apakah karena aku pernah merasakan terlukai? Sehingga tidak mau melukai?

Sejauh ini, ku tidak habis pikir. Dan selanjutnya akan sering memikirkan, tentang ekspresi yang unik ini. Ya, tentang marah. Marah yang tidak terkendali, dan membuat orang yang sedang marah menjadi tidak seperti dirinya lagi. Ia menjadi sangat berbeda, sehingga tidak mudah dikenali. Lalu  kita pun bertanya, “Apakah ini asli? Ia sedang menunjukkan sisi lain dirinya? Atau hanya berkomedi? Menakuti? Ah, apapun lah, yang pasti, suara dengan nada tinggi tidak enak terdengar, kawan. Maka, sedapat mungkin saat engkau marah, duduklah. Bila engkau sedang berdiri. Atau berbaringlah, bila engkau sedang duduk.”

Aku pun tidak mengerti, dengan ekspresi yang satu ini. Sehingga ku ingin mempelajari lebih dalam lagi. Tentang satu kata yang hanya terdiri dari lima huruf saja, dan itupun tersusun dari 4 huruf berbeda. M-A-R-A-H mu demi apa?

Apakah engkau marah, karena ingin orang lain menghargai? Aku tidak terlalu yakin, penghargaan ini engkau peroleh. Atau, engkau marah untuk membuktikan bahwa engkau lebih benar dari orang yang engkau marahi? Lagi dan lagi, engkau belum tentu lebih benar. Dan engkau merasa lebih baik dengan marah? Hmmmm… Bisa jadi. Namun ingatlah bahwa mereka yang engkau marahi, akan terluka hatinya. Walau tidak terlihat, namun siapa yang tahu suara hati? Hati yang berkata namun tidak tersuarakan. Tegakah engkau?

Hayoooo, kawan. Tenangkan hati, sabarkan diri. Ingat, ekspresimu saat marah itu tidak menarik, lho… Mari tersenyum, mensenyumi keadaan. Mensenyumi kenyataan. Semoga, engkau menjadi lebih baik bersamanya. Merasa lebih baik, dan semoga kebaikan senantiasa menyertaimu, kapanpun, di manapun.

Note untuk pengingat diri :

  • Jangan memarahi orang lain di depan orang lain atau di tengah keramaian, ini tidak sopan. Ya, bagaimana kalau engkau yang memperoleh perlakuan serupa?
  • Hargailah orang lain, jika engkau ingin orang lain menghargaimu.
  • Meski tidak selalu yang engkau lakukan benar di mata orang lain, namun tetaplah berusaha melakukan dengan benar dan terbaik, semampumu.
  • Jika engkau ingin marah, ingatlah bahwa engkau pun tidak selalu benar
  • Haai, tersenyumlah… meski hatimu bermendung🙂🙂🙂

2 thoughts on “Cloudy

    1. Iyaaa, Teh Ririn, yaaa…😉 Senangnya kita berhadapan dengan wajah-wajah damai, yaa. Mereka yang mampu mengendalikan diri, meski sedang marah.

      “Karena orang marah -belum berdamai dengan dirinya sendiri- maka ia perlihatkan dengan ekspresi marahnya.”

      ***Wah, senang dapat kunjungan langsung dari Bandung,.. selamat datang teh Ririn, silakan duduk dan menikmati suasana di sini dan salam kenal yaa. ^^

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s