Hai teman, ku lihat matamu sipit pagi ini. Adakah karena tidurmu terlalu nyenyak semalam? Atau karena berjaga terlalu lama? A-hhaaaa… atau engkau habis menangis?

***

Sepagian ini. Selepas subuh. Setelah kelar aktivitas pagi. Menjelang beberapa aktivitas berikutnya. Dan tentu saja untuk mengintip senyuman pertamamu. Setelah engkau terjaga. Sebelum seluruh alam benar-benar bangun. Aku bergegas.

Berlariku dengan gesit. Bergerak melangkah naik. Melalui beberapa anak tangga. Menuju rooftop. Yeah! Ku lakukan aktivitas ini, lagi. Pagi ini. Di tempat biasa kita bersapa ketika awal hari bermula. Saat semesta belum terlalu riuh oleh sesuara. Kecuali cericit burung gereja menghiasi hening. Agar tak benar-benar sunyi.

Di sini, ku berada kini. Di tempat biasa ku bersembunyi. Bersembunyi untuk mengintipmu. Karena dari sini dapat ku lihat jelas sosok sahajamu, mentariku.

Hai, mentari pagi. Apakabarmu pagi ini? Walau mata sipitmu sempat tertangkap oleh dua mata ini, semoga engkau tetap eksis hari ini yaa. Ya, ya, tidak usah malu. Karena ku mengerti dirimu. Engkau menangis semalam, yaaa… ?? Hahaaa.😀

Aku terkadang memang begini. Suka iseng menertawaimu. Karena ku pikir ini adalah hiburan bagiku. Menertawaimu yang ku rindu selalu.

Jauh…
Jauuuuh…
Jauuuuuuuuuuuhhhhhh…. kini dirimu dariku. Meski begitu, aku selalu merindumu. Karena engkau dekat di hatiku. Sangat dekat. Terlebih saat ku asyik dengan waktuku memikirkanmu. Makaaaa ketika itu berderai sudah airmataku. Airmata yang tidak ku tahu, tetiba sudah membanjiri lembaran pipiku. Hangat.

Sehangat senyumanmu yang mengembang saat menyinari alam. Sehangat bakti yang engkau buktikan pada semesta. Begitu yang ku rasakan, ketika airmataku mengalir, menderas, untuk menunjukkan bahwa ia ada. Ya, ia ada untuk mewakili rasaku. Dan seperti sipit matamu pagi ini, begitu pula dengan mataku. Huhuuuu… Sebab akhir-akhir ini ku menjadi mudah menangis, saat ingat padamu. Karena aku rindu. Engkau mentari di hatiku. Maafkan aku, yaa… yang belum begitu tegar menyikapi rasa ini. Rindu, bila ia menyapaku. Maka menangislah aku. Walau begitu, ketika pagi tiba, ku merangkai senyuman lagi. Ini memang penuh perjuangan. Namun ku yakin bisa. Karena ku belajar darimu tentang senyuman berseri semenjak pagi. Semoga hari ini kita semakin bersinar, yaa. Bersinar. Ya, bersinar untuk semesta. Bersama senyuman.

Terima kasih mentari pagi, untuk inspirasi, meski melalui sipit matamu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s