"Just step forward, again, again and again. But, dont spend your time without enjoy and notice the wonderful beauty in nature. This is unforgettable moment. Let’s picture it in memory."

***

Berjalan pagi, melangkah lagi. Namun tidak hanya melangkah, juga memperhatikan sekeliling alam. Sungguh indah, ini luar biasa. Aku suka, aku terpesona. Alhamdulillah…

Semangat pagiiiii kawan….!😀
Selamat berbagi buat semesta, wahai mentariiiiiii…😉
#aaaaaaaaaaaa……….. susah terungkap dengan kata, bahagia ini, namun ku coba merangkainya, bersama senyuman, heartfully🙂

Pagi hampir selalu cerah setiap harinya. Karena jarang sekali hujan turun pagi hari akhir-akhir ini. Sehingga nuansa alam nan sejuk menjadi terasa hangat oleh senyuman mentari. Seperti hari-hari kemarin, maka hari ini tidak banyak berbeda. Ya, karena pagi ini aku masih melangkah. Melangkah lagi, lagi dan lagi. Melangkah ke depan seraya melayangkan pandang ke sekitar. Betapa keindahan ciptaan-Nya membuatku terbuai bahagia.

Seraya melangkah, sesekali ku katupkan kedua mata. Semilir angin pagi pun tak hendak melewatkan moment bahagia ini. Maka, ia pun bertiup sepoi, menyapu wajahku segera. Sehingga ku merasakan kesejukkan menerpa kulit mata, pipi, dan senyuman pun mengembang dengan mudahnya. Senyuman tipis, yang ku persembahkan untuk angkasa. Karena pada saat yang sama, wajah ku tengadahkan ke arahnya, lalu melangkah juga.

Semakin banyak engkau tahu, maka semakin berkurang takutmu. Begini sebaris inti kalimat yang pernah ku baca. Kalimat singkat kaya makna dan ku renungkan pula. Lalu, aku pun mempraktikkannya kapan saja. Untuk menguji nyali, mendata keberanian. Dan alhasil, terbuktilah adanya. Bahwa ku tidak takut akan nabrak-nabrak orang di jalan, saat ku memejamkan mata sambil melangkah dan menengadahkan wajah ke angkasa. Karena ku tahu di sekelilingku tiada orang yang lewat pun kendaraan. Begitu juga dengan ketakutan akan terseleo karena kakiku tetiba masuk lobang. Tidak. Semoga tidak terjadi, karena ku tahu bahwa jalan yang ku lewati lurus dan rapi. Pun, tiada selokan yang mengintai kaki-kaki ini. Tidak. Karena ku tahu, jalan ini aman untuk ku lalui, maka ku melangkah di atasnya. Walau dengan cara tidak biasa, seraya menutup mata.

Terkadang memang begini. Aku melangkah dengan kreasi. Supaya tidak jenuh di perjalanan, agar terasa nikmat melangkah. Dan tetiba sudah sampai di persimpangan. Untuk selanjutnya menentukan pilihan berikutnya.

Akankah ku memilih jalan lurus, belok kanan, belok kiri atau putar haluan? Dengan konsekuensi, balik lagi. Hihiii. Yang terakhir ini adalah pilihan yang jarang ku lakukan. Kalau bukan dalam kondisi genting atau berbahaya. Walau terkadang ku pilih balik arah, mundur teratur, lalu ambil langkah seribu. Ketika di depan sana ku dapati bahaya menghadang. Seperti saat mendengar suara doggy, maka aku tak akan pernah berani melanjutkan langkah lagi. Karena aku trauma dan sangat takut sekali dengan ‘dia’. Yang pernah menakutiku dengan gigi-gigi taringnya serta suara asli, saat ku kecil dulu. Huhuuuu… *cukup sekali. Selanjutnya, bertemu dengannya adalah ketakutanku. Termasuk saat melangkah mendekati persimpangan dan seorang pengasuh doggy berpapasan denganku, dengan 4 (empat) ekor doggy bertali di sekelilingnya.

"Ayoo kita lariiiiiiiii….," bisik pikirku. Namun kaki-kakiku terdiam, kelu. Sedangkan mataku hanya bisa memandang mereka dengan tatapan sayu, lalu berdoaku agar mereka segera berlalu.

"Berlalulah," gumamku dalam hati sambil menutup mata. Dan beberapa saat kemudian, mereka sudah ga ada lagi.

Begitu juga saat ku ada di sebuah jalan lumayan panjang, dan ku saksikan doggy ada di ujung sana, maka ku putar haluan segera. Pura-pura salah arah, lalu jalan pelan-pelan, menutup mata, dan ‘cling’ aku pun menghilang. Tetiba ku sudah ada di jalan lain sambil tertawai diri.

Aaaargh! Hahaay😀 Dengan kondisi adrenalinku meninggi dan detak jantung tak normal lagi. Keringat muncul membanjiri kening, but I am enjoy this moment. Aku jadi dapat inspirasi untuk merangkai senyuman lagi.

Dan bertekad untuk menempuh jalan berbeda esok hari. Karena pasti ada inspirasi menanti, bukan doggy.

***

Sebagai seorang yang trauma dengan makhluk yang satu ini, maka saat berjalan kaki aku selalu hati-hati. Ku perjelas pendengaran dan ku pertegas penglihatan dari kejauhan. Supaya, ku bersiap untuk segala kemungkinan di hadapan. Agar tak kaget saat menemui kenyataan. Namun senantiasa ingat bahwa "Selalu ada bantuan" saat ku yakin dengan keberadaan Tuhan.

Di perjalanan, menuju tempat beraktivitas, aku berjalan kaki. Karena lokasi tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari lokasi aktivitas. Kalau jalan kaki hanya membutuhkan waktu lebih kurang lima sampai sepuluh menit saja. Ini pun tergantung jalan mana yang ku pilih. Apakah jalan lurus, jalan tikus, jalan normal, atau berliku-liku. Karena ada banyak pilihan jalan yang dapat ku tempuh untuk sampai di tempat aktivitas. Maka ku selalu menyesuaikan waktu berangkat dengan jarak tempuh. Agar dapat sampai di tujuan tepat waktu.

Dan waktu yang ku gunakan untuk sampai di tempat aktivitas, adalah untuk menemukan ilmu baru. Yuhuu, karena waktu adalah ilmu. Dan terlewat sedetik, maka akan terlewatlah kesempatan memetik ilmu. Tentu ku tak mau. Makanya, ada-ada saja yang ku pelajari di sepanjang jalan. Berbagai makna ku petik dalam melangkah. Termasuk sesiapa yang ku temui. Baik wajah sumringah anak-anak kecil nan lucu, ibu-ibu yang sibuk menjaga mereka, maupun selembar daun yang jatuh di hadapanku. Semua mengingatkanku untuk belajar darinya.

Selalu begitu. Selalu ada kesempatanku berguru, melalui langkah-langkah kakiku atau mereka yang menyapaku. Semua berarti bagiku. Baik yang ku kenali atau tidak dan kemudian mensenyumiku. Atau yang hanya mampir di hadapanku sekejap lalu berlalu secepat kilat. Maka, segegas apa ku menangkap ilmu darinya? Sebanyak itulah makna yang dapat ku petik. Ai! Sedetik tak boleh berlalu begitu saja, kawan. Namun perlu ada yang mengingatkan kita untuk menjadi tahu, mau tahu dan berpengetahuan bersamanya. Agar langkah-langkah kita bermutu. Bukan langkah biasa yang tak menentu.

Hari ini, sejak pagi dan lebih awal dari biasanya. Aku kembali melanjutkan langkah-langkahku. Langkah-langkah yang ringan mengayun lepas, untuk menjemput ilmu. Menelusuri sudut-sudut jalan dan kemudian memahami apa yang ia ajarkan padaku. Baik yang mengajarkan tentang harapan, kepasrahan, atau semangat dan kegigihan yang tak terkalahkan oleh waktu.

Masih pagi, dini hari. Dan mungkin belum pantas di sebut pagi. Saat jemari menitip jejak di diari. Selayaknya kaki-kaki ini mengayun menapak bumi. Lalu ia menjejak menapak lagi. Meski tidak terlihat jejak-jejak yang ia tinggalkan di jalan yang ia tempuh. Karena jalan beraspal yang ia lalui. Jalan bersih, mulus dan tidak menyisakan jejak-jejak ini, membuatnya tak henti menapak. Walau tanpa jejak. Meski tidak terlihat dan membekas sebagai bukti ia pernah ada di sana. Ia tidak peduli lagi. Karena ia mempunyai tujuan yang pasti. Sedangkan jalan yang ia tempuh hanya sebagai penyampai diri pada tujuan. Sehingga tidak mengapa jika hanya lewat saja, dengan tidak melupai makna perjalanan. Seperti itulah keberadaan kita di bumi ini.

Usah perlu disoraki, ditepuktangani, dielu-elu, dipuji. Jika semua untuk membuat kita tidak mengenal diri. Namun berada di jalan sunyi adalah lebih baik kiranya, kalau dengan berada di sana membuat kita semakin mengenal diri. Sehingga tidak membuat kita lupa diri, namun tahu diri. Seringlah ingat, untuk menjaga semangat kita dalam hari-hari. Dengan demikian, keramaian ataupun kesunyian tidaklah terlalu berarti. Karena kita punya janji dengan diri sendiri. Untuk menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin. Dan menjadi lebih baik bersama dirinya esok hari. Kalau tidak, maka kita merugi. Ingatlah ini.

Engkau, sesiapapun dan di manapun berada, wahai pemuda! Tetap melangkah di jalan yang hatimu pilih. Ikuti kata hatimu, meski tidak semua orang menyetujui. Namun kalau engkau yakin, lanjutkan!

Yuuk, kita melangkah lagi. Bersama sekepinghati yang setia menemani.

Dari diari, dini hari ini.

#eheh, eh terkadang ku sukses melangkah di samping seekor doggy yang menggiringku manja dengan dua bola matanya yang syahdu. Aku bisa!

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s