How Are You Today?
Apa kabar mu saat ini? Lama kita tak bersapa, harap kau selalu bahagia di sana.

Hai, teman baikku. Teman baru dan belum pernah bertemu. Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana pula dengan hati? Apakah ia tertata selalu? Ai! Apakah saat ini ia sehat dan bugar? Karena aku pernah mendengar darimu, bahwa hatimu mengalami sakit, dulu. Ya, dulu, dulu sekali, saat awal kita berkenalan. Dan semoga saat ini tidak lagi, ya. Kalau pun kondisinya masih sama seperti yang dulu, semoga hatimu cepat pulih, teman. Kembali ke kondisi terbaiknya, yaa. Karena sedih rasanya hatiku, seperti tercubit ia, periiiih, pilu, saat ku dengar kondisi hatimu yang demikian. Namun, semoga saat ini tidak lagi, yaa. Karena ku tahu siapa engkau, teman. Engkau yang lebih bijaksana, berilmu dan penuh dengan tawa. Ku pikir, engkau hanya bercanda, saat memberitahuku bahwa engkau tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ya, ‘hatimu’, maksudku.

Seiring dengan kemauanmu untuk menata hati menjadi sehat selalu, semoga istiqamah yaa. Semangat teman. Engkau pasti bisa. Sebelum ajal menjelang, dan yakinlah bahwa sahabat terbaikmu itu ‘hatimu’ terjaga selalu. Karena ia berbeda dengan pikiran. Karena hati penuh dengan perasaan. Maka, semoga bersamanya, engkau sering merasa bahagia yaa. Begini yang dapat ku sampaikan padamu, tentang hal ini. Semoga rangkaian huruf ini menjadi bermakna, bagimu. Engkau sahabatku kini, sahabat yang baik.

Dear sahabatku. Di dalam waktu-waktu yang engkau jalani, semoga lebih sering engkau manfaatkan untuk introspeksi diri, yaa. Engkau yang belum pernah ku bertemu, namun ku mau-maunya mengingatkanmu begini. Karena apa? Tidak lain karena kasihku padamu, karena peduliku denganmu. Dan aku yakin engkau mampu.

Berbeda lagi dengan temanku yang sudah lama ku bertemu, dan kami bersama-sama menjalani waktu. Maka selalu ada kesempatan bagi kami untuk saling mengingatkan seperti ini, dan sudah biasa kami melakukannya. Semoga engkau tidak merasa terganggu yaa, dengan kebiasaan kami seperti ini. Bukan untuk menggurui, apalagi tidak mempercayaimu. Namun karena besar kasih kami pada sesama teman. Semoga engkau memaklumi. Hehe.  :)

Wahai temanku yang baik. Seperti adanya aku, saat ini. Maka, di dalam keberadaan waktu ku saat ini, ku ingin menjadi lebih berarti. Berarti dari waktu ke waktu. Sebelum saat itu datang, waktu pergiku. Dan kemudian ku tidak kembali lagi, untuk membersamaimu. Ah, berat membayangkan semua yang akan terjadi. Makanya, untuk hari ini yang sedang ku jalani, aku berusaha dengan sebaik-baiknya untuk melakukan yang terbaik. Sebagai usahaku, dan berjuangku untuk istiqamah di jalan yang ku pilih sejak dulu. Untuk menasihati diriku lagi, lebih sering dan sering. Supaya ia ingat. Bersama ingatan yang menggerakkan ku lagi agar semakin semangat menempuh waktu.

Wahai engkau, sahabatku kini. Sahabat yang mau berjuang bersama untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Berusaha saling menyemangati dalam upaya menjadi lebih baik dan melakukan yang terbaik.  Hayo, kita bertanya lagi, bila ada yang tidak dan atau belum kita pahami. Supaya kita mengerti, agar kita lebih memahami. Bahwa tidak selalu yang kita pahami selalu sudah benar. Karena kadang kita belum mengetahui lebih banyak dari yang mengetahui. Oleh karenanya kawan, yuuu kita belajar lagi untuk berendah hati. Agar suka menanya, senang menerima masukan. Dan cemerlanglah pikiran kita, menjalani berbagai solusi dan inspirasi yang mendatangi diri.

Engkau yang belum pernah ku bertemu, hari ini kita bersapa lagi 😀

Ya Allah… sampaikan rasa rinduku padanya,

Ia yang belum pernah ku bertemu,

namun ku mencintainya,

karena semenjak kehadirannya,

ku merasa bahagia,

dan semua ini hanya mampu ku urai dalam rerangkai kata,

tak mampu ku bicara,

hanya diam seribu bahasa,

lalu menuliskannya bersama senyuman,

senyuman yang beriku bahagia,

bahagia karena ia ada untukku,

pun aku baginya,

terima kasih ya Allah,

atas segalanya.

Engkau yang pernah ku bertemu, hari ini kita jumpa lagi 😀

Wahai teman, aku pun tidak tahu, apakah tadi cermin gantungan kunciku sudah pecah saat engkau meminjam, atau bagaimana. Namun saat engkau mengembalikan padaku, ternyata sudah retak begini. Ah, seperti adanya ia yang sudah tidak sempurna lagi, begitu juga kondisi hatiku ini. Ia sudah berkeping-keping tidak lengkap lagi. Seiring dengan datang dan perginya orang-orang dalam kehidupanku. Dan kondisinya kita sudah tidak mungkin utuh lagi. Hanya ku berusaha untuk menata lagi, hati yang retak ini.

“Tolong bantu aku, yaa,” pintaku padamu. Sebagaimana yang pernah engkau sampaikan padaku dulu, saat kita mula berkenalan. Untuk saling membantu dalam kebaikan. Maka saat ini ku pinta, tolong bantu aku menata lagi hati ini. Hati yang pedih bila engkau sedih. Hati yang terluka saat engkau berduka. Hati yang retak saat ku tahu engkau menangis. Maka, tersenyumlah untukku. Ya, tersenyumlah. Karena engkau menjadi lebih baik dengan senyumanmu. Walau hatimu sedang pilu, tolong sampaikan padaku bahwa engkau baik-baik saja. Karena ku tak mau engkau menderita.

Wahai teman, meski kita berjauhan raga saat ini. Semoga tidak mengalahkan semangatmu untuk terus terjaga yaa. Terjaga dari mimpi-mimpi panjangmu. Dan kemudian melangkah di alam nyata untuk mewujudkannya menjadi ada. Bersama sesiapapun yang ada di dekatmu. Tetap jaga mereka juga, supaya mampu mengiringimu dalam bergerak. Hingga kalian terus saling bersinergi untuk saling menguatkan dan menjadi kuat bersama-sama. Bersamailah mereka dengan sepenuh hati. Karena tidak selamanya kalian dapat menjalani kebersamaan yang indah seperti itu. Sebagaimana halnya yang kita alami saat ini. Saat berjauhan, tentu akan saling merindukan, bukan? So, enjoy your time. Go… Go…😉

Wahai sahabatku. Ketika dulu, di zaman kita masih anak-anak dulu atau saat kita belum ada di dunia ini. Ada yang namanya sahabat pena, bukan? Namun di era kekinian seperti ini, aku adalah sahabatmu yang lebih dari sahabat pena. Namun sahabat jiwa. Ya, walau kita belum pernah berjumpa, namun kita dapat saling bertukar bahasa melalui kata, dengan segera. Kapanpun kita suka. Dan terlebih lagi tidak memerlukan banyak waktu untuk sampaikan sesuatu yang kita ingin sampaikan. Hanya perlu kerelaan untuk meluangkan waktu. Maka sesama sahabatpun kita dapat saling berkabar, mengirimkan informasi terbaru. Dan saat ini, aku merindumu.

Bersama rindu yang semakin meninggi, ku urai ia melalui kata-kata yang ku coba susun semampuku. Semoga engkau tahu, semua ini ku persembahkan untukmu. Engkau sahabat baruku, namun seakan kita sudah lama bertemu. Meski belum sekalipun bersua raga. Ai! Sungguh, sungguh, aku tidak percaya. Akhirnya ku punya sahabat unik sepertimu.

“Selamat menjalani harimu, teman. Sukses selalu… Aku mendoakanmu.”

Wahai teman, sahabat baruku. Setelah sekian lama kita bertukar bahasa, bertemu sapa juga suara jiwa. Adakah engkau tahu, bahwa bagiku engkau sangat berarti? Engkau adalah cahaya hidupku, menerangi ketika kelam ku alami dalam hidupku. Dan setelah sejenak berlalu engkau menghilang dari duniaku, kemudian kembali lagi, aku terharu.

Sungguh, berharganya engkau, mentari di hatiku.

Di sini, hujan… teman. Hujan yang mengingatkanku pada sahabat unikku lainnya, sama sepertimu. Ia yang sering menerangi siangku, dengan kemilau senyumannya. Mencerahi mendung di hatiku, dengan cerianya. Mengajakku tertawa dengan teriknya. Ia mentari. Dan kini, saat ia tidak menampakkan diri, aku pun merindukannya. Seperti rinduku padamu. Meski jauh, kalian ada untukku. Kemudian tersenyumku bahagia bersama harapan, untuk dapat menyaksikan senyumannya lagi, setelah hujan mereda. Lalu tentangmu, semoga engkau di sana juga sedang berbahagia yaa.

Karena sayang, bila waktu kita terbuang percuma untuk merengut dan merutuki keadaan. Lebih baik tersenyum, dan menikmati yang ada. Maka kita mampu bahagia.

Wahai teman. Lembaran hari kemarin telah selesai kita tulis bersama segala yang kita laksana terhadapnya. Lembaran yang menyisakan kenangan. Ia sudah menjadi masa lalu, biarlah berlalu.  Sedangkan hari ini, kita sedang membuka lembaran baru untuk kita hias dengan kisah berikutnya. Dan tahukah engkau bahwa, “Pertemuan kita atas kehendak-Nya.” Mari kita melangkah bersama dengan tujuan yang sama. Dan membuktikan bahwa kita bisa sukses bersama-sama.

“Engkau mensenyumiku, juga aku. Kita bersenyuman lebih indah. Senyuman yang kita jaga selalu menemani diri. Agar, saat kita tersandung uji, kita masih dapat menemukan nilai positif di dalamnya. Begitu pula dengan kelancaran yang kita temui dari waktu ke waktu. Semoga mengingatkan kita selalu untuk terus berjuang memperbaiki diri, menjadi lebih baik, selalu dan selamanya.”

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s