“Begitulah indahnya hidup dengan kebersamaan. Kebersamaan yang membuat kita saling bersinergi. Menguatkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Dengan komunikasi, berkah silaturrahim. Sehingga hari ke hari menjadi semakin berseri, berbinar, mencerahkan sesiapa saja yang menjalaninya.”

Saat hadirnya engkau hanya untuk ku dengarkan curhatmu, teman. Maka mari, mari ke sini, mendekatlah denganku, duduklah di sampingku. Atau, boleh juga di depanku, dengan sebuah meja sebagai perantara. Agar dapat ku selami kedua bola matamu saat engkau berbicara. Supaya ku perhatikan gerak bibirmu sesekali, saat mengucap kata. Dan tentu saja, ku saksikan cemerlang senyuman menghiasi wajahmu pada suatu ketika. Termasuk kerlingan bola matamu yang bergerak manja, ku rindu semua itu.

Mari, ke sini kawan, aku menantimu. Ku sediakan waktuku untukmu, ya hanya untukmu. Supaya engkau dapat melepaskan beban uneg-unegmu. Agar engkau dapat mencurahkan segala kesalmu. Lalu ku dengarkan engkau dengan lebih dalam. Dengan begitu, bebanmu pun meluruh, meringan, mencair, dan semoga saja menjadi hilang. Selanjutnya engkau kembali melanjutkan langkah-langkahmu dengan lega, dengan tenang.

Mari teman, hayo ke mari. Ku siap mendengarmu, hanya mendengarkan, dan menghayati setiap ekspresi yang engkau pamerkan.

Terkadang engkau tersenyum, aku pun tersenyum.

Sesekali engkau menerawang, aku pun memperhatikan mu.

Pun tidak jarang engkau menundukkan kepalamu. Haiii… sepertinya engkau sedang memikir ulang sebelum mengucap kekata lagi.

Dan sering ku melihat tawa menghiasi suaramu. Adakah karena engkau bahagia? Atau hanya menertawakan keadaan? Ah, aku pun ikut tertawa bersamamu. Kita berekspresi sama, dalam waktu berdekatan. Tidak berapa lama jedanya, aku pun mengikuti pergerakan yang engkau lakukan. Begitulah untuk beberapa jam kemudian. Aku setia menerima curahan hatimu, sebagai seorang kawan. Engkau kawanku kini, dalam kondisi seperti ini. Kawan akrab, teman dekat.

Ya, begitulah aku berperan untuk beberapa episode dan masa dalam perjalanan hidup ini. Supaya ku menikmati keadaan. Semoga engkau pun sama, teman. Anggaplah aku sebagai kawanmu, yang dapat engkau ceritakan segala keluhmu, kesalmu, pun bahagia atau dukamu. Anggap saja sebagai kawan. Supaya engkau dapat lebih santai, dan tidak kaku lagi. Karena memang, aku adalah kawan setiamu. Yang sedia menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan, hanya mendengarkan, saat engkau berbicara. Menyimak segala yang engkau utarakan, lalu tertegun sejenak, untuk ku pahami. Bila ada yang belum ku mengerti dari bahasamu.

***

Menjadi pendengar yang baik, terkadang menjadi profesiku. Profesi yang ku jalani dengan sepenuh hati. Apakah untuk mendengarkan suara dari orang-orang yang belum pernah ku temui. Lalu kami pun menjadi akrab dalam nada suara. Kemudian mereka merasa nyaman bercerita, dan aku pun mendengarkan dengan ceria.

Mendengarkan, juga sering ku alami saat bertatap muka. Apakah untuk menyimak cerita-cerita seorang kolega, sahabat baik yang putus cinta, bahkan teman dekat yang sedang patah hati. Ai! Mereka menitipkan kisah berbeda terhadapku. Untuk ku mengerti warna-warni rasa. Supaya ku dapat merasakan yang mereka alami, walau ku tidak menjalaninya. Supaya ku belajar dari pengalaman mereka yang pernah mengalami. Sehingga ku dapat memetik hikmah dan pelajaran dari hati ke hati.

Seperti halnya hari ini. Aku di sini, untuk mendengarkan, menyimak, suara isi hati, seorang kawan di hadapanku. Aku yang senang mendengarkan begini, enjoy saja. Kami duduk berhadapan, lalu menjalin komunikasi. Lawan bicaraku, bercerita banyak hal, berkisah banyak tema. Sedangkan aku, cukup berekspresi. Dengan durasi yang lumayan panjang, kami saling berbagi, bersinergi, mengalirkan suara hati. Walau yang sering bersuara adalah lawan bicaraku. Dengan mimik wajah yang sering berganti. Sesuai dengan tema yang beliau bagi. Hingga aku mengerti, menghayati, lalu berekspresi sama.

Beliau bercerita tentang dunia… Ya, dunia ini. Dunia fana dan dunia yang tidak selamanya. So, selama kita di sini, apakah yang kita lakukan teman? Bagaimana kita menghiasinya agar dunia ini menjadi semakin indah dari waktu ke waktu?

Waktu kita di dunia ini sangat singkat dan terbatas. Terbatas karena kita tidak pernah tahu kapan akan berpisah dengannya. Dunia yang menitipkan kita banyak bahan pelajaran saat kita mau belajar darinya. Dunia yang bisa saja membuat kita terlena oleh bujuk rayunya, kalau kita tidak berteguh-teguh hati saat bersamanya. Dunia yang bisa saja menipu kita, kalau kita tidak ingat siapakah ia dan siapakah kita. Dunia yang sudah tua ini bisa saja terlihat seperti si cantik rupa, namun sebenarnya bukan demikian adanya. Karena ia sudah keriput, seperti kulit jeruk purut. Begitulah keadaan dunia yang sesungguhnya. Dan di atasnya, kita berada saat ini. Untuk bersinergi, beraktivitas, bergerak dan melangkah. Semoga dengan langkah-langkah yang semakin indah mengayun, yaa.

Dunia yang kita masih ada di dalamnya, kawan. Dunia yang sedang kita tinggali, kini. Dunia yang sedang kita tempati. Untuk sementara saja, tidak selamanya. Karena setelah kita meninggal, ia akan kita tinggalkan. Lalu, kita pergi, tanpanya. Tanpa segala yang kita punyai. Tanpa segala yang kita miliki. Kecuali amalan, dengan niat yang suci.

“Niat. Ya, niat itu penting. Karena dari niat segala bermula. Berniatlah untuk kebaikan, maka kebaikan yang engkau akan temui. Aku bisa bilang begini, karena aku sudah mengalami. Dan ingin berbagi adalah tujuanku saat ini. Supaya engkau mengerti,” ungkap beliau berapi-api di antara kisah yang beliau bagi.

Lalu, aku pun mengangguk menyetujui, tersenyum lagi.  Dan inti dari pembicaraan kami adalah tentang berbagi. Bahwa berbagi itu penting. Namun berbagi untuk hal yang positif, yaa. Karena dengan kita berbagi, dunia pun akan berbagi terhadap kita. Kalau kita membagikan kebaikan lebih banyak dan sering, maka begitulah yang dunia titipkan pada kita. Sehingga usah takut miskin karena berbagi, namun kita akan semakin kaya karenanya. Apabila kita berbagi bukan materi, maka kekayaan hati, kaya wawasan, kaya pengetahuan, ini di antara manfaat berbagi yang kita dapatkan. Selain itu, dengan berbagi juga kita belajar peduli. Kepedulian yang membuat kita ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.

Beliau yang ku dengarkan curhatnya, hari ini, terlihat semakin cerah berseri-seri di wajah. Setelah sebelumnya, membawa wajah menekuk. Adalah ini, manfaat berbagi yang beliau peroleh,… pahamku. Beliau menjadi lega menanggapi masalah yang beliau alami. Lalu, wajah menjadi berseri. Kami pun bersenyuman, sebelum kami berpisah lagi.

Terima kasih teman… untuk berbagi suara hati. Esok, lusa dan atau nanti, jangan sungkan untuk berkisah lagi, yaa. Karena pasti ada hikmah yang engkau beri, saat engkau berbagi suara hati. Meski harus berganti-ganti ekspresi, sesuai suasana hati.

Hari ini, adalah milik kita, engkau dan aku. Kita yang masih ada di dunia. Yuuuk, yuuk,kita belajar berbagi. Dari hal terkecil dan terdekat dengan diri. Seperti berbagi suara hati, misalnya.  :D

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s