“Keadaan, bila kita hanya melihat sekilas atau setelah mencermati, pasti berbeda.”

***

aid52367-728px-cure-a-stomach-ache-step-24-version-2
How to Cure a Stomach Ache

Hari ini, dari sini, saat ini, ya, kini. Aku dapat menyaksikan bagaimana ekspresimu terkini. Walau ku tidak menatap matamu, langsung. Namun ku lihat ada binar-binar berkelipan di sana. Dengan ekspresi demikian, maka wajahmu pun mengikuti. Ia berseri-seri, lebih cerah dari tadi. Dan begitu pula dengan senyumanmu itu.

Ku lihat engkau tersenyum lebih lega dan semakin menenangkan. Ah, andai kau di sini, ku yakin bahwa engkau tidak akan berekspresi seperti tadi. Mengapa hanya dari kejauhan engkau berani? Mencandai, mengusili, bahkan sampai tahap membuatku ‘ngeri’ dengan candaanmu lalu mengirimi ku pesan, begini :

“Limau kapeh, limau puruik, gunuang Singgalah tabalah duo, bia yang lapeh jadi manuruik, ilmu talarang di paguno juo, gagak babulu hitam, alang tabangnyo tinggi, panghulu ba ilmu kalam, bantangkan jalan panjampuik yani.” –Message Received and then I get stomach Ache    #kidding  :D

Sesekali, memang kita boleh bercanda. Namun aku ini orangnya seriusan. Sehingga kalau ada yang bercanda berlebihan, maka aku akan menjadi kepikiran, terbawa ingatan, dan akhirnya ku pikir-pikir sepanjang waktu. Seperti yang tadi engkau lakukan padaku. Aku tak berani untuk menghadapi segala konsekuensi dari candaanmu. Maka, agar tidak keingatan lagi, ku lepaskan ia di sini. Semoga terang lagi pikir ini dan ku dapat melanjutkan perjalanan hidup hari ini dan selanjutnya dengan tenang hati.

Egois kah aku? Hmmm, terserah padamu, karena ku begini adanya.

“Jauh-jauh, dari kejauhan, engkau berani berekspresi. Semoga, saat kita bersua, engkau masih tersenyum sama. Begini harapanku. Karena aku ingin, lebih banyak lagi yang tersenyum di dunia ini. Minimal, setiap orang yang bertemu dengan ku. Sungguh sederhana impian ku dan semoga mereka yang menemuiku, mengalami hal yang sama seperti saat ku membersamai mereka. Ada bahagia di jiwa, bersyukur karena mempunyai kesempatan untuk bertukar suara, bertukar ekspresi, dan merasakan bahwa hari ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan esok, ada harapan untuk menghadapi hari yang lebih berseri lagi.”

Oups! Di sini, ada saja yang membuatku mau tersenyum lagi. Entah senyuman karena aku menyukai, ada keanehan, atau saat ku mensyukuri atau mensabari yang terjadi. Begitu pula dengan kelucuan-kelucuan yang ku temui, atau mereka yang menemuiku dengan ekspresi uniknya. Intinya di sini, aku masih dan mau berekspresi lagi, semaksimal mungkin. Karena mungkin ada hikmahnya dalam apa pun yang terjadi. Dan pasti ada. Maka, terus jalani dengan penuh penghayatan, seraya memetik makna untuk dibagikan. Karena tiada yang sia-sia.

Hari ini, beberapa kejadian semenjak pagi, membuatku ingin menepikannya dalam diari (lagi). Supaya apa? Tentu saja supaya ku lupa yang tidak mau ku ingat lagi saat ini. Dan agar ku ingat apa yang mau ku ingat lagi, nanti.

Di sini, suatu pagi

Aku adalah perempuan yang kekuatan raganya tidak seperti laki-laki. Karena aku adalah bagian dari makhluk ciptaan Tuhan yang tercipta dengan kondisi begini. Tidak sanggup mengangkat beban-beban berat, begitu pula dengan kegiatan yang membutuhkan energi ekstra. Sungguh ku tak mampu, karena aku adalah perempuan anggun. Nah, walau kondisiku begini, terkadang ada masanya aku berhadapan dengan keadaan yang memintaku untuk melakukan aktivitas yang harusnya dikerjakan oleh seorang laki-laki. Maka aku pun menyerah. Dan dengan penuh ekspresi ‘memelas’ -aku tak bisa membayangkan, hanya menjalani’  aku pun meminta bantuan pada sekitar. Sesiapa saja yang ku temui, dan rela membantuku. Begitulah aku, yang terkadang menyusahkan. Namun sesekali saja, dan dalam keadaan darurat, koq. Lalu, bagaimana ekspresi yang ku terima atas permintaan tadi? Mereka yang berbudi baik, bergegas memberikan bukti, bahwa mereka adalah laki-laki sejati. Hihiiii… (membuatku tersenyum lagi).

Sungguh, sesiapapun yang baik, kontribusi yang mereka beri, membuatku ingat siapa diri ini. Aku tidak mampu segalanya, tanpa sesiapa di sini. Sehingga, aku menjadi tahu diri. Untuk tak egois, namun senang berempati. Namun di masa genting yang berkenaan dengan prinsip diri, aku memang egois. Bukan untuk mementingkan diri sendiri, namun karena janji pada diriku sendiri untuk mempertahankan prinsip. Untuk terus berjuang menjadi lebih baik dari diri yang sebelumnya. Walau sering, ku ‘tega’ pada diri sendiri.

Yah, demi kebaikan kita ke depannya,” bisikku padanya. Setiap kali ia memintaku memberi sedikit kelonggaran dari prinsip kami.

Oo, tidak! Aku tak sudi,” cegahku padanya. Agar kami akur lagi, dan kemudian melangkah dengan damai di bumi ini.  Sehingga, apapun yang bertolak belakang dengan prinsip, “Leave it!  Just leave it! And Forget it!,” I said.

Ayoo, kita jalan lagi,” ajakku pada diri. Saat ia sempat terpaku sejenak oleh keadaan yang membuatnya tak percaya yang terjadi.

“Stay positive, all will be alright.”

🙂🙂🙂

 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s