“Dengan kendaraan imajinasimu, engkau dapat pergi ke manapun engkau mau. Sejauhnya. Semampumu. Karena tidak butuh biaya untuk melakukannya. Namun hanya waktu yang perlu engkau luangkan untuk berimajinasi. Semoga hari-harimu menyenangkan selalu bersamanya, kawan. Selamat berimajinasi dan sampai bertemu, lagi, di mana pun, kapan pun. I hope you enjoy it.”

***

Hai  teman, memang ini yang engkau mau, bukan? Semua yang engkau jalani saat ini pernah ada dalam pikiran tidak sadar atau sadarmu, kan? Seperti bertemu orang-orang baru di tempat yang asing bagimu, lalu kalian saling bersapa, bersenyuman, bertukar suara, lalu tukeran nomor hape. Hehehee…

Pengalaman pertama lagi hari ini, ingin ku ingat selalu. Pengalaman sederhana memang, namun sangat berkesan bagiku. Pengalaman kecil, singkat dan ringkas pastinya, namun ingin ku ingat selalu. Pengalaman yang membuat ku tersenyum saat menjalaninya, senyum lagi saat mengingatinya, dan juga ku ingin tersenyum lagi saat kelak di masa depan, kami berlirikan lagi. Maka, ku rangkai ia dalam beberapa kalimat singkat, supaya ku mudah ingat. Karena ingatanku ini memang selalu harus diingatkan lagi, karena yaa, gitu dech.

Ceritanya, sejak awal hari ini, pagi.

Pagi bermula, ku melangkahkan kaki-kaki ini dengan ringan. Kaki-kaki yang ku paksakan lagi berjalan, untuk menjadi sarana sampaikanku pada tujuan. Tujuan yang sering ku sebut, ‘Bahagia’.

Di sepanjang perjalanan, ku menikmati pemandangan yang ada. Ku merasakan sepoi angin menerpa pipi, juga sinar mentari yang menyapu wajahku. Sehingga meninggalkan titik-titik air di puncak hidungku yang tidak mancung, memang. Namun aku sangat mensyukuri semua ini, anugerah terindah yang tidak terganti. Maka di sela-sela waktu melangkah, ku sempatkan waktu mengelapnya berkali-kali, karena keringatku tidak henti terbit di sini. Hidungku, oh, hidungku. Tersenyumlah juga bersama kami, sekeping hati yang sedang senang sekali.

Dalam langkah-langkah kaki yang terus mengayun, teringatku pada sebaris mimpi. Terkenangku akan secuplik harapan. Ternyata aku pernah mengimpi begini. Ya, untuk berjalan-jalan di bawah terik mentari pagi, sejak awal hari, hingga ku rasakan hangat sinarnya di kulit ini. Aku memang pernah mengimpi, dan aku masih mempunyai impian. Namun saat ku menjalani kenyataan, ku hayati dengan penuh kesungguhan. Baik impian yang menjadi kenyataan, ataupun kenyataan yang seperti mimpi. Aku masih belajar menikmati semua.

Lain hari, lain kesannya. Lain pengalaman, lain pula pesannya. Termasuk hari ini. Aku punya pengalaman berkesan nan mengesankan. Karena ini adalah pengalaman pertama lagi bagiku. Ya, naik busway. Haaay, jalan-jalan lagi, lagi-lagi jalan-jalan. Namun bukan tanpa tujuan, karena ku ingat pesanmu teman, untuk tidak melangkah tanpa tujuan. Maka sejak mengenalmu, ku ingat lagi untuk bertujuan saat melangkah. Bukan lagi jalan-jalan ga jelas seperti yang sering ku lakukan, duluuuu…

Eitsss… ada iklannn… duluuu… (eh, iklan apa yaaa. Nanti di kesempatan terbaik ku cerita tentang iklan, yaa).

 ***

Lanjuttt.😀

Marii kita melangkah lagi, bisikku pada sekeping hati yang setia menemani. Ia yang tersenyum, aku pun mensenyuminya. Kami bersenyuman pada mentari yang menatap kami saat melangkah di bumi. Sehingga sesekali ku tengadahkan wajah ke arahnya, namun tak berani ku menatap silaunya. Karena ku ingin menjaga mata ini, agar tak buram saat menatap lagi. Dan aku pun hanya merasakan hangatnya, dengan mata tertutup. Karena sering, dengan mata tertutup kita dapat merasakan cinta yang sesungguhnya, I love it so much, mentari.

Mentari masih memantauku dari kejauhan. Saat ku meneruskan langkah dengan ringan. Ayunannya memang tidak pelan, namun tidak juga cepat, kawan. Karena ku hanya ingin menikmati langkah-langkah ini. Menghayati penuh perasaan, di sepanjang perjalanan.

Sepanjang jalan, banyak pemandangan indah yang ku lihat. Termasuk suara-suara yang ku dengarkan. Semua mengingatkanku pada Tuhan, yang mengizinkanku menikmati semua. Maka, nikmat-Nya yang mana lagikah yang ku dustakan? Tidak, tidak ada lagi, kawan.

***

Sejauh-jauh berjalan, maka kita akan sampai di tujuan.

Begitu pula dengan ku yang melangkah dan melanjutkan perjalanan. Beberapa waktu kemudian, tidak sampai hitungan jam, aku pun sampai di tujuan. Ya, sebuah gedung perkantoran di negeri ini. Di sinilah kesan berikutnya terukir. Di tempat yang bagiku sangat asing, bertemu orang asing, namun kami menjadi tidak asing lagi setelah berkenalan. Perkenalan singkat, bersenyuman, lalu ‘beliau’ minta nomor hapeku, Yuhuu, merasa artis sejenak, boleh lah yaa. Tidak, tidak, bukan begitu. Namun aku seperti berjumpa dengan idolaku dan aku lah fans beliau. Karena aku yang pertama kali menghampiri beliau, mendekati, lalu menyapa. Dan semua ku lakukan karena aku ingin lebih dekat dengan beliau. Sebab, ada daya tarik yang beliau ulurkan padaku, sejak pertama ku datang. Ya, sebanyak itu kursi kosong di ruangan tersebut, namun ku memilih kursi kosong di samping beliau. Kursi yang menjadi saksi pertemuan kami. Kursi yang ku duduki, untuk beberapa lama saja. Di sana, kami bercengkerama, bertegur sapa, bercanda, lalu tersenyum dan tertawa. Ah, aku bahagia, sungguh, bahagia. Aku suka gaya ‘beliau’. Seorang wanita muda separuh baya, namun bersahaja. Dengan jilbab rapi mengulur di seluruh tubuh beliau, membuat ku jatuh cinta. Uhibbukifillah, yaa ukhti, Era. Ahlan wa sahlan, dalam kisah hidup kami. Engkau mentari di hatiku. Dan ku saksikan mentari pun tersenyum lebih indah, menatap kami. Meski kami berada di dalam gedung beratap rapi seperti ini, dan ruangannya ber-AC sehingga terasa sejuuuk, namun masih ku rasakan hangat sinar mentari yang mensenyumi kami.

Dear mentari,… engkau inspirasi. Dan beliau, sahabat baruku, adalah mentari berikutnya yang mensenyumi hati ini.

Sebaris senyuman yang engkau beri, sangat berarti bagi kami,

Selembar wajah berbinar berseri, seperti mentari mensenyumi,

Saat bertemu denganmu seperti ini, aku berjanji untuk bahagia seperlunya saja. Pun saat kita berjarak raga, ku berjanji untuk bersedih secukupnya. Karena aku menyadari bahwa semua adalah titipan Tuhan. Agar ku merasakan sensasi dari bahagia dan kes-edihan. Menikmati semua dengan proporsional.

                        Bagiku, jalan-jalan seperti ini pun merupakan refreshing. Sehingga ku menikmatinya… bersama bahagia. Termasuk saat berkunjung di tempat asing, ditambah lagi bertemu orang asing. Namun kami saling tidak merasa asing, karena ada yang membuat kami saling mengenalkan kami dan membuat kami sangat akrab. Jilbab yang rapi.

Bagiku memang begitu, mudah saja cara untuk bahagia. Namun, lain lagi dengan salah seorang temanku di luar sana. Beliau terlihat tidak sedang bahagia, aaaaaaaaaaa… sehingga ku terenyuh membaca barisan kalimat yang beliau kirim padaku, “Bundoooooo… Sutereeesssss, pengen refreshing, liburan yang jauh, ga balik-balik.”

Masya Allah… Semoga temanku di sana, yang lama tak jumpa, baik-baik saja. Dan semangat senantiasa. “Keep  spirit, dear sister. Bila waktunya tiba, pergilah jauuuuuuuuhhhh, namun ajak-ajak Yani, yaa…“, bisikku menguatkan beliau. Sahabat baikku.

Backsoundnya adalah : Takkan Pisah bersama Eren. Karena tadi di dalam busway, sepanjang perjalanan, lagu ini mengalun indah. Lirik-liriknya mengingatkanku padamu, kawan. Ya, engkau ‘kawan baru’ ku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s