dear-you-kita-mungkin-berpisah-namun-engkau-telah-menitipkan-nada-nada-indah-kehidupan-di-dalam-hatiku-terima-kasih-yaa-my-surya

“Kisah ini adalah kisah tentang kita. Kita yang berpisah setelah bertemu dan bersama atau belum pernah bertemu sama sekali.”

***

Perpisahan adalah sebuah kata berimbuhan yang selamanya akan menyertai hari-hari kita. Maka, mempersiapkan diri sebelum bertemu dengannya, adalah pilihan. Supaya apa? Agar kita tidak terkejut dan kaget saat ia menghampiri. Namun saat ia hadir, kita menyambutnya dengan senyuman. Senyuman berhias kesabaran, karena kita yakin bahwa di ujung perpisahan sudah menanti pertemuan yang menggembirakan. Dan kita pun percaya bahwa perpisahan adalah awal untuk kisah indah yang akan kita jelang. Maka, kita pun tetap berbahagia, walau perpisahan yang terjadi. Kebahagiaan yang muncul karena keyakinan yang terus kita jaga. Keyakinan akan ketentuan-Nya yang terbaik untuk kita. Walau perpisahan tidak kita inginkan, namun pasti ada hikmah untuk kita di balik perpisahan yang terjadi.

Kalau kita belum pernah bertemu…, lalu berpisah

Kisah ini adalah tentang kita. Ya, kita yang tidak pernah bertemu, namun sudah berpisah. Perpisahan yang tidak akan pernah ku tangisi. Apalagi untuk ku sesali. Karena memang kita belum pernah bertemu. Maka, melanjutkan langkah-langkah kaki ini dengan ringan menjadi pilihanku. Berharap, kita dapat bertemu. Entah di mana, kapan, dan bersama siapa di sampingmu. Begitu pula denganku. Entah siapa yang berada di sampingku, saat pertemuan kita nanti.

Esok, nanti, lusa, dan atau sebulan lagi. Bahkan setahun setelah saat ini, bila kelak kita bertemu, aku ingin engkau masih mengenalku. Walau kita belum pernah bertemu sebelumnya. Namun dari suaraku yang pernah engkau dengar, semoga engkau lebih mudah mengenaliku nanti. Ya, saat engkau kembali mendengar nada suaraku saat aku bertemu denganmu. Karena ternyata kita pernah bertemu suara. Suara jiwa yang ku alirkan dan engkau pun mendengarkannya.

Sulit, sungguh sulit menerima kenyataan, atas sebuah perpisahan. Walau kita belum pernah bertemu. Namun akan lebih sulit lagi menerima kenyataan atas perpisahan setelah kita bertemu dan menjalani kebersamaan. Bukankah begitu, kawan?

Maka, atas perpisahan kita ini, semoga kita semakin semangat menjalani hari. Semoga kita terus terpacu untuk lebih giat lagi. Agar kita dapat menjemput impian kita tertinggi, dengan sungguh-sungguh. Tanpa harus terusik oleh perpisahan yang sedang berlangsung kini. Mudah-mudahan, perpisahan ini menjadi bahan pelajaran bagi kita, untuk semakin menghargai kebersamaan.

Bersamailah sesiapa saja yang berada di dekatmu kini, dengan sepenuh hati. Sebelum perpisahan pun menyelip di antara kalian. Sehingga, tiada penyesalan di ujung kebersamaan, namun hanya ada kelegaan. Karena kalian sudah menjalani kebersamaan dengan sempurna.

***

Kalau kita pernah bertemu dan kemudian menikmati kebersamaan…, lalu berpisah

Beberapa bulan lagi, salah seorang kolega kami akan berpisah dengan kami. Karena beliau akan meneruskan perjuangan di jalan yang berbeda dengan kami. Maka, jauh sebelum waktu perpisahan itu datang, beliau menginformasikan hal ini pada kami. Supaya kami bersiap, agar kami tidak terkaget saat hari-H. Supaya kesedihan karena perpisahan tidak terlalu dalam. Karena kami pernah bersama, tentu saja sedih saat berpisah akan terjadi. Akan ada airmata yang mengalir dan tangisan di ujung kebersamaan.

“Bukan perpisahan yang ku tangisi, namun pertemuan yang ku sesali,” ungkap Bapak Zainal, mengungkapkan rasa yang beliau alami atas berita ini. Walau begitu, beliau pun menitip pesan pada kolega kami yang akan berpisah dengan kami, begini, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang bertaburan di langit, namun rendahkan hatimu seperti rumput di dasar lautan.”

“Wah… berarti seperti rumput laut yaaa, Paak,” isengku menimpali.

“Iya, ibaratnya begitu. Dan jangan sombong kalau sudah sukses nanti, yaa, namun tetap rendah hati,” tambah beliau pula.

Sebuah pesan yang beliau sampaikan dengan tulus, penuh cinta dan kasih sayang. Karena beliau menyampaikannya dengan nada tenang dan suara damai kebapakkan. Pesan yang langsung membuatku ingin menuliskannya, segera. Karena aku sangat suka pesan yang beliau sampaikan, walau tidak untukku langsung. Namun aku ingin menjadikannya pengingat diri dalam meneruskan langkah-langkah ini. Begini caraku menemukan hikmah dalam kebersamaan kami.

Bapak Zainal, adalah seorang bapak yang ku kenal baru beberapa bulan terakhir. Beliau yang sederhana, ramah, baik hati, dan kalimat demi kalimat yang beliau sampaikan sepanjang kebersamaan kami, penuh dengan makna. Apakah karena beliau sudah lama menjalani hidup di dunia ini, yaa. Sehingga kekata yang beliau suarakan begitu indahnya? Sehingga aku yang belum terlalu lama mengecap asam garam kehidupan ini, menyukainya. Terasa enak, tercium harum aromanya, dan membuatku lapar untuk menguraikannya dalam catatan. Supaya, ada yang menikmati pula, kelezatannya. Sebuah pesan berisi nasihat dalam menempuh kehidupan ini.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s