Thank You, Mom…

Salah satu cara menghargai pemberian adalah dengan memakainya. Supaya pemberian menjadi bermanfaat dan tidak tersia begitu saja. Karena pemberi pasti mempunyai maksud dan mereka tidak melakukannya tanpa tujuan. Makanya, pakailah, bila pemberi memintamu untuk memakai pemberiannya. Supaya dapat menyenangkan hati pemberi, dan tentu saja saat engkau memakainya dengan senang hati. Karena apapun yang kita lakukan dengan hati, maka akan sampai ke hati. Apapun itu.

Sedangkan cara untuk menghargai kebaikan adalah dengan membagikannya. Agar kebaikan tidak berhenti pada satu orang penerima saja. Supaya lebih banyak lagi orang yang merasakan nikmatnya memberi. Semoga semakin banyak lagi orang yang berbahagia dengan melakukan aktivitas penuh kesan ini. Dan aku pun berharap, pemberian atas apapun yang ku terima, tidak berhenti setelah sampai di aku saja. Namun impianku yang lainnya adalah aku dapat menjadi jalan sampainya kebaikan pada sesiapapun yang pantas menerimanya, setelah aku.

Maka….

Salah satu alasan kembalinya aku ke sini, tentu punya arti. Hadirnya aku di sini lagi, membawa misi dan visi. Kedatanganku untuk muncul lagi hari ini, adalah untuk berbagi. Berbagi apa? Walau sebaris kisah bahagia, aku masih ingin berbagi. Tentang pengalaman pertama yang membuatku terpesona, aku datang ke sini untuk berbagi. Termasuk setelah seseorang menitipiku sebuah benda cantik yang unik. Ya, seseorang berhasil membuatku tersenyum lagi hari ini, saat menerima pemberian beliau.

"Terima kasih, yaa Ibu, untuk gelang cantik yang ibu beri. Aku suka, sangat menyenangi. Aku senang menerimanya dengan hati. Aku pun memakainya di pergelangan tangan kiri. Selanjutnya ku ajak ia selfi-selfi di sepanjang jalan menuju pulang tadi. Aiiiii, hihiii… terkesan lebay? Begitulah aku adanya. Karena ku sangat mengapresiasi pemberian berharga ini. So, ku abadikan ia dengan harapan agar ia abadi sepanjang sisa usia ini. Di tambah lagi dengan bebutir huruf yang ada padanya. Huruf-huruf yang membentuk sebuah nama Y-A-N-I seperti ini. Hai, siapa yang tidak suka dengan pemberian seperti ini?

Maka, ku dengan jeli mematut-matut saat ia pertama kali membersamai diri.

"Ai, sungguh cantik sekali, dan aku menyukai. Selamat datang di dunia kita," bisikku padanya yang tersenyum ceria. Karena ku menyambut kehadirannya dengan suka cita.

***

Kami pun bersama kini. Kebersamaan yang ku hargai sebagai pengingat diri. Supaya apa? Agar ia menghargai kebersamaan yang terjalin rapi. Lalu menatanya sepanjang hari dengan sepenuh hati. Merawatnya dengan teliti, menjaganya agar tetap cantik dan mewangi. Supaya keberadaannya menjadi semakin berarti.

Ah, sungguh tiada yang tanpa hikmah dan pesan, wahai diri. Semoga engkau semakin menyadari. Bahwa semua ini adalah hadiah. Termasuk waktu, kebersamaan, pun saat sendiri. Agar engkau semakin menghargai kebersamaan seperti saat ini.

"Tidak boleh menolak rezeki," begini pesan ibu yang masih ku ingat sampai saat ini. Pesan dari hati. Pesan yang ku hayati. Sehingga setiap kali ku menerima pemberian, teringatku dengan beliau yang baik hati, mudah berbagi, senang memberi. Sehingga ku ingin meneladani. Sampai hari ini, walau ibu jauh di mata, namun ku yakin dan percaya bahwa beliau sedang tersenyum saat ini. Senyuman bahagia, sebab beliau memberi.

Sekali lagi, dan lagi, ku sampaikan… "Terima kasih, Ibu. Where ever you are, I miss you so much. Semoga kita dapat bersua lagi, bersama senyuman yang lebih indah, dari hati."

😉 🙂 😉

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close