Alifa namanya. Putri pertama Timoet, sahabat baikku.

"Hai Alifa, kabar tante baik, Alifa gimana kabarnya? Iiiiccccchhhh… imyuut nyaa, gemesh dech #cubitcubitpipiAlifa."

Heheee… aku udah jadi tante-tante, gitu? Aku ga percaya, ga percayaaaa. #Setresendirihihi😀

Masa berganti, waktu berlalu. Hari bertukar, tahun berubah. Bumi terus bergerak, mentari pun sama. Mereka beraktivitas sesuai dengan fungsinya masing-masing. Semua mengabdi seiring pertukaran waktu. Mereka melaju mengiringi perubahan musim. Dan semua berlangsung cepat, tidak menunggu-nunggu. Namun saling bersinergi untuk terus maju.

Begitu. Ya, begitu yang ku pahami dari semua yang terjadi. Demikian yang ku hayati dalam perjalanan ini. Perjalanan yang masih berlanjut, berlangsung dan berjalan seperti ini adanya. Aku yang merupakan bagian dari waktu yang ada. Aku yang berada di sesudut pojok bumi. Aku yang masih melangkah di atasnya dengan ringan. Aku yang berjalan di bawah langit yang sama denganmu, teman. Aku yang berada di bumi untuk beberapa lama saja. Seperti engkau juga, kawan. Lalu, apakah hal bermakna yang dapat ku laksana selama berada di atasnya? Begini ku kembali mengiringi langkah demi langkah dengan tanya.

Seraya melangkah sejak pagi, aku bertanya. Sambil melihat-lihat kesempurnaan ciptaan-Nya, aku berpikir. Saat menggerakkan raga ini, ku berdzikir. Sampai ku tiba di sebuah tempat yang membuatku henti sejenak, untuk kembali bertanya, "Apakah ini adalah tujuan akhir dari langkah-langkahku?"

Ku edarkan lagi arah pandang ke sekeliling. Ada beberapa persimpangan yang ada di depanku. Dan aku sedang berada di salah satu jalan yang ada. Jalan yang masih ku tapaki. Jalan yang sebentar lagi mendekat dengan persimpangan yang ada. Jalan yang akan segera ku tinggalkan, dan aku pun melanjutkan langkah di salah satu jalan yang ada di persimpangan di depanku.

"Jalan yang manakah yang akan ku pilih berikutnya?" aku sempatkan bertanya lagi pada diri. Karena maunya adalah mauku. Walau tidak selalu kemauannya menjadi rencana terbaik-Nya untukku. Maka aku pun berdoa terlebih dahulu. Memohon petunjuk dan pilihan terbaik. Lalu setelah mantab, aku pun melangkah lagi. Bersama ingatan yang sering berisi tanya. Berhias perenungan untuk menemukan makna. Berjalan lagi aku dengan sepenuh hati, seraya menikmati segala yang dapat ku perhati. Lalu aku pun tersenyum, karena mentari pun tersenyum manis dari atas sana. Aku meliriknya sesekali, lalu menunduk lagi, karena hanya ini yang dapat ku laksana terhadapnya setiap kali ku melihat mentari tersenyum meriah. Mentari yang tak dapat ku raih, walau begitu ku selalu mengaguminya. Begitu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s