Beberapa waktu belakangan ini, aku punya permainan baru. Apakah itu? Permainan yang bukan baru, sebenarnya, namun aku baru mengenalnya. Sebuah aplikasi edit foto bernama ‘you make up’. Dan saat pertama kali melihatnya, aku jatuh cinta, aku terpesona, dan tergila-gila untuk mengutak-atiknya lebih lama. Hingga tralalaaaa…😀 Aku pun tersenyum seketika. Karena bersamanya, ku temui ide yang menarik. Idenya adalah bertema “Pilihan.”

Mengapa pilihan?

Yuhu.

Begini kata yang ku pilih untuk mengabadikan kenangan tentang kebersamaanku dengan ‘you make up’. Karena ia memberiku banyak pilihan. Piilhan demi pilihan yang dapat ku ambil sesuai seleraku. Pilihan-pilihan yang sangat menentukan bagaimana hasil yang ku peroleh setelahnya. Pilihan demi pilihan yang membuat ku selektif. Karenanya aku memilih tema ini untuk catatan saat ini. Pilihan yang tidak dapat kita pisahkan dengan hidup ini. Mengapa? Karena sesungguhnya hidup yang sedang kita jalani saat ini penuh dengan pilihan. Ya, pilihan demi pilihan yang datang silih berganti setiap waktunya. Pilihan yang membuat kita harus menentukan salah satu diantaranya. Karena pilihan selalu datang berpasangan.

Apakah akan memilih tersenyum atau manyun? Apakah kita memilih untuk bahagia atau bersedih? Apakah kita mau menerima atau menolak? Apakah kita bersyukur atau kufur nikmat? Apakah kita memilih pergi atau datang? Apakah kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa sama sekali?

Pilihan itu kembali kepada kita.  Karena kita yang menjalaninya.

Tentang pilihan, terkadang kita sudah memilih. Namun ternyata pilihan yang kita buat belum tepat. Hingga akhirnya, kita pun bertanya, “Jadi, aku harus bagaimana dengan pilihan ini? Pilihan yang sudah ku buat.” Maka, tetap jalani pilihan yang telah kita buat,dengan baik. Kalau ia belum tepat, jadikan sebagai pelajaran dalam membuat pilihan berikutnya. Sehingga tidak perlu menyesalinya. Karena tho ia sudah terjadi dan engkau memilihnya, bukan? Maka, tetap tersenyum yaa. Karena wajah yang tersenyum itu lebih indah dipandang dari pada wajah manyun tanpa keceriaan.  Then, apakah saat ini engkau memilih untuk tersenyum atau manyun, teman?

Tentang pilihan, kita memang harus memilih. Walau bagaimanapun, pilihan selalu ada di depan kita. Ketika suatu keadaan kita temui dan ternyata kita tidak menyukainya. Lalu, akankah kita tidak bisa berbahagia dalam menjalani keadaan tersebut? Padahal, ia sedang berlangsung dan kita berada di dalamnya. Nah, akankah kita memilih untuk tetap menjalani dengan bahagia, atau malah sebaliknya?

Memilih berbahagia dengan menikmati waktu, atau memilih bersedih yang berakibat tidak ada kenikmatan yang kita peroleh dalam menjalani waktu. Pilihan kembali lagi pada kita. Baik untuk hal yang kita suka atau tidak.

Dalam hari-hari terakhir, aku kembali belajar tentang pilihan. Ya, pilihan yang mengajarkanku untuk menjadi lebih tenang dalam situasi menegangkan. Untuk belajar tersenyum dalam keadaan tertekan. Untuk mau menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah kebutuhan. Sehingga menjalani keadaan saat ini dengan lebih baik adalah pilihan.

Ya, aku belajar memilih. Memilih bahagia di tengah keterlukaan. Belajar menerima atas ketidaksukaan. Belajar menyadari, bahwa sesungguhnya tidak semua yang aku sukai merupakan yang terbaik untukku.

Seperti halnya aku yang tidak selalu menyukai hal-hal yang ku alami, maka begitu pula halnya dengan mereka di luar sana. Mereka, engkau, dia, sesiapapun selain aku. Apakah engkau pun mengalami hal serupa, teman?

Terkadang, untuk hal-hal yang aku sukai, aku belajar untuk tersenyum lagi. Seraya mensyukuri, bahwa tidak semua orang mengalami seperti yang aku alami. Bahkan saat orang lain hanya dapat mengimpikannya, ku sudah mengalami dengan senangnya. Sehingga saat ku lihat ada orang yang bersungut-sungut (mengomel) atas keadaan yang tidak ia suka, maka aku memilih untuk mensenyumi. Seraya bergumam dengan diri, “Terlihatnya kurang enak dipandang yaa, ekspresi mereka.” Maka, aku belajar untuk tidak menjadi seperti yang mereka laksanai. Karena ku ingin belajar mensyukuri hidup ini.

Aku belajar menerima keadaan. Aku belajar dari hal-hal terdekat dan terkecil lebih dahulu. Aku belajar semenjak dini. Aku belajar dari diri. Mulai dari hal yang paling sederhana.

Saat ada yang tak ku sukai namun ku temui, maka ku bertekad di dalam hati untuk tidak melakukannya pada orang lain. Demikianlah caraku menata diri, mendata hati, membenah pikiran ini. Semoga kehidupan di hari-hari ke depannya menjadi lebih baik lagi, dengan begini.

Saat kita memilih untuk tersenyum atas keadaan yang tidak kita sukai, maka kita belajar untuk memahami. Kita belajar mengerti, dan belajar mengenali karakteristik berbeda dari orang-orang selain kita. Termasuk keadaan. Semua adalah untuk kebaikan kita. Agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari  ke hari. Menjadi insan yang lebih tahu diri dari waktu ke waktu. Menjadi makhluk bumi yang terpuji. Tidak hanya oleh penduduk bumi, namun juga oleh penghuni langit.

Maka, saat kita akan membuat pilihan apapun dalam hidup ini, semoga kita selalu ingat untuk menjadi tahu diri. Karena kita tidak ada dengan sendirinya, tidak tercipta untuk diri kita sendiri, namun untuk bersinergi dengan semesta.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s