Hello, di manakah engkau sekarang. Hei, sekarang engkau di mana? Engkau, ya engkau. Siapapun engkau, di manapun engkau berada saat ini. Ada pesan dari ku, “Keep Smile, yaah. Smiling heartfully

Senyum, ada apa dengan senyuman? Seberapa berarti kah senyuman bagimu, kawan? Lalu, apakah senyuman itu penting? Dan kapan saja kah kita dapat tersenyum? Nah, bagaimana caranya agar senyuman dapat menebar pada wajah kita, di saat-saat kita sangat membutuhkannya? Sedangkan kita dalam kondisi tidak mood untuk tersenyum? Agar senyuman kita sampai ke hati. Padahal saat bersamaan, hati kita sedang tidak mau tersenyum. Bagaimana ini, bagaimana?

Tersenyum, bagi sebagian orang sulit untuk melakukannya. Namun bagi sebagian yang lain, sangat mudah bagi mereka untuk tersenyum. Entah tersenyum karena terpaksa, atau karena mereka benar-benar ingin melakukannya. Sehingga, wujud senyuman mereka pun terlihat segera, dari ekspresi yang mereka perlihatkan pada wajah. Apakah hanya senyuman basa basi, atau memang dari hati. Semua terdeteksi, dari raut wajah mereka yang tersenyum. Perhatikanlah, buktikanlah, sendiri. Aku pun suka melakukan penelitian seperti ini. Hihiii. Secara tidak langsung, siich.

Senyuman. Sepanjang waktu dari pagi tadi, aku berpikir tentang satu kata ini. Satu kata yang sangat ku inginkan menjadi bagian dari hari-hariku. Senyuman yang menemani, senyuman yang ku terima, bahkan senyuman yang ku berikan. Sehingga hari-hari yang penuh senyuman pun tidak lagi impian, namun sangat dekat dalam kenyataan. Yah, begini aku menginginkan. Sudah sejak lamaaaaaaa, lamaaaaaaa sekali. Dan kini, senyuman demi senyuman itu bukan lagi impian. Karena terkadang, ku ciptakan senyuman pada wajah ini, saat ku ingat orang-orang yang ku sayangi, bila ku sedang sendiri. Karena ku bahagia, menjadi bagian dari hidup mereka. Dan di lain kesempatan, saat ku bertemu dengan relasi, teman-teman atau pun orang yang sama sekali belum ku kenali, maka ku tersenyum pada mereka. Reflek, spontan. Karena ku bahagia, hadir dalam kehidupan mereka. Meski sebentar, walau pertemuan kami sekejap saja. Begitulah yang ku alami akhir-akhir ini. Senyuman dari hati, sepenuh hati.

Senyuman. Menurutku, memang kita tidak boleh pilih-pilih untuk memberikan senyuman. Karena sesiapapun yang kita temui, berhak atas senyuman terbaik yang kita beri. Sehingga mereka senang dengan kehadiran kita. Supaya detik waktu berikutnya yang kita habiskan bersama, menjadi semakin berarti dan ada kesan tersendiri yang dapat kita kenang nanti, setelah kita berjarak lagi. Maka, menghiasi waktu kebersamaan dengan saling membagi senyuman, kiranya menjadi lebih mudah, bukan? Yah, seperti ini sederhananya. Sehingga tidak perlu lagi membawa wajah berlipat-lipat saat bertemu dengan orang lain. Namun sumringah, bahagia, penuh senyuman akhirnya menjadi pilihan. Walau nun jauh di dalam hati, mungkin kita sedang mengalami kondisi mengenaskan. Meski di dalam pikiran, sedang berat beban yang kita emban. Akan tetapi seulas senyuman dari hati, kiranya dapat meringankan. Karena kita tidak tahu pasti, keadaan yang juga dialami oleh orang-orang yang kita temui.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s