Hai, Bro! Apakah yang engkau pikirkan? Sampai sedemikian tafakur dalam keheningan.

-Ku renungkan hidup ini-

Adakah yang sedang mengusik pikiran? Atau hanya untuk menghilangkan jenuh di tengah kesibukan?

Sejauh ini kita berteman, ku lihat padamu sisi kebaikan. Ya, banyak kebaikanmu kawan, yang tidak kelihatan. Termasuk dari caramu bersikap dan bertutur kata. Walau secara langsung terkadang engkau bicara blak-blakan. Namun bukan bermaksud menunjukkan ketidaksopanan. Namun memang demikian adanya dirimu kawan, dan aku memahami.

Hai, Bro! Engkau kawanku kini. Engkau yang meneladankanku banyak hal tentang kehidupan. Termasuk tentang pengalaman yang engkau telah dapatkan di dalam perjalanan hidupmu. Engkau membagikan dengan penuh ketulusan dan berhias keikhlasan.

Hai, Bro! Terima kasih untuk waktu yang engkau luangkan dalam berbagai keadaan. Untuk apa gerangan? Kalau bukan menertawakan keadaan. Yah, termasuk menertawakan kenyataan yang berlangsung dan engkau alami. Aku belajar banyak darimu kawan. Entah bagaimana ku dapat membalas segala kebaikan. Aku sungguh tak tahu. Oiya, dengan menyisipkan beberapa bait tentangmu yang sempat ada di dekatku, adalah pilihan. Karena dengan begini, semakin jelas, bukan? Bahwa engkau benar-benar ada.

Hai, Bro! Kawanku, tetap semangat, yaa. Meski ragamu lelah oleh beban pekerjaan. Namun saat engkau melakukan dengan kesukahatian, maka akan engkau dapatkan senyuman di hari kemudian. Yakin dan percayalah kawan, bahwa tiada yang sia-sia. Selagi engkau percaya, bahwa adalah balasan untuk setiap kebaikan. Maka, tetap berbuat baiklah dengan segala kemampuanmu. Semoga selalu ada jalan.

Hai, Bro! Bekerjamu untuk memenuhi nafkah keluarga. Bergerakmu untuk menjemput sesuap rezeki yang halal. Dengan seluruh kekuatan engkau kerahkan. Ahhhh… kalau aku jadi engkau, bro, mungkin aku tak sanggup demikian. Justru karena itulah aku tercipta sebagai perempuan, yang penuh kelembutan. Sehingga tiada beban berat yang semestinya kami pikul, untuk raga ini. Namun engkau percaya bukan? Bahwa meski kami tidak bekerja mengangkat beban berat dengan raga kami, namun ada beban tanggung jawab di pundak kami. Walau tidak kelihatan, namun kami pun mempunyai kewajiban sebagai perempuan. Oke Bro, adil, bukan?

Hai, Bro! Selintas, ku melihat raut wajahmu yang penuh dengan kerutan. Apakah yang terjadi gerangan? Benarkah karena lelah fisikmu yang sudah berlebihan? Atau karena masih banyak beban lainnya yang menggelayut di pikiran? Santai, broo… semua ada untuk menguji keimanan.  Engkau tidak mengalami hal demikian, kecuali karena engkau sanggup, kawan. So, keep spirit yaach.

Hai, Bro! Untuk berbicara seperti ini dalam tulisan, aku sesungguhnya sedang menasihati diriku sendiri. Agar, aku menjadi tahu diri sebagai seorang perempuan. Bukan malah memiliki banyak tuntutan terhadap kaum Adam sebagai penanggung nafkah dalam keluarga kami (kelak). Supaya aku semakin gemar bersabar atas kekurangan dan mempertinggi syukur atas kelebihan. Karena semua adalah titipan Tuhan. Patut, kita mengembalikan semua kepada-Nya, bukan?

Hai, Bro! Melihatmu dalam kondisi seperti ini, aku pun berpikir hingga ke masa depan. Tentang seseorang yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidupku kelak. Yah. Tuchh, kannn? Aku kembali teringatkan. Ingat dan kemudian pikiranku terpenuhi oleh ingatan lagi, tentang pernikahan. Yak, karena engkau pun bertanya padaku tentang hal ini, meski sekelebat dan kemudian terabaikan oleh senyuman yang ku jadikan sebagai jawaban.

“Lalu, kau gimana, Yan?” dengan logat khasmu, engkau menanyaku. Di sela-sela waktu kita bertukar suara. Sembari engkau asyik dengan gadgetmu.

“Gimana, apanya?” tanyaku penasaran.

“Kapan nikahnya?” engkau memperjelas.

“Hhmmmm… doakan saja ya Paa..? Hehee, :) ,” tak ada lagi jawaban yang dapat ku berikan, kemudian tersenyum penuh arti. Sedangkan engkau masih sibuk sendiri.

“Iya, iyaa tentu, jangan lama-lama, ya, Yan. Apa lagi ya ditungguh,” tambahmu kemudian.

“Okkkeee, hehee..,” tersipuku, dan terharuku, atas ingatan yang engkau sampaikan padaku. Hingga aku pun teringatkan lagi. Thank you, teman.  

***

Hai, Bro! Ternyata bukan engkau saja yang mau mengingatkanku tentang hal ini. Namun semenjak pagi hari tadi, juga ada yang mengingatkanku. Yaph, kawan kita yang lainnya, tentu saja. Beliau yang juga perhatian dan empatian padaku (ceritanya).

“Uhuuuum,” terharulah aku. Teringat-ingatlah sama aku, lagi hingga detik ini. Nah, agar pikiranku kembali lega, ku perlu mencurahkannya dalam bentuk catatan, seperti ini.  Agar tak terpikir-pikir. Hihiii, dan tentu saja sebagai kenang-kenangan tentang “Pertanyaan-pertanyaan yang mampir padaku, sebelum pernikahanku. Sampai seberapa seringkah? Sudah seberapa banyakkah? Ah, kita lihat saja, kawan.”

***

Maka, aku pun menyapamu kawan. Engkau kawan ku di masa depan. Entah kita sudah pernah bersapa dan bertemu atau belum? Apakah kita memang sama sekali belum mengenali?

Hai Bro!” What do you think about?  :D Hehee.

🙂🙂🙂

 

2 thoughts on “Hai, Bro!

  1. HI, I am leaving my comment in English as that is my only language. I wanted to thank you for following my blog on diet, exercise and living past 100. I hope it proves helpful to you.

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s