Aku baru pertama kali ada di sini, di tempat seperti ini. Di lokasi yang asing bagiku, tiada sesiapa yang ku kenal. Walau begitu, ku akan tetap ada di sini. Karena menurutku, tempat ini adalah tempat terbaik yang ingin ku kunjungi sebelumnya. Dan setelah saat ini ku berada di sini, akan kah aku berlalu begitu saja? Hanya karena tiada seorang pun yang ku kenal di sini? Bukankah ini adalah kesempatan terbaik bagiku untuk berkenalan? Ya, menyapa terlebih dahulu, terhadap orang-orang yang ku temui. Yah, lebih baik begini. Sehingga ku dapat mengenal orang-orang baru, bertemu dengan wajah-wajah segar, dan dapat membuka cakrawala pandangku tentang mereka dari kisah kehidupan yang mereka bagi.

Di sini, di manakah aku berada saat ini?

Sebuah lapangan luas yang telah dipenuhi oleh banyak rumah. Di rumah-rumah tersebut, para penghuninya sedang melakukan aktivitas beragam. Semua terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing, saat ku pertama kali sampai di sini. Sehingga membuat aku sempat terpesona oleh mereka. Ah, telah terbayangkan oleh ku sebelumnya. Bahwa aku akan berada di tempat seperti ini. Makanya aku mempunyai keinginan untuk sampai di sini pula. Dan kini, apa yang ku alami bukanlah mimpi. Juga tak sekadar ilusi atau imajinasi (lagi). Namun jelas-jelas, kami sedang bersama kini. Ini nyata, wahai diri, bukan mimpi. Aku berusaha meyakinkan diriku sekali lagi, saat ia masih bertanya, “Di manakah kita berada saat ini? Mengapa aku merasa asing di sini? Dan baru pertama kali kita berada di sini, kan?” Tiada henti ia menanyaiku. Dan begitu pula denganku. Tidak pernah bosan ku meyakinkannya lagi. Bahwa memang, semua ini nyata.

Siang begitu terang saat ini. Karena mentari bersinar dengan sempurna. Sehingga suasana alam pun menjadi terasa lebih berenergi. Hidup. Yah, nuansanya sangat hidup.  Sehingga untuk menjalankan aktivitas pun membuat semua orang menjadi lebih bersemangat. Ini terlihat dari gerak lincah mereka saat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Terpantau pula dari bunga-bunga senyuman yang menebar pada wajah mereka yang antusias. Ya. Sehingga energi positif yang ada di sekelilingku seperti ini, turut mempengaruhiku. Aku pun menjadi bertambah energi. Untuk melanjutkan aktivitasku dan meneruskan langkah-langkahku. Meski hingga saat ini, belum ada seorang pun yang ku sapa untuk berkenalan. Sehingga kini, aku masih sendiri, di sini.

Aku pun asyik memperhatikan aktivitas mereka dari tempatku berdiri, seraya mengabadikan dalam diari. Hihiiii…  Aktivitas yang ku senangi.

Aku, berada di sini hingga saat ini, masih di sini. Untuk menjadi paparazzi? Sesekali. Untuk mengenali diri sendiri? Ini pasti. Karena dengan begini, ku menjadi tahu diri. Dan mengenali orang-orang asing di sekitarku kini, melalui cara pandangku, sebelum kami berkomunikasi. Beginilah caraku dalam menempuh hari.

Engkau, hai, yaa engkau. Engkau yang di sana, yang sedang asyik sendiri juga. Apakah yang engkau pikirkan teman? Mengapa hanya diam saja? Yukk, mari ke sini. Temani aku memanfaatkan waktu, agar ku tidak sendiri lagi, seperti ini. Should you accompany me?

Engkau, ya, engkau. Engkau akan menjadi teman bagiku. Engkau yang akan menghiasi waktu-waktu ku berikutnya dengan warnamu. Engkau yang unik, tentu tak ada yang menyamai. Maka tetaplah menjadi dirimu, selalu. Aku memperhatikanmu dari sini, di tempat ku berdiri.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s