Allah, Dia selalu punya cara terindah untuk mengejutkan kita.  Dia, selalu memiliki langkah termudah untuk membuat kita bahagia. Dia, sering menyelipkan pesan untuk kita baca, di mana saja. Dia, tidak pernah lupa memberi kita perhatian, pengertian, kepedulian, bahkan di saat kita lupa mengingat-Nya. Dia selalu memberi kita kesempatan (lagi), saat kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan pertama dengan baik. Dia, senantiasa sayang pada kita, dengan cara-Nya. Dia, sungguh mencintai kita, dengan demikian Ia Menciptakan kita. Lalu, banyak nikmat selalu Ia sampaikan pada kita. Nikmat yang kadang mungkin tidak kita sadari, sehingga kita lupa bersyukur. Nikmat yang sering kita nikmati, namun kita lupa berterima kasih atas nikmat tersebut.

Ah, bagaimana pula kita ini?

Allah, Dia tak pernah lupa kebutuhan kita. Sehingga Ia mengatur langkah hidup kita sedemikian rupa. Dengan cara memberi kita petunjuk yang sempurna untuk kita ikuti dalam melangkah. Supaya kita membaca petunjuk tersebut dan memahaminya agar kita tidak tersesat dalam melangkah. Supaya kita mau bertanya, atas hal-hal yang belum kita mengerti. Agar kita mau berpikir dan menelaah lagi, memikir ulang dan mau belajar di sepanjang hidup kita. Dan bersama petunjuk yang telah Ia beri, kita semakin ringan meneruskan hidup ini. Dengan tidak ada rasa menyesal, kecewa, putus asa, apatah lagi kehilangan semangat saat harapan belum menjadi kenyataan.  Karena kita yakin dan percaya bahwa Ia selalu memberikan yang terbaik untuk kita sesuai dengan kebutuhan kita. Mungkin harapan tersebut belum menjadi kebutuhan kita pada saat kita berharap. Dan kita semakin  rajin berdoa, berjuang dan berusaha. Hingga saat harapan menjadi kenyataan, pada saat itulah kita benar-benar membutuhkannya. Bukan lagi sekadar keinginan. Lalu, kita pun berbahagia, bahagia yang tertata.

Allah, Dia selalu punya cara untuk membuat kita kembali ingat kepada-Nya. Entah dengan cara-cara yang kita suka, atau cara yang kita belum memahami. Bahwa di balik ketidaksukaan kita, ada hikmah yang menanti. Dan kita bertanya, apakah hikmah di balik semua ini? Ya, begitulah cara Allah mengingatkan kita lagi kepada-Nya. Supaya kita, semakin yakin dengan janji-Nya.

Begitu indah…

Sungguh bahagiaa..

Lega rasanya, ku berbunga-bunga…

Ku tahu ini tak akan pernah berlangsung lagi.

Menyadari semua ini bukan mimpi, bukan mimpi.

Ku bahagia, akhirnya penantian ini berakhir. Kaito muncul dengan wajah manis penuh senyuman. Senyuman khas, yang sangat ku kenali.

Selamanya, ku akan melangkah lagi dan terus melangkahkan kaki-kaki ini. Untuk ku capai bahagia yang ku tuju. Untuk temukan sesiapa yang ku rindu. Untuk rasakan bahwa sesungguhnya, bahagia itu ada. Bahagia yang sangat dekat di sini, bukan di mana-mana. Bahagia yang ada, di manapun ku berada kini. Ku bahagia, sungguh bahagia. Dengan apa yang sedang ku laksana. Aku bahagia.

***

Terima kasih Kaito, atas pengalaman berharga yang engkau selipkan di dalam hariku. Hari yang indah saat kita bersama, melangkah dan bermain menikmati waktu kita. Walaupun kita sudah lama bersama, namun hari ini adalah kebahagiaan yang tertunda sejak lama.

Aha!

Kaito adalah sahabatku. Sahabat lama, yang saat ini masih melangkah bersama dengan ku. Karena kami pernah berjanji untuk selalu menjaga langkah-langkah ini. Hingga tibalah pada suatu hari yang cerah, menjelang sore. Detik-detik mentari mulai menggelinding ke sisi langit Barat. Bersama senyuman hangatnya, ia mensenyumi kami yang ada di dunia. Mensenyumi ku dan Kaito yang asyik bercengkerama.

Eitts, mentari pun mencubiti pipi ini dengan sinarnya yang masih terik. Walaupun sudah sore. Hiks, perih. Ditambah lagi dengan kondisi kami yang belum mandi sore hari. Hai, sungguh semakin tak menentu lagi keadaan yang kami alami. Maka, dengan kondisi demikian, kami pun mencari-cari cara agar masih dapat menikmati waktu. Kami menemukan cara untuk tetap mensenyumi keadaan. Maka, terjadilah aksi nyata antara seorang fotografer cantik dan model imut di lokasi terdekat kami.

Yes, aku tidak suka menunggu. Sesungguhnya aku tidak senang menunggu. Dan aku berharap tiada waktu menunggu yang ku lalui. Namun saat kenyataan memintaku harus menunggu dan mesti begitu, bagaimana tanggapanku? Ya, aku pun mesti menunggu, khan? Nah, dalam masa penungguan, membuatku berpikir, dan mencari cara, bagaimana cara menikmati waktu menunggu. Agar, waktu menunggu tidak menjadi membosankan. Agar, saat menunggu menjadi berkesan. Supaya penungguan menjadi berarti, lebih bermakna. Dan ada kenangan dalam masa menunggu.

Yuhu, ceritanya, suatu sore menjelang kami bertemu, aku telah menunggu Kaito. Sekitar setengah jam lamanya. Yah, sepanjang waktu itulah, aku memanfaatkan untuk berpikir dan menemukan ide, bagaimana agar penungguan ini tidak berakhir begitu saja, meski nanti Kaito sudah datang. Dan setelah Kaito datang, ide pun ku sampaikan padanya, agar ia mengabadikan ekspresiku saat menunggu tadi. Kaito pun setuju, yes, yes, yes, akhirnya bisa update wajah lagiiiih. Terima kasih Kaito, untuk senyuman yang engkau bawa, saat kita berjumpa. Sehingga, penungguanku tadi menjadi tidak berarti lagi. Ia berlalu begitu saja, seiring dengan tiupan bayu yang menyapu wajahku. Semilirnya syahdu, seiring dengan kehadiranmu dan aku menyambutmu dengan senyuman khasku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s