Ya, pada kenyataannya, hidup yang kita jalani di dunia ini singkat; sangat singkat. Sehingga kita tidak dapat memperpanjang jatah usia, bila tiba masanya kembali. Kembali pulang ke kampung halaman kita. Kita yang berada di bumi ini, di dunia yang cantik ini, hanya sementara saja. Sementara kita ada di dunia, dalam waktu yang singkat ini, apa yang kita laksana, kawan?

Kawan…

Aku hanya ingin mendoakanmu dalam diamku. Karena diam-diam ku ingin terus menjadi sahabatmu. Sahabatmu menuju surga seperti impianmu. Impianmu yang engkau sampaikan padaku, dan aku pun mengangguk pelan, seraya mengiyakan. Walau engkau tak melihat. Saat engkau bertanya, maukah aku menjadi jalanmu menuju surga impianmu? Impian yang bukan berlebihan, namun memang harus demikian. Demikian caranya agar engkau, aku, kita dapat menjaga nyala semangat dan membangkit harap lagi. Supaya mereka terus membersamai diri ini. Diri ini yang sedang melangkah di dunia. Dunia yang akan berakhir. Berakhir bahagiakah kita di dunia ini? Dunia yang ingin kita tinggalkan dengan senyuman. Senyuman yang hadir karena akhir kehidupan kita baik, husnul khatimah. Husnul khatimah adalah harapan kami saat akhir usia di dunia ini yaa Allah, allaahumma aamiin. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Allah penggenggam seluruh alam ini, pasti tahu yang terbaik untuk kita. Kita yang hanya hamba-Nya. Hamba yang tidak mampu berbuat apa-apa tanpa izin dan ridha-Nya. Ridha yang senantiasa kita pinta di dalam doa. Doa yang kita lantun dengan penuh harap, mengiba, memelas, menangis. Menangis juga kita saat ternyata, apa yang kita harap tak terjadi dalam kenyataan. Kenyataan yang mesti harus dan tetap kita jalani. Karena perjalanan hidup kita di dunia ini belum berakhir, teman.

Teman…

Di kesempatan terbaik ini, ku ingin menyapamu lagi, di dalam diamku. Diamku yang bukan berarti aku bosan mendengar cerita-ceritamu. Cerita yang engkau sampaikan padaku dengan antusias, bahagia, senang, sehingga membuatku pun terbawa suasana yang sama, seperti saat engkau bercerita. Ya. Berceritalah terus, teman. Tetaplah bercerita, untukku. Walau saat ini, engkau tidak mendengar suaraku lagi, untuk mengiyakan ceritamu, atau menanya tentang hal yang aku tak tahu. Tetaplah bercerita, teman, untuk menemaniku dalam perjalanan. Perjalanan yang masih terus ku lanjutkan, sebelum ku sampai ke tujuan. Tujuan bahagia, bahagia yang sesungguhnya.

Sesungguhnya, berat bagiku saat mengingatmu, ketika engkau tidak menyapaku lagi dengan senyumanmu. Senyuman yang menggerakkanku lagi agar mau berjalan. Berjalan dan melangkah saat meneruskan perjuangan. Perjuangan menjemput impian, merangkai senyuman, menitikkan sebait kebaikan melalui goresan tulisan, tulisan yang akan terus ada walau nanti ku tiada.

Tiada, tiada maksudku untuk menghindarimu, teman. Teman baru yang sangat ku banggakan. Bangga, sungguh bangga ku mengenalmu teman, walau kita belum pernah bertemuan. Pertemuan yang engkau harapkan, aku pun mendambakan. Namun belum menjadi kenyataan, karena masih ada yang perlu kita perjuangkan. Perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri, menunda kepentingan sendiri, demi membahagiakan mereka orang-orang yang kita cintai.

Berat bagiku, untuk menolakmu sebagai bagian dari rezekiku. Rezeki yang sangat ku syukuri. Syukur yang terus melambung, meninggi, menembus awan, menjangkau puncak-puncak gunung tertinggi. Tinggiiii, tinggii… sekali syukurku atas hadirmu dalam duniaku. Dan berat bagiku untuk akhirnya melepasmu pergi, agar berjarak dari ingatan. Namun lebih berat lagi bagiku, untuk melanggar nasihat bunda, saat engkau masih menyapaku dari kejauhan. Kejauhan yang membuat kita semakin dekat, karena teknologi yang mempertemukan. Hingga, tiada lagi batasan-batasan, ah! Sepertinya ada yang perlu kita luruskan. Maka, ku ambil keputusan, and then you agreed! Walau tidak sepenuhnya rela. Aha! This is good idea.

Hidup yang singkat tetap berlangsung. Kita, mesti terus melangkah di dalam kehidupan.

Berjalanlah lurus, menuju impianmu. Impian yang terlalu lama engkau sangkutkan. Berjalanlah lagi, dengan semangat tinggi. Setinggi harapmu agar impian menjadi kenyataan. Agar, saat impianmu belum menjadi kenyataan, engkau masih dapat menebarkan senyuman pada alam. Karena harapanmu masih ada, selalu ada, dan selamanya membersamaimu dalam menjemputnya. Jemputlah impianmu lagi, saat ia semakin menjauhi diri. Bangkitlah lagi untuk menggenggam impian, ketika ia sempat membuatmu terjungkal, terpental, terhuyung dan sempoyongan.

Ya, bangkitlah lagi, saat ini. Sampaikan pada impianmu, bahwa ia masih mungkin engkau rengkuh dengan harapanmu dan tangan-tangan tidak terlihat yang senantiasa mengulur untukmu. Sampaikan pada impianmu, bahwa engkau tidak pernah sendirian. Sampaikan pada impianmu, bahwa hidup ini terlalu singkat untukmu. Sehingga impianmu perlu engkau rengkuh sebelum waktumu habis. Dan masih ada kemungkinan untuk menggenggam impian, selagi engkau masih menjalani kehidupan.

“Peluklah gunung impianmu melalui tangan-tangan tidak terlihat di luar sana, kawan. Karena tanganmu yang sepanjang itu tidak akan mampu memeluknya.”

“Berdoalah untuk orang lain, maka doa-doa tersebut kembali padamu…”

“Waktu kita singkat, ayoo semangat!”

Kehidupan ini, terlalu singkat untuk sering kita tangisi, saat kenyataan tidak sesuai harapan. Kehidupan ini pun terlalu berharga untuk kita warnai dengan duka-duka saja, ketika ada yang kita alami dan tidak kita sukai. Kehidupan ini pun terlalu sayang, bila kita menitipkan berkas-berkas kepedihan saja di atasnya, saat kita bersedih.  Karena ia akan berlalu, karena kebersamaan kita dengannya terbatas waktu. Maka, nikmati hidupmu hari ini, dengan senyuman. Senyuman yang membuatmu semangat lagi, untuk melangkah. Senyuman yang membuat wajahmu sumringah lagi, setelah terlelah. Senyuman yang menarik sesiapa saja di dekatmu, untuk semakin nyaman bersamamu. Karena mereka suka dengan senyumanmu. Karena bukan wajah kusut berlipat-lipat yang engkau tampilkan untuk mereka. Namun wajah ceria, tulus bersahaja, bersinar bahagia, yang mereka dapati saat menatapmu. Begitu pula aku, aku sangat sukai wajah-wajah cerah nan merekah senyuman di sana. Sangaattt ku suka. Sehingga hidup yang singkat ini, menjadi terasa indah dengan adanya wajah-wajah yang sumringah. Ah, kemarin seperti mimpi. Hari ini nyata lagi. Sedangkan di hari esok, akan ada kenangan terindah.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s