For : My lovely sister

Persembahan dari hati, akan sampai ke hati. Yakini.

“Kaaa, kakaaa, mari kita nyemil-nyemil lagii. 😀  Kakak suka ini, nggaa?,” tawarku seraya menunjukkan beberapa jenis cemilan yang ku bawa dari rumah kost, tadi. Beliau baru saja datang, dan kemudian tersenyum sumringah padaku. Aku suka ekspresi penuh senyuman seperti ini.

“Spesial buat Bunda kembar, ini bikinan Amak,” ucapku seraya menyerahkan sekotak cemilan ringan sederhana di atas meja beliau.

“Appaaa… lah ini,” jawab beliau dengan nada dan logat khas daerah yang kental. Kemudian meraih kotak dan membukanya. Beliau menerima dengan senang hati, dan aku suka saat beliau menikmati.

Aku pun tersenyum, menyambut dengan jawaban ringan, “Hee… hee.. hee..” lalu ku beranjak dan bergegas ke mejaku. Kemudian duduk manis seraya memetik helai-helai stik ubi rambat nan gurih bikinan ibunda. Enak di lidah, sedap di mata. Ibunda selalu begitu. Membuatkan cemilan, masakan ataupun menu terlezat buat kami putra-putri beliau, dengan senang hati. Sehingga sepanjang sejarah kehidupanku hingga hari ini, tidak ada satupun masakan ibunda yang tidak ku suka. Semuaaaanya ku suka, karena enak dan ibunda membuat dengan bumbu cinta nan melimpah. Cinta berlebih dan tertakar seimbang dalam setiap menu yang beliau hidangkan untuk keluarga.

Ibunda adalah chef terhebat yang pernah ku kenal. Sehingga setiap saat ragaku jauh dari beliau, entah untuk merantau atau berkunjung ke tempat saudara di kota lain, aku selalu rindu beliau. Aku rindu masakan beliau. Makanya, saat jauh dari beliau, aku jadi jarang suka makan begini, hihii.  😀

***

Sebelumnya, aku memang sudah datang lebih dahulu, seperti biasanya. Dan langsung melakukan aktivitas pagi ku. Nah, beberapa saat kemudian, salah seorang kolegaku di sini, pun datang. Ku sebut beliau bunda kembar. Karena buah hati pertama beliau adalah si kembar laki-laki. Kembar dua sekaligus saat lahir, alhamdulillah. Semoga kalian bertumbuh menjadi pribadi dan permata jiwa ibunda yang berbakti, yaa Nak. Teruslah bertumbuh, menyemangati beliau dengan senyuman lugu kalian. Teruslah berkembang, membahagiakan beliau dengan tangisan manja kalian. Teruslah berubah, menjadi alasan beliau untuk berjuang lebih tegar lagi. Karena kalian adalah alasan beliau untuk terus berusaha. Maka, jangan sia-siakan pengorbanan beliau, Nak…!

Menurut kabar dan informasi terakhir dari bunda kembar, duo bayi mungil beliau sudah bisa kepandaian baru, yaitu tertawa, dengan umur tiga bulannya. Aha! Ekspresi beliau saat menceritakan tentang si kembar, membuatku ikut berbunga-bunga. Beliau terlihat sangat bahagia, beliau senang luar biasa. Ekspresi yang berbeda dengan ketika beliau sedang bercerita tentang cara menghadapi aneka problema dalam rumah tangga. Ekspresi yang bertolak belakang dengan saat-saat beliau meluahkan segenap suara hati beliau saat berbagi pengalaman berkeluarga, denganku. Ekspresi beliau saat menceritakan buah hati, adalah ekspresi luar biasa yang ku ketahui. Sehingga, dalam beberapa kesempatan terbaik, di waktu luang kami dan beliau tidak terlihat sibuk, ku bertanya pada beliau tentang perkembangan si kembar terkini. Maka dengan lancarnya, mengalir, beliau menceritakan segala kelucuan si kembar. Ah! Membuatku ingin menyaksikan langsung tingkah menggemaskan para bayi itu. In perfect time, tante akan membersamai waktumu, dear babies.  Wait for the moment, please…  ;)

***

Ibu. Bagiku, ibu adalah segalanya. Beliau adalah alasanku untuk mau beranjak dari zona nyamanku. Ya, saat ku sedang nyenyak-nyenyaknya terlelap di samping beliau untuk merangkai mimpi, maka beliau memintaku untuk memenuhi harapan beliau, merantau. Maka, demi ibu, aku pun setuju. Aku rela berpisah dengan beliau untuk jarak yang tidak sedepa, demi melihat rona bahagia di wajah beliau. Untuk masa depan yang lebih baik, bisik beliau suatu waktu. Dan ingat, saat di perantauan nanti, roda kehidupan akan selalu berputar. Terkadang kita berada di bawah, terkadang di atas. Maka, tetaplah ingat selalu, kepada Allah, dalam kondisi bagaimana pun. Agar hatimu lapang saat menjalani, supaya jiwamu lega menghadapi kehidupan ini. Dan terus melangkah, yaa Nak. Dengan langkah-langkah ringanmu. Bergeraklah, untuk maju. Begini pesan ibu, beberapa saat sebelum keberangkatanku, sebelum berjarak raga dari beliau. Walau raga kami berjarak, namun hati kami selalu dekat. I always miss you amak.

Ibu. Melalui tangan lembut beliau, aku merasakan ketenangan dalam hari-hariku. Melalui doa-doa tulus beliau, ku alami kebahagiaan dalam waktu-waktuku. Melalui kebaikan demi kebaikan yang beliau lakukan, sampai saat ini banyak kebaikan yang ku terima, ku alami, dan rasakan dari sekitar. Karena dalam yakinku, ibu merestui langkah-langkahku. Doa beliau menyertaiku selalu. Maka saat ada yang tidak beliau relai untuk ku lakukan, maka aku pun menurut pada ibu. Termasuk saat-saat terakhir, ketika ku kenalkan pada ibu seorang laki-laki yang dikenalkan kepadaku. Ibu bilang, “No!”. Hohooo… Sungguh terkaget aku. But, walau bagaimanapun, ibu adalah segalanya bagiku. Dan titah beliau bagiku adalah perintah. Larangan beliau bagiku adalah kebaikan. Sedangkan suruhan beliau adalah kewajiban. Maka, ku berjuang berdarah-darah untuk melepaskan,… menerima kenyataan.

Selanjutnya, dengan tetap menjaga nyala harapan, ku terus melangkah, berjuang, untuk menemukan teman terbaik, berikutnya. Sebagai hadiah dan kado terindah buat ibu. Kado yang ibu suka dan beliau bilang, “Yes! I like!” Walau ku tahu, beliau tidak akan pernah bisa bilang dengan bahasa ini, karena ibuku seorang yang tidak berpendidikan tinggi, apalagi untuk mengerti bahasa Inggris. Akan tetapi, dari beliau ku belajar banyak hal. Karena ibu adalah madrasah tempatku mulai belajar. Beliaulah guru kehidupanku.

Ibu.  Melalui beliau, aku belajar tenang dalam keterguncangan. Dari beliau ku mengerti bagaimana bersikap terhadap penghianatan. Dari ibu, aku mengerti, bahwa perempuan adalah makhluk terlemah juga tertegar dalam sejarah kehidupan. Ibu pernah menangis di hadapanku dan atau dengan mata berkaca-kaca, menyiratkan kekecewaan atas perlakuan orang lain terhadap beliau yang tidak mengenakkan. Namun ibu bersabar. Beliau menasihatiku begini, “Jika engkau menerima perlakuan yang tidak engkau suka dari orang lain, Nak, maka maafkan. Dan berusahalah untuk tidak menggunakannya dalam keseharian. Karena saat engkau tidak menyukainya, tentu orang lain pun tidak menyukai, kalau engkau melakukan hal yang sama pada orang lain. Namun saat engkau suka yang orang lain lakukan padamu, maka bertekadlah untuk menirunya. Lakukanlah yang engkau suka orang lain lakukan padamu, dengan melakukannya pula untuk orang lain. Ya, bercerminlah pada kebaikan orang lain. Lalu teladani.”

Aku senang melihat orang lain bahagia. Aku suka melihat orang lain tersenyum. Dan aku paling tidak suka kalau ada yang bersedih karena aku. Aku akan sangat berduka jika karena sebab aku, orang lain terluka. Aku akan sangat menderita, jika karena aku ada yang menangis. Aku akan sangat menyesal, jika dengan sebab kekeliruanku, orang lain yang kena akibatnya. Karena aku pernah merasakan bagaimana terluka, bagaimana menderita, bagaimana rasanya dimarahi, bagaimana rasanya jika kita tidak berbuat namun mendapat penyalahan. Sungguh tidak mengenakkan dan itu menyakitkan. Dan akan sangat menyakitkan lagi adalah saat ku tahu, di luar sana ada yang sedih karena aku. Huhuuu.  ;(

Ibu pun berpesan padaku, untuk baik dengan teman, penuh kebaikan dalam pergaulan. Perlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sehingga ingatan terhadap pesan-pesan ibu lah, maka sepagi hari tadi ku bawa-bawa cemilan bikinan ibunda dari rumah kost. Untuk kemudian ku bagikan pada kolegaku dengan senyuman. Karena perasaan menyesalku masih tersisa tadi pagi, mengingat kemarin, beliau bunda kembar menerima penyalahan atas kekeliruanku. Ya, tersebab aku, beliau yang kena marah. Arrrrgggggh!!!!

Aku tidak suka orang marah-marah atau pemarah. Karena biasanya, orang saat marah, menjadi tidak normal lagi. Ekspresi meninggi, emosi meningkat. Dan mata pun bulat, melotot, huuwwwaaa. Syedhih dech, lihatnya. Jika kemarin aku yang kena marah, maka hatiku pun sedih, ia terluka, lalu menitik air mata dan kemudian membanjir di pipi. Namun, beliau bunda si kembar, tidak begitu. Karena beliau lebih tegar dariku. Beliau hebat! Aku salut pada wanita yang kuat seperti beliau.

Dari bunda si kembar, ku belajar banyak hal, akhir-akhir ini. Karena banyak yang beliau bagikan padaku, tentang kisah hidup beliau yang penuh liku-liku dan berwarna-warni. Tentang perjalanan yang pernah beliau lalui, dan aku mungkin tidak akan pernah melaluinya. Namun dari beliau, akupun tahu, tentang perjalanan hidup beliau. Perjalanan yang penuh tantangan, rintangan, suka dan duka. Sungguh berkesan. Dalam.

Ai! Maafkan aku, bunda kembar, atas kejadian kemarin. Semoga tidak terjadi lagi yaa, dan terima kasih sudah baik padaku, dengan caramu. I love you. Engkau seorang ibu. Sama seperti ibuku, engkau mengajarkan padaku banyak ilmu. Walau engkau tak tahu. Ada hikmah, pesan dan kesan yang ku petik darimu sepanjang waktu kebersamaan kita. Thank you. Terima kasihku.”

Dan entah beliau tahu atau tidak, saat aku sedang merangkai catatan untuk dan tentang beliau saat ini, tetiba ku menerima seberkas artikel dari beliau. Artikel yang sengaja beliau cetak khusus untukku. Barakallah… Semoga Allah membalas kebaikanmu, my lovely sister. Thanks a lot, for all of your kindness. Maka ku ingin menyelipkannya di sini, untuk pengingat diri… :

Note from my brother…

Ketika Allah sedang menunjukkan rasa kasih dan sayangNya kepada kita, memang kadang akan bisa terasa pahit dan pedih di diri kita, tapi itulah cara Allah membersihkan diri kita…

Kuncinya adalah keikhlasan dan kesabaran yang tanpa batas dari diri ini…

Selalu berbaik sangka kepada apa yang sedang kita laami dan rasakan…

Selalu yakin kepada Allah, bahwa semua yang kita alami akan ada akhirnya…

Kesusahan, kesedihan, kegetiran jangan jadikan ini suatu cobaan, tapi jadikan ini sebagai bagian dari cara Allah mendidik kita. Selalu berbaik sangka, yakin akan indah pada akhirnya…

Aku bahwa kita ini hanyalah ciptaan…

Pahami bahwa semua ini ada yang mengatur…

Ikuti dan jalani segala sesuatu yang telah diatur oleh Allah…

Untuk menjadi manusia yang kuat, memang kadang harus belajar merasakan, dari sesuatu yang manis sampai dengan yang sangat pahit…

Sampai kita paham, bahwa manis dan pahit itu hanya sebuah rasa saja…

Ikhlas dan sabar itu tanpa batas…

Subhanallah, walhamdulillah, Allahu Akbar…

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s