“Persahabatan kita, seputih dan seharum melati ini, kawan. . . Karena tak kenal, maka tak sayang. Saat kita sudah mengenal, maka akan tumbuh sayang, lalu cinta pun hadir mewarnai hari-hari.”

Seputih Melati
Seputih Melati

Semula, duniaku kelabu. Namun semenjak engkau hadir, duniaku menjadi penuh warna. Warna-warni menarik yang membuatku takjub, pangling, terpesona, dan terkagum-kagum. Karena aku tidak pernah menyangka, betapa kehadiranmu begitu bermakna. Engkau adalah bagian jiwaku yang hilang.

Semula, aku pendiam tanpa ekspresi. Namun semenjak kita berkenalan, bersapa, bertukar bahasa, berganti suara jiwa, maka ekspresiku bermekaran. Aku mulai tersenyum, aku bisa tertawa. Walau untuk menertawai diriku sendiri, aku mau. Karena engkau mengajarkannya padaku, begitu. Engkau, adalah sahabatku sehati.

Semula, aku pemalu dan suka menyendiri. Namun semenjak engkau ada di duniaku, aku mulai belajar bersosialisasi. Aku belajar bergaul dengan alam. Aku belajar menata emosi, pun belajar mengendalikan diri. Engkau, menjadi guruku yang terpuji.

Semula, aku sendiri tanpa teman. Namun semenjak engkau menemuiku, aku mulai merasakan kebersamaan. Kita berbagi kisah, berbagi inspirasi. Engkau menanya dan aku memberikan jawaban. Aku menanya dan begitu pula sebaliknya. Sehingga sepanjang kebersamaan kita, aku merasa seakan di alam mimpi. Aku pun mencubit kulit jemari. Ku pukul-pukul pergelangan tangan lembut, hingga aku merasakan sakit akibatnya. Ya, karena engkau nyata. Engkau sahabatku, kini.

Semula, aku tidak pernah tahu bahwa engkau ada di dunia ini. Namun semenjak engkau menyapaku, aku mulai menyadari. Bahwa ternyata di luar sana, selain diriku sendiri, ada insan lain yang bernasib sama. Yah, kita sama-sama pernah merasakan suka dan duka dalam kehidupan. Kita pernah gembira dan tersenyum bahagia. Kita pernah menangis menitik airmata. Kita pun ingin menjadi lebih baik, bukan? Maka, sepanjang kebersamaan kita, saling mengingatkan adalah pilihan. Saling menasihati adalah sebuah pemberian. Saling mengalirkan kekuatan jiwa merupakan hadiah terbaik terhadap yang lainnya. Engkau temanku, teman untuk masa depan.

Dalam sebuah kesempatan, kita, engkau dan aku duduk-duduk menikmati keadaan. Seraya merasakan kesejukkan alam yang penuh ketenangan, engkau memesan padaku berbait-bait nasihat ringan :

“Terkadang, hidup memberi kita pil pahit untuk kita telan. Supaya apa? Agar kita menjadikannya sebagai jalan untuk sembuh dari sakit yang kita alami. Pil tersebut bukanlah penyembuh, namun hanya sebagai jalan, engkau menegaskan. Sedangkan Penyembuh kita adalah ALLAH subhanahu wa Ta’ala.

Kita ingin, harapan-harapan kita menjadi kenyataan. Lalu kita berusaha, berupaya melakukan yang terbaik, sebisa kita, dengan cara kita, sesuai dengan logika kita, tentu bersama hati kita. Akan tetapi, setelah kita berusaha, kenyataan berkata lain, “Harapanmu terlalu tinggi, padahal usahamu baru sebegini.”

Maka yuk, saat ini kita berusaha lagi, dengan kemampuan terbaik, dengan kemauan tercantik, bersama hati yang selalu berprasangka baik.  Seraya terus bergerak, menempuh proses, meski panjang, berliku-liku, namun nikmatilah pemandangan di sepanjang perjalanan dengan terus menjaga nyala harapan.

Terkadang, harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan. Namun kita harus tetap dan mesti melanjutkan langkah dalam perjalanan hidup ini. Supaya apa? Agar kita mengerti makna perjuangan. Supaya kita bertemu dengan harapan-harapan kita di dalam kenyataan esok hari.

Saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan, terkadang menyakitkan. Sehingga hati kita pun sesak terasa, airmata mengalir deras, membanjiri lembaran pipi, kita ingin teriak untuk meluahkan perasaan dan bahkan memekik histeris karena menanggung beratnya himpitan kenyataan.

Ya.

Selanjutnya, kita melakukan upaya apapun agar yang kita harapkan dapat tercapai, bukan? Namun di balik upaya yang kita lakukan, Ada Yang Maha Menentukan hasil, menetapkan kadar kita. Ada Yang Maha Tahu yang terbaik untuk kita jalani. Dan itulah kenyataan yang sedang kita jalani, terlepas dari sesuai dengan harapan-harapan kita, atau tidak.

Dalam menghadapi kenyataan, yuuk mari kita husnuzhan, berprasangka baik kepada Tuhan, agar hati kita kembali tenteram, jiwa kita damai dan tenang. Pikiran kita terbuka, raga kita kembali bergerak. Lalu menerima kenyataan sebagai ketentuan-Nya.  Wallaahu a’lam bish shawab.

Utamakan Allah… bangkitlah! Bergerak! Melangkah! Dan Berlarilah menuju-Nya dengan penuh keyakinan dan tabah. Menyadari bahwa kita lemah… kita lemah tanpa-Nya. Kita tidak mampu berbuat apa-apa tanpa izin-Nya. Dan semua yang kita alami, baik suka ataupun duka, adalah tanda sayang-Nya pada kita. Supaya kita kembali kepada-Nya, sering mengingat-Nya. Mendekati-Nya, menyapa-Nya, memelas kepada-Nya, mengenali-Nya, dengan mengenali diri kita sendiri lebih dahulu. Lalu, cinta-Nya menebar untuk kita, karena Dia pun cinta pada kita.

Saat harapan, usaha, doa-doa kita belum menjadi nyata, mungkin cara kita salah atau malah karena Allah belum mengenal kita, karena kita tidak mengenal-Nya.

Engkau mengatupkan matamu rapat-rapat, di ujung nada suaramu yang mengalir perlahan. Sedangkan aku, asyik memperhatikan gerak-gerik bibirmu. Karena yang engkau sampaikan adalah kebenaran. Dan aku pun mengiyakan, mengangguk seraya tersenyum untukmu. Engkau menitipkan sejumput cahaya di hariku yang kelam. Sehingga ia mulai berbinar lagi, karena mendapat pencerahan tentang kehidupan, harapan, cinta dan kenyataan. Terima kasih, sahabatku… atas pencerahan darimu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s