Saat engkau dan aku menjadi kita, maka selalu ada Dia yang memperhatikan kita.  Dia Yang Maha Segalanya, Maha Melihat, Maha Mendengar.

***

Berpagi-pagi menjemput rezeki, seraya memungut inspirasi.  Menebarkannya di dalam hati, menghiasi lembaran diari. Hai! Sungguh menyenangkan sekali, kawan. Apalagi bersama mentari yang mensenyumi.

Di antara pepohonan yang berdiri rindang. Di samping jalan yang membentang panjang. Dari sudut ke sudut kota ini, kita melanjutkan langkah-langkah lagi. Berjalan kaki, mengajaknya menikmati keindahan pagi.

Pagi yang masih segar, dengan udaranya yang masih bersih, sejuk, adem, sungguh membuat lega perasaan. Di tambah pula dengan sepoi angin yang semilir menepi di kulit jemari. Sesekali menepi ke kening, menyapunya dan kemudian pergi. Dan yang paling menarik adalah ketika kesejukkannya datang dan datang lagi. Angin pagi yang sepoi menari-nari di sekitar kulit ari.

Kita, melanjutkan langkah-langkah ini, bersama. Seraya menghayati pesan-pesan yang semesta sampaikan melalui udara pagi. Engkau dan aku, kita, bersenyuman.

***

Bangunlah pagi-pagi, lepaskan kenyamanan dan empuknya kasurmu. Lalu mulailah hidup hari ini dengan penuh syukur. Lanjutkan dengan semangat menggebu. Hiasi dengan percikan ilmu. Lalu perindah dengan sikap sabarmu.

Hidup yang sesungguhnya dimulai ketika engkau keluar dari zona nyamanmu. Yak, lalu engkau bangkit, bergerak, dan kemudian melangkah. Karena di depan sana, di luar zona nyamanmu, membentang jalan panjang untuk engkau tempuh.

Sebelum engkau melangkah, senyumilah ia dengan senyuman terbaikmu, terlebih dahulu. Agar saat melangkah nanti, engkau masih dapat menjadikannya sebagai penghias wajah di perjalanan. Sampaikan padanya bahwa aku siap menempuhmu, menapak di atasmu. Aku siap menitipkan jejak-jejak langkahku di atasmu. Langkah-langkah yang mengayun ringan, karena aku suka melintas di atasmu. Namun demikian, bantu aku untuk bangkit lagi yaa, bila dalam satu kesempatan ku terjatuh karena ku berjalan tidak hati-hati. Atau aku terseleo karena menginjak jalan berlubang. Atau ter… ter… ter… lainnya yang tidak ku sengaja. Maka tolong aku bangkit lagi, setelah lebih dahulu engkau bertanya tentang keadaanku. Agar hatiku senang, supaya pikiranku kembali lapang. Setelah ia sempat shock oleh kenyataan. Oleh karena itulah kita melanjutkan langkah bersama. Agar ada sahabat di perjalanan. Ada yang menjaga dan memperhatikan. Tujuannya bukan butuh selalu diperhatikan atau mencari-cari perhatian. Namun tergantung keadaan. Engkau tentu lebih mengerti tentang hal ini, karena engkau sudah lebih lama melangkah di dunia ini dengan segala pengalaman suka dan dukamu. Maka ku ingin engkau mengerti. Mengertilah… Karena wanita butuh dimengerti, hihiii…😀

“Berjalan jangan tanpa tujuan,” begini engkau pernah bilang di sela-sela waktu kita bertukar pikiran. Tukar pikiran dengan gaya bebas. Sehingga tidak terkesan penuh keseriusan. Terkadang aku menanya, lalu engkau memberi jawaban. Sebaliknya, engkau menanya dan aku menjelaskan. Semampuku, sebisamu. Dan kita mengusaha untuk saling memahami satu sama lain. Dan tahukah engkau bahwa setiap pembicaraan yang kita pertukar katakan, Ada Yang merekam? Bukan aku, bukan engkau namun Dia. Dia yang mengizinkan kita bertemu, tentu bukan tanpa alasan. Apalagi tanpa hikmah dan pesan untuk kita petik sepanjang kebersamaan. Namun pasti ada bahan pelajaran yang harus kita tuntaskan, supaya kita pintar. Ada ujian yang mesti kita jalani, supaya kita naik kelas. Ada tugas-tugas yang mau tidak mau harus kita selesaikan dan kita pahami dengan baik. Supaya apa? Agar kita mau belajar lagi, mencari tahu atas berbagai pertanyaan, menelaah, menambah referensi, dan bahkan kita dapat mengunjungi tempat-tempat baru untuk menambah wawasan. Karena, ilmu ada di mana saja, lalu siapkah kita menjemputnya? Ke tempat yang lebih jauh. Ke lokasi yang masih asing. Ke daerah terpencil sekalipun atau di tengah keramaian.

Dalam proses belajar, sesekali perlu adanya liburan, kawan. Yes. Setelah masa penuh ujian kita lewati, baik sukses atau harus remedial lagi. Baik naik kelas atau mesti berdamai dengan kenyataan, mengulang setahun lagi. Pppppiiiuuhh! Ini kenyataan pahit, bukan?! Ga enak yaa, rasa pahit itu. Namun tetap rasakan. Rasakan benar-benar. Sebab dengan begitu, engkau dapat membedakan antara ia dan rasa manis yang akan engkau rasakan juga.

Ya, seperti aneka rasa yang ada, demikian pula dengan alur hidup ini. Akan banyak rasa yang kita coba, akan banyak keadaan yang kita alami. Maka, bersiaplah sejak dini. Lalu saat menjalani, jalani dengan hati. Insya Allah ada hikmah yang terselip di dalamnya, kalau saja kita mau meneliti. Lalu, bagikan sebagai oleh-oleh dari perjalanan hidupmu, pada seluruh alam. Bagikan dengan senyuman, maka alam pun tersenyum bersamamu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s