“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Untuk bunda yang tak pernah henti berjuang, menerjang rintangan dan menghadang halangan. Beliau yang sering mengingatkanku untuk menjemput impian dengan harapan. Agar menjaga nyala semangat dengan kembali bangkit untuk menjadi pemenang. Melalui beliau ku belajar menjadi lebih kuat dan tegar. Melakukan aktivitas dengan senang. Tetap damai dan tenang dalam kondisi terguncang. Untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan terhadap-Nya saat gamang merintang jalan kehidupan. Untuk semakin gemar memberi, mudah berbagi, senang menginspirasi. Walau sedikit yang ku beri, meski tak banyak yang ku bagi. Walau belajar menginspirasi. Namun kalau ku melakukan dengan hati, dari hati, maka akan sampai pula ke hati. Ya, hati siapapun yang ia singgahi.

Jangan takut kehilangan, hanya karena engkau menyampaikan prinsip yang engkau pertahankan. Karena dengan demikian, engkau sedang belajar jujur pada diri sendiri dan berani menerima kenyataan. Ini masalah, bukan? Oleh karena itu, yakinlah bahwa ada solusi untuk setiap masalah yang engkau temukan dalam perjalanan hidup ini. Ambil hikmahnya, petik maknanya dari berbagai keadaan. Karena dalam setiap pertemuan akan dihiasi dengan perpisahan. Baik ia menghiasi di tengah kebersamaan maupun di ujungnya. Lalu bagaimana solusinya?

Solusinya adalah tetaplah melangkah di jalan kehidupan ini dengan senyuman. Senyuman terbaik yang engkau miliki. Bersamai ia selalu dalam melanjutkan perjalanan. Dan ingatlah bahwa engkau tidak pernah sendiri. Karena ada DIA yang senantiasa meneman dalam sendirimu. Yakinlah teman, akan Adanya DIA. Seraya menyapanya dalam banyak kesempatanmu. Jangan lupakan. Ingatlah DIA dalam kondisi terpurukmu, maka DIA meraihmu lagi saat engkau terjatuh, terluka, terisak, lalu memelukmu erat. Dan ingatlah DIA dalam bahagiamu, maka dalam kondisi sedihmu, Ia menyertaimu selalu. Ya, lebih dekatlah kepada-Nya. Mendekatlah lagi, lebih dekat lagi, kepada-Nya Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, penenang hati. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Wahai, sahabat hati… tersenyumlah, saat ini dengan hatimu yang berseri-seri. Senyuman yang membinar pada wajahmu yang bersinar. Yaph! Tersenyumlah lagi, untukku.🙂

Lanjutkan perjalanan, maka engkau akan bertemu dengan yang engkau butuhkan. Tidak lama lagi, cukup melangkahkan kaki dan bergerklah. Bila dalam perjalanan engkau bertemu dengan persimpangan, bertanyalah. Bertanyalah pada hatimu, jika tiada sesiapa yang kau temui di jalan bersimpang tersebut. Hati yang engkau tata dan benahi sejak dulu. Hati yang dapat memberi jawaban saat pikiranmu bingung. Hati yang menunjukimu arah, saat engkau kehilangan arah. Hatimu yang indah, akan membuatmu tersenyum saat melanjutkan langkah di arah yang kau pilih. Tersenyumlah bersamanya, dan lanjutkan perjalanan. Lalu, bersiaplah untuk bertemu dengan yang engkau butuhkan, di waktu yang tepat. Pertemuan terbaik, dengan kebaikan demi kebaikan.

“Tidak boleh menolak rezeki,” begini ibu pernah berpesan padaku, dulu. Pesan yang ku ingat selalu, termasuk saat ini. Saat ku dalam pertimbangan begini. Ketika pikirku berkutik lagi. Ketika hatiku masih tak bersuara.

Seorang laki-laki yang dikenalkan padaku bilang, bahwa beliau tidak mau main-main. Namun serius dan berkomitmen. And how about me? May I?.

Ku bertanya pada hati, namun ia diam tanpa suara. Akankah ku ambil keputusan segera? Karena beliau bilang lebih cepat lebih baik. Ihiiirr.😀

***

Ide bisa datang dari mana saja dan kapan saja, saat bersama siapa saja, dan dengan berbagai cara. Termasuk bersamamu, di sana ada banyak ide. Ide-ide cemerlang yang membukakan lagi pikiranku menjadi lebih terang. Ide yang membuatku segera bilang, “AhA!!!…” That is right. Betul, betul, betul yang engkau bilang. Bahwa kita hidup cuma sekali. Termasuk kesempatan yang datang, ia hanya sekali. Maka, jangan menyiakan hidup dengan aktivitas percuma dan tak bermakna. Jangan juga membiarkan kesempatan datang lalu pergi begitu saja, tanpa kita sempat merengkuhnya. Dan engkau juga bilang, bahwa lakukan sesuatu apapun itu, dengan hati, dari hati. Aku pun mengangguk mengerti, seraya mengingat ibunda nun jauh di sana. Beliau pun pernah bilang kalimat senada, untukku. Kalimat indah, dan kaya makna. Aku menyukainya.

“Secepat itu engkau datang, lalu berpesan banyak hal tentang dunia. Dunia yang sudah lebih lama engkau tempati. Dunia yang mengajarkanmu untuk lebih mengerti arti kehidupan. Dunia yang pernah memberimu penderitaan, kesedihan, kehilangan, pelajaran, juga harapan. Dunia yang di dalamnya engkau masih ada di sana. Dunia yang siapa saja terbuai olehnya, maka ia akan menyesal. Namun saat dunia hanya kita jadikan sebagai jalan, maka semakin ringanlah langkah kita di atasnya. Karena tujuan kita adalah surga… -Nya.”

Aku baru saja mengenalmu. Belum lengkap hitungan pekan atau juga bulan. Apalagi tahun. Namun aku yakin, pertemuan denganmu bukan terjadi begitu saja. Namun sudah tersusun, terencana dan ada yang mengaturnya. Sehingga aku tidak ingin mempertanyakan bagaimana bisa begini dan atau begitu? Mengapa mesti engkau yang hadir dalam duniaku? Seperti yang engkau bilang padaku. Namun aku hanya ingin belajar lagi. Belajar menerima. Belajar bersyukur lagi. Belajar memberi. Belajar memahami. Belajar, lagi dan lagi. Dan karena engkau mau menjadi bagian dari proses pembelajaranku berikutnya, maka bagaimana ku akan menolakmu? Karena engkau adalah rezeki terindah dari-Nya. Engkau yang hadir dengan sepaket kelebihan dan kekuranganmu. Kelebihan dan kekurangan yang belum banyak ku tahu, karena masih singkatnya usia perkenalan kita. Namun aku yakin, seiring berjalannya waktu, akan sangat banyak ide, hikmah, bahan pelajaran, dan inspirasi yang engkau bagikan padaku. Dan aku pun belajar memetiknya, lalu membagi.

Engkau, seorang yang masih asing bagiku. Ku persembahkan kehadiranmu untuk bunda, yaa. Sebagai kado terantik. Sebagai hadiah tercantik. Sebagai kabar terbaik. Sebagai jawaban saat beliau bertanya. Sebagai seorang yang unik. Karena engkau tidak akan pernah terganti, atau menyamai. Karena engkau adalah dirimu, bukan yang lain. Maka, tidak ada waktu untuk memperbandingkan dirimu dengan sesiapapun di dunia ini. Seperti yang engkau bilang padaku. 

Belajar jujur pada diri sendiri, aku masih berjuang. Perjuangan ini berdarah-darah, sayang… Maka, dukunganmu untuk menguatkanku saat terlemah dan terlelah, ku butuhkan selalu. Bimbinganmu ketika ku terseok sempoyongan dalam melangkah, ku perlukan pasti. Dan aku percaya, engkau mampu. Karena engkau ada untukku. Termasuk saat engkau berada dalam kondisi terpedihmu. Ketika luka itu mengiris-iris hatimu. Saat engkau tidak mampu lagi berkutik dengan penderitaan itu. Maka, lihatlah ke arahku, ada aku di sampingmu. Merawatmu senang hatiku, menjagamu tenang batinku. Karena ku tahu, siapa aku.

Bukan mudah membuat sebuah keputusan. Apalagi untuk hal penting tidak terganti. Namun bersama keyakinan ‘yakinku‘, maka tersenyumlah… You choosed! You are the winner! Maka tetaplah menjadi pemenang, berjiwa tenang, berhati senang, berpikir jauh ke depan untuk kehidupan kita yang berikutnya. Kehidupan yang ada setelah saat ini. Kehidupan abadi. Dan di sana, aku ingin kita masih selalu bersama, bersenyuman dan bertelekan di atas dipan-dipan sebagai penduduk surga-Nya. Mari sahabat, kita melanjutkan langkah bersama di dunia ini, dengan bahagia. Dan tetap menjaga harapan untuk kebahagiaan di akhirat nanti. Aamiin.

Iman Syafi’i berkata “Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau melepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya mudah sekali” . Diriwayatkan pula dalam hadits “Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia. Maka mereka pun bertanya kepada Allah SWT, ‘ya Rabb .. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…’, maka Allah berfirman ‘pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah’ (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd).

IbnulJauzi pernah pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, ‘Wahai Rabb kami … hamba mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah ia bersama kami di surga-Mu’ .

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s