“Jangan sia-siakan mereka yang baik padamu. Mereka yang mungkin belum engkau kenal lama. Namun dengan mudahnya mereka membaikimu. Maka berterima kasihlah pada mereka, segera. Sesegera mungkin yang engkau mampu. Supaya mereka merasakan bahwa engkau menghargai kebaikan mereka. Meski mereka tidak pernah meminta ucapan terima kasih darimu, atas kebaikan yang mereka lakukan padamu. Namun tetaplah berterima kasih. Karena dengan begitu, engkau menjalani hari lebih ringan. Sebab, kebaikan mereka langsung engkau balas dengan penghargaan. Penghargaan berupa ucapan ‘terima kasih’. Itu sudah cukup, untuk membuat mereka istiqamah melanjutkan kebaikannya,” Engkau Irus. Lagi dan lagi, menasihatiku begini.

***

Irus, begini engkau lebih suka bila ku panggil. Walaupun nama cantikmu adalah Fairuz Zafrani. “Namun dengan panggilan Irus, aku lebih suka,” ungkapmu padaku di awal kita berkenalan. Dan hingga hari ini, sudah lebih sebulan kita berteman. Engkau dan aku adalah sahabat baru. Walau begitu, tidaklah mengurangi makna sebuah pertemanan. Pertemanan yang akan berlanjut persahabatan. Begini maunya aku. Karena bagiku, seorang sahabat adalah bagian lain dari diriku. Sahabat yang merupakan pelengkap diriku. Sahabat, ah, lagi dan lagi, aku menjadi terbawa suasana, bila membincang tentang ia. Sahabat… ia mengingatkanku pada orang-orang baik yang ku kenal, mengenaliku, di manapun. Walau kini, kami berjarak raga. Namun kesan pertama perkenalan, membuatku ingin menjadikan mereka sebagai sahabatku selamanya. Sehingga ku tulis nama mereka dalam ingatan, ku selipkan di sudut hati, dan ku sebarkan pada rerangkai kalimat tentang kami.

Irus, sahabat baruku. Seorang gadis manis pemalu, berwajah tirus, namun ayu. Berkulit kecokelatan, dengan senyuman manis lebih sering menghiasi wajahnya. Matanya sedikit sipit, dengan rambut ikalnya yang lucu. Ya, Irus memang lucu, menurutku. Apalagi kalau ia bicara, maka suara indahnya merdu sampai di indera pendengaranku.

Pagi tadi, Irus menemuiku, setelah sekian lama kami tidak bertemu. Pertemuan pagi yang membuatku terharu. Karena aku merindukannya. Irus sahabat baruku, datang dengan wajah cerah, penuh senyuman. Wajah yang sama seperti kami bertemu pertama kali dan ia masih menjaganya. Ekspresi yang membuatku pun mengekspresikan hal yang sama padanya.

Sesaat kami bersapa, saling bertukar bahasa melalui sorot mata dan bercanda dalam tawa bahagia. Lalu, ku ajak ia duduk di sebelahku. Untuk selanjutnya, kami asyik bercengkerama. Menukar kisah selama kami tidak berjumpa hingga berbagi cerita tentang dunia kami masing-masing. Dan lagi-lagi, Irus menasihatiku. Hampir selalu begitu, setiap kali kami bertemu. Karena ia mempunyai banyak nasihat untukku. Nasihat yang bagiku berarti, menjadi bekal melanjutkan perjalanan hidup ini.

Hingga hari ini, kami masih dapat berjumpa. Entah bagaimana dengan esok. Maka kami manfaatkan kebersamaan dengan sebaik-baiknya. Kebersamaan yang indah. Kebersamaan yang menyisakan kenangan berharga. Walaupun Irus adalah sahabat baruku. Namun bagiku ia berharga. Maka ku abadi namanya di dalam kisah perjalananku.
Irus gadis yang baik. Dan hari ini, ia kembali membaikiku. Kebaikan yang ia bagi dengan senang hati, terlihat dari sikap dan ekspresinya. Kebaikan yang ku terima dengan senang hati. Kebaikan yang sampai padaku, dari hatinya yang tulus. Semoga, ku dapat membaiki Irus, juga. Sebagaimana kebaikannya padaku.

Tidak terasa waktu pun berlalu. Kini, saat ku merangkai catatan ini, Irus sudah tidak bersamaku lagi. Karena ia sedang meneruskan perjalanannya pula. Perjalanan seorang perempuan di dunia. Perjalanan untuk mendedikasikan diri dengan melakukan yang terbaik. Okey, selamat melanjutkan perjuangan, sahabatku, sampai berjumpa lagi. Dan semoga dalam pertemuan dan kebersamaan kita berikutnya, akan ada lagi nasihat terbaik yang engkau titipkan padaku.

Semangat sahabatku, dan sukses selalu, yaa. I will miss you.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s