Aku selalu begini. Menjadi inget dan keingetan lagi, untuk mencurahkannya dalam rerangkai kalimat. Kalau ada sesuatu yang sedang menempel dalam pikiran dan tidak pergi-pergi. Maka setelah ku sisipkan dalam diari, ia menjadi abadi. Sedangkan aku tidak perlu keinget-inget lagi. Kecuali nanti bila dalam sebuah kesempatan, ku baca lagi diari, ku kunjungi lagi lembaran catatan. Maka ia menjadi pengingat diri, aku akan teringatkan lagi. Dan saat ini, pikiranku sedang dipenuhi oleh memori-memori tentang sesuatu yang misteri. Misteri penuh rahasia. Aha? Misteri apakah itu?

Misteri bernama jodoh. Yah, siapakah jodohku sesungguhnya? Dia ada di mana, bersama siapa? Hai, berapa lama lagi ia sampai di sini? Dan sudah sejauh apakah ia melangkah dari posisi awalnya, untuk mendekati diri ini? Dan bagaimana pula denganku? Apakah aku mau dan masih bergerak untuk menjemputnya? Berdoa, berikhtiar dan bertawakkal. Supaya kami yang berjodoh ini, dapat pula jumpa-jumpa di dunia ini. Hiii, aku merindukannya. Adakah ia pun merindukanku, yaa?

Jodoh.

Aku yang sampai teringat dengannya begini, karena ada yang mengingatkanku lagi. Tepatnya semalam yang telah berlalu. Beliau menanyaiku, tentang hal ini. Seseorang yang baru ku temui, di kota ini. Beliau yang akhir-akhir ini menjadi bagian dari kehidupanku. Beliau yang peduli, senang menasihati. Beliau yang mengingatkanku lagi, tentang hal ini. Beliau yang baik hati.

“Yan, sudah punya cowok, belum…? Atau ada yang sudah jodoh-jodohin, barangkali?” bisik beliau, pelan, dan sayup-sayup terdengar olehku. Karena memang beliau menanyakannya dengan suara rendah. Dan bagaimana reaksi awalku setelah menerima tanya beliau? Yeps, ada nuansa sejuk mengaliri hati. Seperti semilir angin menepi di pipi. Seperti demikian yang ku alami. Di awal malam yang telah berlalu. Ku menanggapi dengan sepenuh hati, bersama senyuman menebari wajah.

“Saat ini belum ada lagi, he…” jawabku sambil memamerkan gigi-gigi seri dengan wajah tertunduk. Sungguh bagaikan mimpi yang terulang kembali. Saat menerima pertanyaan seperti ini, untuk ke sekian kalinya. Namun dari orang berbeda. Aii… Engkau pernah juga gaaaaa,… teman, mengalami kondisi seperti yang ku alamii? *nyaritemansenasib.😀 Tentang pertanyaan yang membuatku sedikit risih. Namun tetap harus ku jalani.

***

Sering kita mendoa agar Allah mendekatkan kita dengan jodoh terbaik dari-Nya, di dalam berbagai kesempatan terbaik. Ini kalau kita belum bertemu dengan pasangan jiwa. Dan sering juga kita memohon kepada-Nya, untuk dipertemukan dengan jodoh shaleh dan bertaqwa, taat kepada-Nya. Lalu, bagaimana dengan ikhtiar kita? Adakah kita terlebih dahulu menjadi seorang yang sama dengan yang kita mohon dalam doa? Karena jodoh adalah cerminan diri kita. Sejauh apa kita berdoa, sekuat apa kita berusaha? Selaraskan ia, seimbangkan semua. Maka, tenanglah hati menjalani ketentuan-Nya tentang jodoh diri. Keyakinan kita semakin mantab, dengan janji-Nya :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” Q.S An Nur : 26

Ayoo, pantaskan diri, semangati hati. Agar ia tetap optimis menghadapi masa depan bersama jodoh kita nanti. Sampaikan padanya bahwa, jodoh pasti bertemu. Entahlah saat kita masih hidup di dunia ini, atau ketika sudah mati. Yang jelas, sudah ada seorang yang akan menjadi jodoh kita. Namun kita tidak tahu pasti, dengan siapa kita akan berjodoh? Tentang kepribadian dan kebiasaannya sehari-hari? Kita tak pernah tahu sama sekali. Dan ‘dia’ yang akan menjadi jodoh diri, adalah misteri. Upz! Mari, marii, kembali pantaskan diri ini. Berdoalah untuk jodoh terbaik, namun tak lupa ikhtiar diri untuk menjadi seperti yang kita doa.

Jodoh dari Ilahi, ia ada dan sudah pasti. Namun saat kalian belum berjumpa, ini merupakan kesempatan untuk memantaskan diri lagi. Dan sangat mudah bagi-Nya untuk membolak-balikkan hati. Jagalah ia selalu, pelihara hati dan tata ia, hingga Dia pertemukan kita dengan jodoh terbaik dari-Nya.

Usah ngotot ingin bertemu jodoh yang seperti ini dan begini, kalau ternyata kita tidak menjadi seperti demikian. Ayo, memaksakan diri agar menjadi, dengan berbenah dan berubah semenjak dini. Mulai dari diri sendiri. Lalu bercerminlah dalam hari-hari, dalam proses menemukan cerminan diri yang sejati.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s