Tiada yang terjadi kebetulan. Setiap keadaan pasti ada hikmahnya. Seluruh pertemuan tentu ada maknanya. Semua kebersamaan, ada kenangan di dalamnya. Sedangkan saat ini, ada kisah tentang kita. Kemaslah ia, lalu bagikan dengan caramu. Agar sesiapapun dapat menikmatinya dengan senyuman bahagia.”

***

Sukses adalah ketika engkau gegaskan dirimu bangkit dari keterpurukan. Saat engkau kuatkan hatimu bergerak dan berfokus pada pencapaian. Saat engkau lapangkan jiwamu dari segala kesempitan yang meraja. Saat engkau mau tersenyum lagi, meski di saat hatimu terluka sekalipun. Hebat!

 

Seperti hari-hari yang lalu, jangan sampai engkau melakukan lagi hal yang sama hari ini. Karena kalau begitu, engkau akan selamanya begitu. Artinya, lakukanlah perubahan. Berubahlah, bermungkin-mungkinlah pada segala kemungkinan yang ada di depan. Pandanglah hari ini dengan semangat terbaikmu. Lakukan kebaikan terbaik yang mampu engkau dayakan. Lakukan sesuatu dengan hatimu terdalam, maka engkau bahagia.

 

Saat ini, adalah kesempatan terbaik bagimu untuk fokus pada perbaikan. Bukan lagi saatnya menyalahkan atau bertindak sebagai korban atas keadaan. Karena engkau yang menentukan, jalan kebaikanmu. Sebaik-baiknya kebaikan, menjadilah lebih baik dari dirimu kemarin. Sehingga, engkau selalu mempunyai waktu untuk berintrospeksi diri, fokus pada perbaikan diri terus menerus. Tanpa ada alasan untuk menyalahkan orang lain atau menjadikan keadaan sebagai alasanmu untuk tidak berubah.

 

Saat engkau menemukan keadaan sekitarmu kurang dan tidak sesuai dengan impianmu, bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk tetap berjuang mewujudkan impian. Karena selagi engkau mempunyai persediaan kemauan, yakinlah ada jalan. Ya, ada jalan membentang indah di hadapan, untuk engkau tempuh. Maka, bergeraklah kawan, sekali lagi. Untuk menuju suksesmu.

 

Sukses bukan diperoleh instan atau tanpa proses. Namun ia adalah sebuah pergerakan, perjuangan berkelanjutan dan tanpa mengenal putus asa. Sehingga apabila engkau ingin menjadikannya sebagai impianmu, boleh saja. Dan engkau dapat memulainya dari sini, sekarang, dengan dirimu sendiri. Mulailah dari yang terdekat denganmu. Karena sukses tidak jauh, teman. Ia sangat dekat denganmu. Hanya saja, maukah engkau memberikan perhatian padanya?

 

Sukses berhubungan dengan hal-hal kecil, dan sangat erat kaitannya dengan kita. Sedangkan untuk mendapatkannya, bukan secepat kilat. Namun sukses berasal dari kesinambungan dan keseimbangan pribadi dalam bergerak dan berjuang, keluwesan dalam menjaga nyala semangat untuk terus bergerak, dan yang lebih penting adalah fokus pada pencapaian.

 

Berbagi sedikit pengalaman tentang perjalanan sukses, aku ingin berkisah. Kisah yang ingin ku bagi di sini, sebagai sebuah prasasti diri. Supaya kelak di hari nanti, aku mengerti. Bahwa sukses itu tidak murah. Namun ia membutuhkan banyak pengorbanan, pikiran, materi bahkan waktu yang tidak sedikit. Selain itu, pengorbanan jiwa dan raga pun diperlukan. Dan dalam hal ini, adalah kisahku tentang perjalanan sukses mengendarai sepeda. Yeyeyeyeiiii, penting amat yaaa..a.a.a.k ? aHaha.😀 Tapi, tak apalah ya, karena arti sukses bagi masing-masing orang berbeda. Dan bagiku, bisa mengendarai sepeda adalah bagian dari sukses yang harus ku perjuangkan dalam waktu terakhir. Perjalanan panjang, memerlukan pergerakan berkelanjutan.

 

Tepatnya sepekan lalu, adalah awal mula ku bergerak mengendara sepeda. Perjalanan waktu selama sepekan, yang sangat berkesan, bagiku. Sehingga perlu ku abadi, untuk menambah stok cerita-cerita lucu bagi anak dan cucuku, nanti. Hihiii.😀

 

Berkisah tentang perjuangan belajar bersepeda, aku ingin berbagi. Karena menurut beraneka kisah yang pernah ku baca, masing-masing orang punya cerita belajar sepedanya. Ada yang merasa malu saat berusia sudah dewasa, namun masih belajar bersepeda. Hingga tidak percaya diri karena ketakutan-ketakutan yang akan dihadapi. Dan aku pun mempunyai cerita mini, begini.

 

Awal belajar sepeda, niatku tumbuh dan bersemi karena dorongan moriil dari sanak keluarga di sini. Di sini, ya di sini. Di manakah aku berada saat ini?

 

Di kota ini, aku berada kini. Di kotamu, yang nuansanya penuh kehangatan dan bertabur inspirasi. Kota yang berikutnya ku jadikan domilisi, untuk meneruskan perjuangan ini. Untuk meneruskan perjalanan hidup, menuju Ilahi.

 

Beliau, keluarga ku bilang, bahwa aku harus bisa bersepeda sepulang ku dari kota ini, nanti. Setelah itu, kuddu bisa bersepeda motor, saat lebaran tahun depan. Okkeeey, my lovely family, aku menyetujui. Dan ku jadikan sebagai visi. Visi yang hadir dari mereka yang peduli. Mereka yang akan ku rindui, saat kami berjarak raga, nanti. Karena dalam yakinku, tidak selamanya kami bersama seperti ini, di sini. Maka, ku jadikan kebersamaan kami sebagai jalan untuk mengukir kenangan, kami.

***

Kisah berawal… Jrennggg…!

  • Latihan pertama, sekitar setengah jam

Adalah bibiku, beliau yang paling bersemangat dalam hal ini. Untuk memotivasiku belajar sepeda. Tepatnya malam hari, ketika itu. Saat kami mulai bergerak. Beliau yang menuntun sepeda untuk pertama kali, saat ku sangat kurang percaya diri untuk menyentuh ‘si sepeda’ untuk ku kendarai. Hihiii… Afwan, bibi (nutup wajah, memerah malu).

 

Gelap. Sunyi. Sepi sesekali. Jalan yang jarang dilalui kendaraan kalau sudah malam begini. Di samping kediaman bibi. Di sinilah awal ku belajar bersepeda. Dengan posisi satu kaki di bawah, dan satu lagi di atas pedal. Kaki kiri menopang keseimbangan tubuh, sedangkan kaki kanan berusaha bergerak dan mengayuh pedal kanan, pelan-pelan, berulang kali, agar ku tak jatuh. Namun belajar memang tak selalu mudah. Sering kami (aku dan sepeda Pol-igo-n milik anak bibi –Restu- yang rela meminjamiku) miring-miring, meliuk-liuk dan pernah juga jatuh. Uh! Semua ini membuatku penasaran, bagaimana kalau aku benar-benar bisa? Maka ku afirmasi diri dengan utuh. Aku ingin bisa! Bisa! Go go go, yakin bisa! Allahu akbar.

 

Bermandi peluh,berkeringat di sekujur tubuh. Inilah kesan utama tentang latihan pertama.

  • Latihan kedua, mulai setengah tujuh sampai pukul sepuluh

Masih penasaran dengan perjalanan sukses bersepeda, tentu tak membuatku mengeluh. Namun terpacu semangat untuk bisa. Walau bersimbah peluh, menghabiskan waktu dan energi, walau sering terjatuh. Uh! Sakit dan memar-memar di kaki, menjadi bukti perjuangan ini. Ihiiiiirr! Akhirnya aku punya cerita.😀

 

Lanjut di hari kedua latihan, pagi-pagi setelah aktivitas Subuh. Ku minta izin pada my family, untuk belajar sepeda lagi. Namun ku ingin di lokasi yang jauh. Jauhhh. Jaaaauuuuhhhhh…. Hingga tak ada yang mengenalku, dan aku dapat belajar dengan utuh. Memang ini mauku. Supaya rasa malu ku tak kambuh-kambuh sepanjang latihan. (Syyuuuutt. Karena aku kan, pemalu akut).  😉

 

Setelah ku rasa cukup jauh. Dan aku berada di lokasi yang tak seorang pun mengenalku, aku mulai beraksi. Bertepatan jumpa dengan sebuah lapangan hijau yang tidak terlalu luas, memang. Namun cukup untuk belajar pemula sepertiku. Lapangan yang ada berlobang, tanjakan kecil, dan dataran cantik bertabur pepasir, serta sebuah kolam kecil di pinggirnya. Wah! Jangan sampai kecebur yeee. Di halaman depan sebuah rumah yang ditinggal penghuninya. Di depan ‘rumah kosong’. Tempatnya di sisi sebuah jalanan kecil yang jarang dilalui kendaraan.

 

Hari ini Minggu. Aku sudah sampai di lapangan (halaman rumah) ini dengan perjuangan. Karena sedari tadi, ku bergerak menuntun sepeda seraya gowes-gowes ga jelas. Dengan posisi kaki dua-duanya di tanah, berjuang agar sepeda terus bergerak ke depan. Aih! Capek juga sich, dengan keringat bertaburan, memandikanku yang belum mandi sebelum berangkat. Lumayan, buat penyegaran.

 

Gerak berlanjut. Dan terus berlanjut. Dengan berbagai usaha dan kemauan, ku gerakkan sepeda dengan kemampuan seadanya ku. Tanpa lelah. Tak hendak putus asa. Berulang kali. Hingga akhirnyaaaaa… Aku pun masih belajar percaya. Bahwa akhirnya aku pun bisa bersepeda mengitari lapangan (halaman rumah) mini tadi. Bermula dengan dua kayuhan dengan posisi kaki dua-duanya di pedal, lalu sepeda memiring ke kanan dan jatuh. Berlanjut dengan lima kayuhan dan sepeda pun miring-miring ke kiri, lalu jatuh. Berlanjut begitu terus, muter-muter ga jelas, bahkan hampir nabrak pot dan pepohonan rindang di sekitar. Aku sangat sibuk menata keseimbangan. Hingga beburung yang bertengger di rindangnya pepohonan di sekitar pun mengejek dan menertawaiku dengan siul merdunya. Aku tak peduli ejekkan mereka.

 

Tak terasa, tiga setengah jam pun berlalu. Waktu yang ku lalui dengan bahagia, karena pada akhirnya, sepedaan keliling lapangan dengan jarang terjatuh lagi, ku laksana. Aku bahagia, seraya asmaul husnaan. Ku lanjut berkeliling. Benar, janji-Nya benar. Bagi orang-orang yang mau berubah, maka Dia Membimbing kita dalam proses perubahan. Bagi yang miliki kemauan untuk bisa, maka Ia mampukan kita. Yakinlah, semakin yakinlah, bahwa Dia (Allah subhanahu wa ta’ala), selalu bersamai kita. Dekat-dekatilah ia dengan melangkah, ia mendekati kita dengan berlari. Mengharukan… Terima kasih ya Allah, atas bimbingan-Mu di sepanjang langkah kami. Di seluruh proses yang kami tempuh, menuju-Mu. Mendekati-Mu. Menjadi bagian dari hamba-hamba yang mencintai-Mu dan Engkau pun Mencintai kami. Walau tak mudah, kami mau berubah. Walau tak cepat, kami masih bergerak. Allahu Akbar.

 

Dan kisah unik dalam waktu sepanjang latihan ke-dua ini berlangsung, diselingi dengan sapaan demi sapaan dari beberapa orang yang lewat di jalan sekitar lokasi. Seorang ibu yang lewat menyapaku, dan tersenyum.

 

“Lagi, olahraga, yaa,” sapa beliau.

Saat ku bilang sedang berlatih dan mohon doanya ya Bu, beliau menasihati, “Hati-hati, yaa. Lanjutkan.”

Maka, disemangati begini, aku menjadi semakin termotivasi. Terima kasih semesta, yang membuatku kembali tersenyum menapak di bumi ini dengan bahagia.

 

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s