Terkadang hidup memberi kita jalan berliku untuk kita lalui, agar kita mengerti jalan yang pantas untuk kita tempuh.Anak manis, siapa yang tidak suka? Anak manis yang penurut, jarang bahkan tidak pernah mengeluh. Anak manis yang sopan dan suka menyenangkan hati orang lain. Anak manis yang tidak pernah kena marah, karena sangat jarang sikapnya bertentangan dengan kemauan orang lain. Anak manis yang pendiam, dan tidak neko-neko. Hmmm… karakter yang indah, bukan? Dan terlihat mudah bagi anak manis untuk memakainya. Namun ternyata, dalam kenyataan, menjadi anak manis itu tidak mudah, lhoo… Mengapa tidak mudah? Karena ternyata, anak manis melakukan beberapa hal berikut:

  1. Bersyukur Lebih Sering

Kita tidak mendapatkan semua yang kita inginkan, namun kita mendapatkan apa yang kita miliki. Maka syukurilah apa yang kita miliki dan nikmatilah. Tersenyumlah bersamanya, karena belum tentu semua orang memiliki sama dengan yang kita miliki. Walau mereka sangat mengharapkan untuk dapat memilikinya pula. Sedangkan kita, sudah jelas-jelas memilikinya. Kadang, tanpa perlu kita bersusah payah mengusahakan sebelumnya. Bahkan yang sudah menjadi milik kita, kita mendapatkannya dengan cuma-cuma. Maka, di sinilah pentingnya bersyukur. Dalam arti, terkadang kita tidak membutuhkan usaha lebih, sampai kita memilikinya.

Bersyukur bukan untuk berpuas diri dengan apa yang ada, tanpa mau berusaha lagi. Namun syukur yang terwujud dengan adanya kegigihan untuk semakin menyadari makna usaha. Semakin kita berusaha lebih, maka semakin lebih hasil yang kita miliki. Semakin kita tidak mau berubah, yaa begitu-begitu saja yang akan kita miliki. So, what do you think about this, friend?

2. Berani Melangkah Menghadapi Ketakutan

Anak manis kadang terlihat berani dan tidak mempunyai masalah. Padahal, sesungguhnya, sebagai seorang yang merasakan menjadi anak manis dalam perjalanan hidupnya ini, aku mempunyai kisah. Sebenarnya, tidak selalu aku pemberani, tidak juga setenang yang engkau lihat. Karena aku pun terkadang berjumpa ketakutan-ketakutanku. Aku berhadapan dengan kecemasan demi kecemasanku. Aku bertemu dengan kegalauan-kegalauan dan kesedihan menyelimuti. Meski di permukaan tidak mudah terdeteksi, namun aku mengalaminya.

Seperti halnya akhir-akhir ini, aku sering bergelut dengan ketakutan demi ketakutan yang datang silih berganti dari hari ke hari. Ketakutan demi ketakutan yang mesti dan harus aku hadapi. Karena kalau tidak, mau bagaimana lagi? Meski masih ada pilihan untuk menjauh dari ketakutan tersebut, namun aku tidak melakukannya. Apakah karena sudah terlalu tingginya tingkat ketakutanku? Sehingga aku akhirnya menjalaninya dengan damai. Sampai ku merasakan, tidak ada lagi rasa takutku. Hanya tenang, dan damai menyelimuti ruang hatiku.

“Hadapi ketakutanmu, sampai ketakutan takut berhadapan denganmu,” begini sebaris kalimat yang sempat ku baca dulu, dan ku masih mengingatnya hingga saat ini.

Okey, teman. Demikian 2 tips menjadi anak manis ala aku, yang bisa ku bagikan saat ini. Semoga bermanfaat yaa. Hehee.  :D

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s