Semalam

Di sini, perempuan menyapa sunyi…

Di sini, memandang bebintang dari sudut rumah-Mu. Suasana seperti ini, aku suka. Sangat suka.  Menyepi. Sendiri. Tiada yang mengenalku. Aku pun tidak mengenali sesiapa di sekitarku.

Sunyi. Aku duduk di sini.  Memandangku ke langit. Nun jauh di atas sana bebintang terlihat berkelipan. Di antaranya ada satu bintang yang paling terang. Aku mulai menyukainya setelah kami berpandangan cukup lama. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Apakah ia benar-benar melihatku di sini, yang sedang menyepi? Atau bahkan hanya kelam yang ia lihat di sini. Ah, walau sang bintang tak melihatku sama sekali, pun. Aku masih ingin mengabadi tentang kebersamaan kami ini. Karena aku terpesona dengannya.

Duduk di sini, se malam begini. Masih sendiri, di tengah sunyi. Ku menikmati waktu sesepi ini, seraya menyeruput segelas minuman lezat nan segar. Bukan kopi. Namun na-ta de-co-co. Ku menyeruputnya pelan-pelan, sedikit-sedikit, lalu menyuap potongan-potongan dadunya dengan nikmat. Aku sangat menikmati moment seperti ini. Moment ketika aku menghayati alam, menikmati malam, menyelimuti kelam, meneruskan perjalanan pikir, mensunyikan hati dan mendamaikan diri. Tepat sekali. Moment ini yang selalu ku nanti sejak lama.

***

Tak jauh dari perempuan, tegak berdiri seorang insan… Ia bergumam sendiri.

Seorang perempuan bernyanyi dengan suara hati. Ia menekuri hening alam sembari memperhatikan sekeliling. Ia terlihat asyik sendiri. Ia tampaknya menikmati keadaan.

Dari kejauhan, ku perhatikan gerak-geriknya. Ku lihat dengan teliti, sekali lagi. Siapakah ia, sang perempuan dengan jilbab rapi membungkus diri? Semakin lama, aku akhirnya mengerti, bahwa ternyata ia adalah perempuan sunyi. Perempuan yang sangat suka dengan suasana sepi, hening dan tenang seperti ini. Perempuan yang belum pernah ku kenali, namun takdir memberi kami kesempatan untuk bertemu di sini, di sudut rumah-Nya. Rumah yang sering ia kunjungi di waktu-waktu tertentu, pun aku. Yak, kami sering ke sini.

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close