Hidup. Terkadang hidup memberi kita kesempatan untuk menikmati alurnya tanpa perlu kita berpusing-pusing memikirkan harus bagaimana dan ke mana. Karena hidup adalah kesempatan terbesar untuk kita. Maka kesempatan demi kesempatan tersebut, harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan cara apa? Bagaimana cara kita memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh kehidupan?
Tidak terlalu sulit, memang. Bagaimana cara memanfaatkan kesempatan hidup ini. Kalau saja kita mengerti, untuk tujuan apakah kita hidup? Hidup yang hanya sebentar, sementara, sekejap, dan setelah itu kita pun mati. Entah esok, lusa, ataukah sebulan lagi. Tidak ada seorang pun yang tahu, kapan terakhir ia hidup di dunia ini. Maka, dengan mengetahui dan memahami makna hidup ini, kita dapat menghidupkan hidup ini. Kita dapat memanfaatkan kesempatan hidup ini. Kita dapat menjalani hidup yang lebih berwarna dari hari ke hari. Kita akan sangat menerima episode demi episode kehidupan yang kita jalani. Kita tidak akan sibuk mencampuri episode kehidupan orang lain. Karena setiap kita mempunyai episode hidup sendiri.
Sehingga dari jauh, terkadang aku hanya bisa memikirkanmu, begini :

“Aku hanya ingin tahu, bagaimana engkau memprinsipkan hidupmu, hingga menjadi semenarik itu untai kata-katamu?”

Bila lah cinta telah tertanam di dalam jiwa, maka segalanya menjadi mudah nan indah. Ada kelonggaran menelusupinya. Ada keringanan menyelimutinya. Dan setiap kekata yang tertulis dari jiwanya menjadi obat bagi pembacanya. Bagai seorang dokter, ia melantun kata termanis bagi pasiennya. Sungguh, sungguh, sungguh bermanfaatlah adanya ia. Sebagai jalan sampaikan pesan terindah buat sesama, melalui rerangkai karya nyata. Bahagialah ia, tersenyumlah ia, seraya terus berjuang, bergerak dan berusaha menebar manfaat bagi semesta. Berkahilah ia, ya Allah… Keberkahan berlimpah kebaikan di sepanjang sisa usianya. Di seluruh masa hidupnya. Karena ia adalah orang yang ku sayang.

 
Aku tahu itu engkau. Ya, engkau. Engkau yang sering mendendang suara meski pun aku tidak mendengarnya. Engkau yang sering menggamit kisah indah di dalam detik waktumu, dengan berbagi kebaikan. Engkau yang aku bahkan belum pernah menjumpamu. Engkau yang aku sayangi, seperti begini adanya. Engkau yang tak terlihat, namun engkau ada. Aku menyayangimu. Dan dengan belajar darimu, aku sedang berusaha keras menikmati hidupku. Aku berjuang memanfaatkan kesempatan hidup ini, dengan caraku.

Engkau dan aku adalah kita.

Salam sayang,
-Dariku, untukmu-

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s