Di antara serpihan benih rindu, aku menangis sendiri. Dalam diam. Dengan pelan. Saat sunyi. Berteman hening. Menggigit sepi. Pahit! Puuiih…

Lamat-lamat ku mendengar panggilan dari kejauhan. Bersahutan. Silih berganti. Sayup-sayup. Lembut sampai di indera pendengaranku. Suara-suara tipis. Haluuus… dan aku menikmatinya. Guriiih…

Suara-suara yang sangat ku sukai, walau jauh. Suara-suara yang mengusik, namun ku damba. Agar ia mendekat, menghampiri. Agar aku tak sendiri lagi dalam sunyi. Namun bersama mereka menghiburi saat ku rindu seperti ini.

Di balik tembok pembatas, ku kini. Menertawai kebodohan diri. Mengajaknya berdiri, bangkit lagi. Memelas padanya untuk sebaris senyuman, saat ini. Meski ia tak sudi. Barangkali ia tak merelai. Namun ku pinta berulang kali, pada diri. Wahai… Tersenyumlah, lagi. Senyuman manis dari hati. Karena mentari pun tersenyum sepanjang hari. Haiii… Tidakkah engkau mencemburuinya, yang banyak orang menyukai? Hanya karena ia tersenyum lagi, meski mendung menyelimuti. Namun senyumannya ada lagi, ada lagi.

😉🙂😉

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s