Langit biru, engkau pun tahu. Langit biru yang meneladankanku bersikap. Langit biru yang mengajarkanku damai dengan keadaan. Ia pun memberiku jeda untuk tenang dan berlemah lembut dengan alam. Sehingga menepikan egois hingga menjauh… menjauh… menjauh pergi, pun ia ajarkan padaku.

Ya. Ini tentang langit biru. Langit biru yang melindungiku dari atas sana. Dari angkasa yang tak terengkuh oleh tangan kecil hamba. Langit biru yang mengajarkanku sahaja, seraya mengelilingi diri dengan kesejukkan. Meski sinar mentari selalu dan sering mengambil ancang-ancang untuk menyentuhnya, namun langit biru berkata dari kejauhan, "Oh, tidak bisa. Karena aku terjaga." Demikian caranya untuk menanggapi goda salah satu ciptaan Tuhan termegah, ini. Maka mentari pun menanggapinya dengan senyuman, tersenyum lagi, lebih indah. Ah… Alangkah mengesankan.

Tentang langit biru, kini. Kini aku ingin berbagi selembar inspirasi. Inspirasi di pagi hari nan cemerlang. Pagi hari yang rupawan, anggun menawan. Pagi yang tidak sunyi, namun riuh oleh sesuara dari berbagai sumber. Desau suara pesawat terbang, menyisakan gemuruh di gendang telinga. Lalu lalang kendaraan beraneka roda, berkejaran saling mendahului. Sedangkan suara mesinnya, tiada henti mengerumuni indera pendengaran ini. Aku suka moment seperti ini.

Kini, di bawah langit biru yang memandangku, aku belajar tenang dalam situasi ramai. Aku belajar damai dalam situasi riuh. Aku belajar lagi, untuk bersungguh-sungguh. Sungguh, sungguh, sungguh ku rindu dengan langit biru di sana.

Langit biru membentangkan sayapnya yang lebar, untukku. Untukmu. Untuk mereka. Untuk kita semua. Sayap yang mengajak kita bersegera merebutnya. Sayap yang siap merengkuh kita terbang bersamanya. Sayap yang akan mengajak kita lebih dekat dengan langitnya. Yah. Karena ia adalah sayap yang megah.

Ups! Lama ku tegak berdiri memandang langit biru. Sibuk ku mengacau kata, mengaduknya agar menjadi santapan pagi yang lezat dengan jiwa. Asyik ku sendiri. Di sini. Sunyi dalam keramaian. Bahkan sampai ku tidak menyadari, seseorang pun mendekat diri.

Bapak penjual koran pagi, datangi diri. Beliau menawarkan seberkas dua berkas koran dan majalah untukku beli. Beliau menawariku dengan baik sekali, ramah dengan hati. Sehingga ku memberikan perhatian berlebih, lebih baik lagi.

Sampai pada puncaknya, aku menanggapi dengan berbagai alasan. Sehingga tidak beli. Hihiii…😀 Namun begitu, beliau sangat berbaik hati menitipkan pesan untukku. Beberapa saat setelah beliau menawarkan majalah berisi menu masakan. Obrolan singkat kami. berlanjut, intinya adalah menanyakan tentang status diri. Apakah aku sudah bersuami? Dengan ringan, ku jawab saja, "Belum, Pak… Mohon doanya." Lalu tanpa banyak pikir, beliau menasihatiku rahasia saat berumah tangga nanti. Diantaranya adalah pelayanan terbaik pada suami. Suami akan dengan senang hati menyayangi kita, saat kebutuhannya terpenuhi, terutama makannya disediakan yang lezat dan enak, tempat tidur rapi dan bersih, dan lingkungan rumah terpelihara. Kita sebagai istri yang melayani. Beliau melengkapi dengan hati. Maka siipp, dech rumah tangga nanti. Selanjutnya, beliau berlalu, setelah pamitan dan kami pun bersenyuman. Terima kasih bapak penjual koran pagi. Semoga rezeki beliau Allah mudahkan, hidup bahagia dan berarti sampai ujung usia menemui. Sampai berjumpa lagiii… Semangat pagiii!!!😀

Eits, kembali ke langit biru, yuuu.

***

Beliau penjual koran yang menyapaku tadi. Dan kemudian menjauh pergi, adalah salah satu langit biruku. Beliau yang mengajarkanku bahan kehidupan berarti. Beliau yang ‘mungkin’ tidak dapat ku rengkuh. Beliau yang nun jauh di sana, namun menginspirasi. Beliau yang mengingatkanku lagi, secara tidak langsung. Beliau yang sahaja, mudah berbagi. Berbagi untuk orang yang membutuhkan inspirasi, seperti diriku, ini. Beliau adalah langit biruku pagi ini.

Langit biru… memang engkau jauh di sana. Namun mampu memberikan arti. Hingga membuat sesiapapun berarti. Mereka yang mau mengambil arti darimu.

Langit biru, di awal hari ini yang masih pagi. Aku mengabadikan tentangmu. Engkau yang berada di tempat tinggi, namun tetap rendah hati. Engkau yang dilihat makhluk dari bumi, untuk menenangkan hati. Karena rupamu yang damai, tenang dan bersih.

Langit biru, masih banyak yang ingin ku urai tentangmu, versiku. Namun untuk saat ini udah dulu yaa. Karena aku akan melanjutkan perjalanan kembali. Semoga selamat sampai tujuan dan meraih cita tertinggi. Untuk lebih dekat, dengan mentari. Ini berarti, aku sedang menjaga harapan menemani diri. Supaya ku giat dan bersungguh-sungguh, saat masih di bumi.

Oke, see it!

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s