Catatan singkat ini ku rangkai sore hari. Sore yang damai, saat angin berhembus sepoi, tenang, sejuk dan nuansa tenang. Di sekitarku ada ayam-ayam sedang berlarian. Di antaranya ada pula yang menikmati menu santap sore. Sedangkan dari kejauhan, terlihat para tetangga sedang membersihkan lingkungan rumahnya. Mereka terlihat asyik, menikmati waktu sore nan ramah ini. Waktunya ngabuburiit!

Seperti halnya ayam-ayam, para tetangga, kami pun sama. Aku serta ayah dan amak juga sedang duduk santai. Kami menikmati sepoi angin yang berhembus pelan, seraya memandangi kehijauan di depan rumah. Berikutnya, memperhatikan taman samping rumah yang mulai tumbuh bebungaan. Ada bunga mawar, bunga melati, bunga inai dan lain sebagainya. Mereka sedang bermekaran, menambah sejuk pemandangan. Aku pernah mengimpikan semua ini, di suatu hari yang lalu. Alhamdulillah… Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi kah yang aku dustakan? Saat impian menjadi kenyataan, salah satunya.

Sepoi angin semakin sejuk terasa. Kesejukan menelusup hingga ke ruang dada. Kesejukkan yang menepi di pipi, ke kening, hingga terasa menembus pikiran. Semua menenteramkan. Aku menyukainya.

***

Sekilas berpaling nun ke arah jalan raya di bawah sanaa… (sebagai informasi ulang: tempat kediaman kami berada di bukit kecil bernama tabek pampuah) terlihat jelas kendaraan berkejaran saling susul menyusul. Mereka berlarian kencang, entah mau ke mana? Mengapa cepat dan terburu? Ah! Terkadang aku tak mengerti dengan aktivitas yang mereka lakui. Terkadang juga ku merenung lagi, tentang mereka di sana. Dan aku semakin bertanya? Menanya, saat kejanggalan demi kejanggalan ku amati.

Aku masih tak mengerti, ada apa dengan mereka? Adakah karena aku tak mengenal mereka semua?

***

Melayangkan pandangan ke arah langit, tampilannya sangat cerah. Dan kemudian ku menarik lagi arah tatap ke depan, pandangan sejajar. Maka yang terlihat adalah dedaunan hijau sungguh menyegarkan pikiran. Sehingga nuansa alam yang sangat damai, semakin teduh dengan adanya mereka. Aku tersenyum, seketika. Saat ku sedang asyik menikmati alam sore ini, tetiba… ! ada yang tiba. Siapakah mereka?

Jreng, jreng…!

Siapa yaa? Yuuk kita intip. Intip yuuk?

***

Aha!

Onna dan duo kurcaci melangkah mendekat. Tampaknya mereka membawa sesuatu. Keresek. Ya, sekantong sesuatu ada di dalam keresek yang konon adalah beberapa camilan, berayun bebas di genggaman Onna. Karena beliau kembali dari warung selesai belanja, hihiii…

😀 Welcome home, Onna… Hahaa..!😀

Tampak seraut wajah yang tenang dan damai olehku saat memandang Onna. Namun ada penampilan berbeda di wajah lainnya. Duo kurcaci Nak Illa dan Ndok Ira. Yap! Ndok Ira yang tersenyum kegirangan karena habis jalan-jalan dan Nak Ila yang berwajah mengkerut penuh kesedihan. Haaiii, ada apa yang terjadi?

Cekricekricek, yuuu…!

Mereka semakin mendekat, mendekat dan dekat sekali dengan kami. Semakin mendekat, tangis Nak Ila semakin menjadi. Sedangkan Ndok Ira berubah bengong, dia tak mengerti dengan apa yang terjadi. Karena sang kakak tetiba menjerit histeris, mengharu biru dan huhuhuhuuuu…. Pekik jelas menggemuruhkan suasana damai. Keriuhan pecah seketika. Semakin ramai dech, suasana. Saatku tertawa akhirnya. Dalam pikirku bilang, ada-ada saja.😉

Semakin lama, keriuhan yang tak terelakkan tersebut, semakin riuh. Sehingga membuatku bertanya, ada apa?

Cari tahu mencari, akhirnya terbukalah tabir masalah. Tertemukanlah inti yang mengubah keadaan. Terdeteksilah segala kesalahan. Dan ternyata ada yang tidak memahami. Mengapa masih ku asyik sendiri? Melanjutkan keceriaan kami? Sedangkan ada yang tidak menyukai, ternyata. Ya, Nak Ila tak suka saat ku foto-foto cantik bersama amak.

"Jangaaaannn…. jangan lagiiii. Jangan foto amaaakkk…" histerisnya ia meneriaki.

Hihiii. Sedangkan aku tergeli dengan yang terjadi. Aku tak mengerti. Mengapa tetiba Nak Ila datang, lalu melarang aktivitas kami? Aktivitas yang sejak lama sebelum ia kembali sudah kami laksanai? Aku geleng-geleng kepala, masih tak mengerti. Namun aku berusaha memahami, ia masih anak-anak. Mungkin karena belum kenal, maka ia tak tahu, bahwa kami sedang mengabadikan moment terindah dalam hidup ini. Maka ku lanjut dengan minta tolong jepret sama Onna, moment kumpul kami. Lihatlah, tangisnya Nak Ilaa yang tak mengerti, bahwa kami sangat menyayanginya.

"Kita tak akan mudah menyayangi, kalau kita tak memahami. Apakah yang kita lakui, merupakan cara untuk mengenal ‘seseorang/sesuatu’ lebih dalam? Hingga sampai pada tahap menyayangi. Dan sayang… sungguh sayang… jika tak melanjutkan pengenalan. Karena sudah terlanjur sayang. Karena sudah sangat kenal. Apapun itu. Haii, itu apa?"

Dari hati yang bertanya, tentang keriuhan dunia,
-Menyepi-

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s