Hari ini adalah awal yang baik untuk pencarianmu. Karena pintu terbuka sangat lebar dan kesempatan itu muncul. Sehingga bagaimana engkau memasukinya? Bagaimana cara engkau menyambutnya? Semua kembali pada dirimu. Adakah engkau cukup tahu diri untuk memulai langkah (lagi)? Maukah engkau bersyukur untuk meneruskan perjalanan (kembali)? Dan yang terlebih penting adalah seberapa besar tekadmu untuk bangkit (lagi) demi mencapai tujuan?

Jalan masih panjang, teman…
Walau waktu hidupmu sebentar, meski sedetik lagi…
Engkau tidak akan rugi kalau bangkit sekali lagi.
Setidaknya untuk menginspirasi, jikapun engkau harus mati.
Meski engkau mesti pergi, meninggalkan dunia ini.
Maka melangkahlah, lagi.
Hanya selangkah lag, saja.
Bangkit dan berjuanglah!

Pelaut yang ulung tak lahir dari laut yang tenang dan dangkal. Begitu pula para maestro di bidangnya. Mereka tak tercipta begitu saja. Mereka malah mencipta. Mereka bukan juga tak berproses panjang. Namun mereka berdarah-darah bermandi peluh dalam meneruskan langkah. Sehingga tak semudah yang engkau lihat saat mereka seperti saat ini. Pun para legenda yang sampai saat ini masih kita ingat namanya. Namanya lekat diingatan kita, sekalipun mereka telah tiada. Seperti Muhammad Ali, salah seorang dari legenda tersebut. Raga beliau memang telah tiada. Akan tetapi, nama beliau abadi. Karena beliau bukan orang biasa. Namun karena apa yang beliau biasakan semasa hiduplah, maka beliau pun menjadi legenda.

Seperti Muhammad Ali, begitu pun denganmu. Engkau tak perlu memiliki segalanya untuk menjadi yang engkau damva. Tidak juga membutuhkan biaya mahal agar engkau dapat pergi ke mana pun engkau suka. Ah! Engkau bilang ini mengada-ada?

Begitu pula dengan cita. Engkau hanya perlu meneruskan langkah saja. Melangkah lagi dan lagi. Untuk menjemput citamu. Tanpa lelah, tanpa menyerah. Yah. Mulailah dengan apapun yang engkau punya. Yang terdekat denganmu. Dengan caramu. Begini guruku berpesan indah di suatu dekade, yang lalu. Saat kami bersitatap haru berbagi ilmu. Beliau menginspirasiku, dengan kekata ramah yang beliau susun dengan ayu. Aku suka. Maka aku pun meniru. Meniru cara beliau bertutur. Memperhatikan gerak bibir pena beliau meliuk. Menyimak suara khas beliau. Walau sekalipun kami belum bersua. Namun begitulah adanya. Dengan apa yang beliau punya. Yang terdekat dengan beliau, maka kami bersapa. Sempat pula bertegur sopan dalam bahasa jiwa, dengan susunan kata. Meski hanya membaca kekata yang beliau tera, maka hingga saat ini, aku tak mudah lupa dengan beliau.

Seorang pembaca akan sangat mudah akrab dengan penulisnya, jiwa mereka sama-sama saling membutuhkan. Maka di sanalah terjadi pertautan bahasa. Hingga mereka saling melengkapi. Pembaca memerlukan inspirasi, sedangkan penulis membutuhkan apresiasi. Supaya semakin hiduplah hidup ini. Dengan begitu, dunia menjadi tempat yang menarik untuk kita huni. Meski sejenak. Walau sebentar. Sebelum kita mati.

Agar dunia menjadi lebih layak untuk kita huni, memang harus ada yang memberi inspirasi dan menerima inspirasi. Lalu, ketika inspirasimu pergi, bagaimana cara menemukannya kembali? Membacalah. Ya, baca apapun yang ada di sekitarmu. Bisa seonggok kertas, sekuntum bunga, atau setetes air. Dan kemudian tebarlah inspirasimu. Ia tak akan pernah habis, malah bertambah dan bertumbuh. Cobalah… Dan coba lagi.

Ya. Mulailah mencoba dengan yang terdekat. Lalu melengganglah indah dengan tangan terayun lepas. Melantunlah indah, dengan suara merdumu. Sampaikan pada dunia bahwa engkau pun bersuara. Bukan seorang yang hadir ke dunia tanpa melakukan apa-apa.

Ingatlah! Untuk istiqamah. Meski tak mudah, namun engkau pun bisa. Lihatlah! Sekeliling. Meski sesosok wajah. Perhatikanlah! Di cermin. Betapa banyak nikmat Allah yang melekat padamu. Karena Dia menitipkannya padamu. Lihatlah dengan mata terbuka, hati yang membuka.

Ada mata yang jelita, dua jumlahnya. Mata yang memancarkan cahaya sempurna. Untuk bekalmu melihat dunia. Ada dua lembar telinga yang menjadi sarana bagimu menikmati lantunan merdu suara alam. Termasuk cericit beburung di pagi hari nan tenang. Manfaatkanlah untuk mendengarkan kebaikan. Kemudian anggota tubuhmu yang lainnya. Manfaatkanlah ia untuk bersyukur, kawan…

Saat engkau mau menyadari, kini. Betapa banyak orang-orang di luar sana yang tidak mempunyai kaki, namun masih berjuang melanjutkan langkah? Mereka bergerak dengan niat dan tekad di dada. Bersama untaian doa memohon kekuatan dari-Nya. Agar tercapai tujuan di ujung sana. Renungkanlah sekali lagi. Kemudian sadarilah, hingga akhirnya engkau bersyukur.

Saat engkau mau menyadari, betapa banyak orang-orang yang memiliki impian di luar sana. Namun mereka tak mampu berbuat apa-apa. Karena keterbatasan sarana yang mereka punya. Akan tetapi segenggam impian selalu mereka pegang erat bersama harapan untuk mewujudkannya. Mereka tak diam apalagi berpangku tangan. Karena mereka yakin banyak perpanjangan tangan Tuhan yang siap menyambut uluran tangan lembutnya untuk meraih impian.

Saat engkau percaya dan yakin, maka engkau pun bisa. Engkau mampu menjadi lebih baik. Engkau bisa mewujudkan niatmu pula. Kalau engkau mau bersyukur dan bersabar menjalani proses yang tentu… T I D A K M U D A H. Karena tidak ada cara instan untuk kemenangan. Pasti memerlukan waktu lama yang sangat menguji kesabaran. Membutuhkan kekuatan hati agar tak lemah dan rebah ditebas putus asa. Membutuhkan cinta untuk menemanimu meneruskan langkah. Ya. Cinta.

Cinta yang menguatkanmu lagi saat raga melemah. Cinta yang siap melindungi ragamu agar tak rebah karena lelah. Cinta yang mengajakmu bangkit setelah jatuh terpuruk jauh di jurang dalam menakutkan. Cinta yang membimbingmu… Saat raga sempoyongan mendera. Sehingga engkau kembali segar, tegar, kuat dan semangat menatap ke depan.

Haiii…! Jangan mengeluh dan menyalahkan. Mulai buka cara pandang, dan belajarlah dari keadaan. Seraya meneliti kenyataan. Di manapun engkau berada, bersama siapapun. Engkau berhak atas masa depan terbaikmu. Maka apapun yang engkau lakukan saat ini, merupakan caramu untuk menjadikan masa depanmu lebih baik dari hari ini. Pun merupakan caramu untuk berhenti menjadi objek, namun engkau menjadi subjek atas jalan suksesmu.

Hello… Kawan. Usah bengong. Jangan ragu. Apalagi malu. Mulailah bangkit dengan apa yang engkau mampu. Apa saja. Dengan yang terdekat. Lalu lakukan dengan awal yang sederhana. Menyederhanakan sampai kemudian. Hingga kesederhanaanmu menjadi sesuatu yang hebat, bermartabat dan luar biasa. Kehebatan yang engkau pun tak menyangka. Ternyata mampu memberi kontribusi nyata bagi dunia. Namun setelah semua engkau raih, tetap rendah hati, tawadhu, usah berbangga diri. Karena engkau tak pernah sendiri. Engkau tidak melakukan langkahmu sendiri. Maka sadarilah siapa diri, saat engkau menanjak tinggi. Semua orang besar dan hebat pun melakukannya.

Aha! Bacalah kisah hidup mereka. Mereka pasti berusaha, hingga menjadi diri mereka seperti yang engkau baca. Lalu berkacalah dari mereka. []

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s