Hati tak pernah terlihat oleh kita. Karena ia ada di dalam rongga dada. Namun kondisinya dapat kita deteksi. Apakah ia dalam ketenangan, semberawut alias berantakan, rapi jali nan menenteramkan, atau tak terdeteksi sama sekali?

Hai, hati-hati dengan hati, kawan. Karena ia adalah poros perbuatan. Di dalamnya bersemayam niat sebelum tingkah laku. Serta keadaannya dapat tercermin melalui tindakan. Makanya, saat ia tak beres, kawan, maka kita perlu menatanya. Menata penuh kedisiplinan, menyapa dalam keheningan. Supaya hati kita cemerlang, berbinar terangi kehidupan. Meski siang, walau malam, tak kenal keadaan. Hati kita mesti dalam kondisi terbaik. Maunya sich begitu. Namun apa hendak dikata. Saat hati tak tertata?

Hati tak tertata, tercermin di wajah yang berkemelut. Tergambar pada sorot mata nan buram. Sedangkan tingkah dan perbuatan penuh kejengkelan. Semua menjadi berantakan. Apa-apa tak beraturan. Termasuk pikiran yang berisi kejelekkaaaaannn aja. Ah! Mana ada yang mau begini, bukan?

Walau kita upaya senyum-senyumkan, namun terlihat juga kemurungan. Karena hati kita tak turut tersenyum. Sekali pun kita baik-baikkan, namun yang ada hanya keburukkan. Karena bukan bersama hati yang tertata kita melakukannya. Akibatnya, orang tertakjub kita berteman gerutuan. Orang bahagia kita cemburuan. Orang bermaksud baik, kita bersangkaan. Sangka negatif, pula. Orang berjalan kaki kita cemoohkan. Orang belum menikah kita tertawakan. Orang sedih, kita malah kesenangan. Begini akibat kalau hati berantakan. Segalanya penuh keburukan. Tak terbayang sedikitpun kebaikan. Yang keluar dari diri pun yang buruk-buruk.

Namun kalau hati tertata, senyuman manis mengembang perlahan dari hati melalui wajah nan menawan. Pikiran senantiasa berisi kebaikan, makanya ia senyum-senyum terus. Bawaannya bahagia di wajah, walau ternyata ia sedang gundah. Namun wajahnya sudah bersatu dengan hati, yang mengatakan, "Sudah… Sudah… Sudahlah… Pasti ada solusi. Sumringahlah!"

Pengeenn, yaa. Kalau kita memiliki hati yang tertata. Namun bagaimana caranya? Berapa lama menata hati? Di mana kita bisa melakukannya? Apakah membutuhkan biaya mahal, yaa? Lalu, sanggupkah kita menata hati? Kalau pun jauh tempatnya, ku kunjungi. Walau pun butuh biaya tinggi, ku siap mengeluarkan semua tabungan. Meski harus bertaruh nyali, aku berani. []

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s