Tetiba ku menerima pertanyaan ini dari seorang teman teranggun yang pernah ku kenal. Pertanyaan yang ku terima untuk pertama kali. Pertanyaan yang membuatku berpikir lagi. Pertanyaan singkat. Sederhana. Ringan. Namun membawa makna penting bagiku. Pertanyaan yang sesegera mungkin ku renungkan. Bagaimana cara istiqamah?

Sejak menerima pertanyaan tersebut, maka bertanya ku pada diri. Apakah selama ini aku istiqamah? Sudahkah ku terbiasa istiqamah? Bagaimana mempertahankan istiqamah? Dan saat datang kesempatan berbagi tentang istiqamah saat ini, apa yang dapat ku beri? Berbagi pengalaman barangkali, atau sesuai yang pernah ku tahu dari seseorang. Hai, hayoo, sob! Berpikirlah!

Nah! Kalau belum istiqamah, ikhtiar seperti apakah yang ku lakukan agar bisa istiqamah? Sejauh apakah ikhtiar tersebut ku lakukan? Dan bagaimana cara ku menanggapi saat ada yang memintaku berbagi? Meski setitik tinta hati. Walau sebersit suara jiwa. Maupun sejumput inspirasi tentang istiqamah. Mau aku?

Hmmm… Ketika diamku bertanya sendiri. Dalam rangka apakah istiqamah ku?

Ooiya, saat merenung tentang pertanyaan sang teman tadi, maka terlintas dalam ingatku. Pertama kali, kita harus mengetahui dan memastikan apakah yang akan kita istiqamahi. Nah, ini dia jawaban pembuka. Ya. Ketahui dulu dalam hal apakah kita ingin istiqamah. Kita bisa menyebutnya niat. Niatkan istiqamah di bidang bla… Bla… Bla… Misalnya istiqamah shalat dhuha, tahajjud, shaum sunnah, ngaji, dan sebagainya. Selanjutnya bagaimana?

Saat niat sudah tertancap kuat dalam hati, menghunjam menembus dasar jiwa dan melebar di ruang ingat. Maka kita sudah mempunyai fondasi awal. Untuk membuktikan kita benar-benar berniat, tentu kita mencari tahu lebih dalam tentang niat kita tersebut. Kita sebut ini ikhtiar, boleh yaa. Sebagai langkah berikutnya. Agar niat tak henti di BaB niat saja. Namun mulai merealisasikannya dengan mencari tahu tentang apa yang kita niatkan. Lalu pahami benar-benar, gali lebih dalam dan sampai tahap semakin antusias mengistiqamahinya. Ku lihat engkau manggut-manggut tanda paham. Berikutnya, mari kita masuk step lanjutan.

Kita masuk ke jawaban kedua. Biasakan. Rutinkan. Kalau perlu, paksakan diri. Buat jadual dan kemudian taati.

Berikutnya, cari faktor pendukung seperti teman, orang tua, sahabat, saudara atau sesiapapun yang kita percaya. Ya. Bukan sembarang orang. Namun yang kita yakini dapat membantu kita untuk istiqamah.

Berdoa. Sembari melaksanakan, hiasi dengan doa. Agar perjalanan istiqamah kita semakin semarak. Supaya tak gersang. Agar semakin semangat. Karena doa adalah pemercepat tercapainya usaha. Karena doa dapat mengubah takdir. Maka berdoalah dalam memperjuangkan istiqamahmu, kawan.

Nah… Pada tahap ini, engkau sudah memasuki istiqamah. Saat ia meredup, ulang dari tahap awal lagi, ingat niatmu, pelihara rasa ingin tahu tentangnya (hal yang engkau istiqamahkah), meminta dukungan, dan kemudian berdoa lagi. Insya Allah, istiqamah dalam genggaman. Kemudian, miliki kemauan untuk membagikan rahasia atau tips istiqamahmu pada dunia. Supaya ‘dia’ pun tahu, rahasiamu. []

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s