Selembar senyum hangat engkau tebarkan sepenuh hati. Senyum sangat berarti untuk sesiapa saja yang menerimanya. Senyum dari sesosok insan bernama perempuan, sepertimu. Dengan rambut ikal dan panjangmu yang tergerai indah, semakin menambah pesona yang melekat padamu. Perempuan sopan, anggun, ayu nan pemalu dan berakhlak indah. Keindahan alami, tanpa pernah ada yang tahu bahwa sesungguhnya nun jauh di lubuk hatimu, ia sedang terluka sangat dalam. Namun semua tak terdeteksi, karena luntur oleh keindahan penampilanmu. Raga nan ayu, wajah berseri, tinggi semampai. Ah! Siapa menyangka, bahwa engkau adalah perempuan luka.

Luka di hatimu memang sangat dalam. Namun engkau tak mau membiarkannya menggerogoti diri. Maka engkau merawat luka dengan telaten dari hari ke hari. Sangat rajin engkau membersihkannya, mengobati, meski dalam prosesnya sangat sakit. Menggigit. Ngilu hingga ke ulu hati. Perih, pedih. Ih!. Siapa yang suka menanggung kesedihan akibatnya? Maka engkau pun tersenyum, dengan tersenyum maka aku sedang belajar bahagia, bisikmu pada saat kapanpun ku menanya. Mengapa ia sering membersamai hari-harimu.

Irus namamu. Ya. Lebih lengkapnya Fairuz Zafrani. Tapi engkau lebih suka dipanggil Irus saja. Lebih simpel dan ringan di lidah, jawabmu tergelak, saat lagi dan lagi ku tanya alasanmu menyingkat nama. Hahaa, kita pun sering menikmati waktu lebih ceria bersama. Meski menertawai sebuah nama atau menertawai kejanggalan-kejanggalan yang kita lihat sehari-hari. Aku My Surya, jawabku. Sebuah nama kaya makna, berlimpah cerita pun kisah bahagia serta banyak harapan bersamanya. Yhaaaaa… Aku pun sama, masih berjuang menata hati yang pernah luka. Maka kami pun berteman. Berteman saja mulanya, sebelum akhirnya menjadi sahabat jiwa. Aku dan Irus tak terpisahkan.

Engkau seperti laki-laki. Agak tomboy gayamu. Namun anehnya, engkau sangat suka bicara. Bicara apa aja, dengan bibir tipismu yang ringan, sungguh sangat mudah bagimu meluahkan segala rasa dan uneg-uneg. Berbeda denganku yang pasti mikir berulang kali sebelum memutuskan sesuatu. Engkau tertawa saat kau suka, dan langsung menangis tersedu dengan suara tertahan. Selanjutnya terisak penuh kalau duka membalut jiwamu. Sering engkau bertingkah kekanak-kanakkan, dan sangat usil pada teman. Sungguh karakter yang unik, gumamku tentang pribadimu. Mungkin sama dengan namamu yang asing bagiku, Beirly. Sosokmu tidak terlalu tinggi, kulit hitam manis dengan sebuah lesung pipit di kiri pipimu. Ia akan menampakkan diri saat engkau tersenyum ataupun tidak. Sehingga lesung pipitmu menjadi ciri khas seorang Beirly.

Selain Fairuz dan Beirly yang berwatak berbeda, ada lagi sosok berikutnya dalam keseharianku. Kalau yang satu ini adalah gadis manis keturunan Batak. Kami berkenalan saat aku dan dia sama-sama melakukan perjalanan di dunia maya. Secara tak sengaja aku dan dia pun berkenalan. Perkenalan yang berlanjut pada pertemuan kami berikutnya dan berikutnya lagi, di dunia maya. Sampai kami menjadi sahabat akrab. Dia sahabat penaku. Nayla namanya. Seorang gadis yang suka menulis, diam di depan komputer dan di waktu senggang naik gunung bersama anak-anak pencinta alam di kampusnya. Nayla yang kuliah di salah satu kampus swasta di kota Medan, sempat bercerita tentang perjuangannya yang berdarah-darah untuk menyelesaikan kuliahnya. Karena terhitung akhir semester ini, harusnya ia sudah wisuda. Namun setahun lagi ia harus ketinggalan dari teman-temannya, karena mood nya selalu hilang timbul saat harus menyelesaikan skripsi. Hai! Ayooo Nay, pasti bisa! Semangat Nay, kami mendoakanmu. Semoga kuliahnya lancar dan bisa selesai segera yaaa.🙂

Seorang lagi sahabat karibku yang unik adalah Meyha. Ya, muslimah anggun penyuka warna orange ini adalah gadis sunda asli. Seperti namanya, ia sungguh ceria. Pembawaannya selaluuuu saja terlihat bahagia. Walau ia sedang berkabung duka berselimut sendu, namun selalu saja wajahnya menampakkan suka. Ai! Aku sangat bersyukur menjadi bagian dari hidupnya. Dan aku bahagia ia menjadi salah seorang sahabat baikku. Sahabat terbaikkkk sedunia pokoknya mah. Bayangkan saja, sepanjang keberadaanku di kota Bandung, ia menjadi bagian diriku yang lain. Sehingga di awal-awal pertemuan, kami sering bersama. Di mana ada Teh Mey, begini sapaan akrabku untuknya, maka aku pun di sana. Sulit senangku bagi dengan Teh Mey. Apalagi sebagai warga kost-kostan yang engkau tahu laaah, bagaimana kondisinya. Maka bersama Teh Mey aku menjadi lengkap. Sehingga, setelah sekian lama kami bersama, Teh Mey pun menempuh jalan hidupnya berbeda denganku. Beberapa tahun setelah kami berkenalan, Teh Mey pun menikah dengan pria berasal dari Medan dan saat ku merangkai kisah ini, Tuhan telah mengaruniai seorang putra yang lucu pada keluarga sobat shaleha ku ini. Selamat yaa Teh Mey, semoga kita dapat berjumpa kembali, yaa. Where is it?

Sepanjang kebersamaanku dengan sahabat-sahabat dekatku tersebut, banyak kisah yang kami cipta. Baik kisah menyenangkan maupun menyendukan. Walau di antara mereka mungkin belum pernah berjumpa, namun aku yakin suatu kesempatan terbaik kami akan bersama. Untuk apa? Ah! Semua orang tak pernah mengetahui tentang masa depannya pun masa lalu. Termasuk takdir pertemuan, kebersamaan pun perpisahan. Namun yakinlah, di setiap pertemuan tentu ada kisah, bukan? Maka di pertemuan kami berikutnya ada kisah terindah yang sedang mempersiapkan diri untuk kami rengkuh.

Saat ini, aku tak pernah lagi bertemu raga dengan sahabat-sahabatku. Karena aku pun sudah memilih jalan hidupku. Jalan hidup yang berbeda dengan beliau semua. Jalan hidup yang membawaku pada hari-hari yang baru setiap harinya. Jalan hidup yang pada penghujung hari ku tutup dengan senyuman. Untuk selanjutnya menyambut hari esok dengan senyuman yang kembali baru. Seperti barunya senyuman mentari menyinar bumi. Senyuman segar dan menyegarkan. Senyuman bening nan membeningkan. Senyuman cerah nan mencerahkan. Karena ku yakin, walau tak selalu ku dapat tersenyum ringan, namun ku berusaha agar tetap bisa. Bersama ingatan terhadapmu wahai sahabat-sahabat terbaik, aku kembali tersenyum. Meski lebih tepat disebut dengan memaksakan. Namun aku paksa diriku agar kebiasaan. Semoga, selanjutnya di hari nanti, senyuman indah dari hati menemani kebersamaan kita, yaa. Aamiin. []

Lovely Smile
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂 :)g

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s