Hanya seorang diri di penghujung hari menjelang malam. Terkantuk-kantuk sambil mengunyah sebutir permen karet di mulut yang tak henti bergerak. Seraya memicingkan mata sesekali, diam-diam ia sedang menyimak suara seruling nan merdu. Suara yang berasal dari kejauhan, sayup-sayup terdengar dan kemudian menghilang sejenak. Selanjutnya bersambung lagi dengan suara berikutnya. Sungguh merdu. Mungkinkah karena suara seruling tersebut ia terkantuk-kantuk?

Ah! Aku pun tak tahu pasti. Yang jelas, di tempatku berdiri kini, sangat jelas aktivitas apapun yang ia laksanai. Termasuk saat tetiba senyuman tipis mengembang di sudut bibirnya. Lalu semakin lama semakin hangat senyumannya, saat ia melihat ada orang yang lewat di depan gubuk bambunya.

Ya. Jalan setapak membentang di depan penginapannya, seperti seekor ular yang sedang bergerak. Karena terdapat liuk dan kelok beberapa buah, setelah lepas dari depan gubugnya. Seterusnya, jalan setapak akan menghubungkan kita dengan beberapa piring sawah di depan sana. Saat ini, sawah-sawah tersebut mulai menguning dan beberapa pekan lagi tentu sudah siap panen. Aih! Betapa bahagianya Bapak tua tadi. Beliau yang hanya tinggal sendiri, mengolah sawah peninggalan leluhurnya. Sedangkan beliau sampai berusia hampir seabad, masih belum berkeluarga. Dan tinggal sendiri di gubugnya di pinggir jalan setapak tidak jauh dari sawahnya. Padahal, keluarga dekatnya yang tinggal di pinggir kota pun tak berkekurangan. Hanya saja, si Bapak lebih memilih menghabiskan masa tua menjelang tutup usianya, di daerah yang sunyi dan jauh dari keramaian. Alih-alih menjadi penduduk pinggir kota, supaya lebih dekat dengan sanak saudara, beliau malah suka menggarap lahan pertanian sendiri. Sungguh beliau berhati keras dan tidak mau menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain. Entah mengapa? Yang pastinya beliau mempunyai maksud baik, ku pikir. Semoga si Bapak tua sehat senantiasa, berlimpah bahagia di dunia dan hingga akhirat sana. Aamiin.

… Setelah beberapa lama ku perhatikan dari lokasi yang tidak terlalu jauh dari beliau, terungkaplah bahwa sumber suara berasal dari jiwa beliau. Jiwa yang bersuara, hingga terdengar pula olehku. Sedangkan beliau sangat menikmati nada-nada yang beliau tak mengerti

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s