Pagi. Dengan sebuah kata menakjubkan ini, apanya yang engkau pikirkan teman?

Ya. Pagi yang menuturkan selembar hari baru bersama warna putihnya. Hari yang bening dan lembut seperti awan. Waktu yang segar, bersih dan cemerlang. Keadaan tanpa hiruk pikuk, tenang nan damai. Masa di awal-awal hari, bersama banyak harapan dan kesempatan untuk kita rengkuh. Kesempatan memulai hari baru dengan semangat baru. Yups! Bening alamnya memberi kita wajah sumringah berpoleskan senyuman. Wajah yang baru dan mendermakan senyumannya pada sekitar. Begini menurutku, apabila ku penggal sebuah kisah tentang pagi.

Tak banyak aktivitas memenatkan yang ada di pagi hari. Kecuali semua memberi kita jeda untuk mengenal diri. Apalagi beberapa saat setelah rutinitas shalat Subuh kita tunaikan. Maka kita dapat melanjutkan dengan menghirup udara sebebas-bebasnya, lebih dalam, lebih banyak, dan memejamkan mata perlahan. Selanjutnya, setiap hembusan yang kita keluarkan bersama dengan senyuman. Ya. Memulai hari dengan senyuman adalah pilihan insan teladan. Karena baginya, pagi adalah anugerah tak ternilai. Oleh sebab itu, ia sambut hadirnya pagi dengan penuh kebahagiaan melalui senyuman yang ia tebarkan.

Bebasssss…!
Lepaaaaaassssss…!
Ikhlasssssssss…!
Luasssssssss…!
Puassssss…!
Riaaasssss…!
Bernasssss…!
Ia percaya, ini adalah waktu yang sangat bermakna. Maka bersama sebuah niat dan tekad di dada, ia menyalakan lagi semangat. Kemudian menyapa dunia dan akhirat bersamaan. Supaya dia ingat! Hidup tidak selamanya. Kematian akan ia hadapi juga, cepat atau lambat. Hanya tentang waktu. Ia ingat selalu. Ingatan yang membuatnya bersegera bangkit dari duduk, apabila sebelumnya ia dalam kondisi duduk. Ingatan yang mengajaknya berdiri, berlari dan kemudian melesat menggapai mimpi. Karena baginya, hidup yang sekali adalah tentang kecepatan memanfaatkan waktu.

Pagi di sini, saat ini. Ketika ku mula membuka lembar catatan tentang pagi. Pagi yang damai menenteramkan, mengajakku bangkit dan berdiri, lalu melangkahkan kaki. Kaki yang semenjak semalam memang ku biarkan rehat tanpa aktivitas berdiri. Kaki yang pagi hari ini ku bawa berlari menembus embun. Karena beberapa saat setelah ku berdiri, ia mulai menginjak rerumputan yang basah, sisa embun semalam. Ah! Pagi yang romantisssss, bisikku pada helai daun padi yang ku dekati.

Pagi di sini. Masih di sekitar daun padi. Masih di sepanjang pematang sawah dengan padi-padi yang mulai menguning. Masih di antara rerimbun ‘rumput banto’ yang ramai sekali. Semenjak tadi, ia berusaha menarik-narik kakiku agar tak pergi. Ia yang meninggalkan bekas goresan di antara pergelangan kaki kiri dan kananku. Lalu ia tanpa rasa bersalah, membiarkanku pergi, walau tak rela. Karena aku tak mau berlama-lama berdiri di atasnya. Sebab ada banyak lagi langkah-langkah yang perlu ku pijakkan di bumi. Supaya ku lebih mengenal diri. Agar semakin mantab dan teguh kaki-kaki ini berlari. Meski di antara pematang sawah yang basah berembun.

Di sini. Semenjak pagi. Aku sudah mulai terbiasa berlari di antara rerumputan, di atas pematang. Meski pagi. Walau terkadang jebakan ada di sekitar, yang bisa saja menjatuhkanku ke dalam aliran air di tepi pematang. Namun aku sangat hati-hati. Xixixixiiii. Selanjutnya meneruskan berlari-lari kecil, sambil menekuri pagi.

Pagi di sini. Menjelang musim panen tiba, aku mendapat giliran menengok padi di pagi hari. Dan moment ini ku manfaatkan untuk menemukan sejumput dua jumput inspirasi tentang pagi, di sekitar padi.

Haiii, mengapa ada padi?

Sudah ku bilang padamu my soulmate di sini, bahwa sejak kedatanganku di kampung halaman lagi. Maka aktivitasku di antaranya adalah berkecimpung di ranah pertanian. Karena orang tuaku adalah petani. Yes! Aku bangga menjadi bagian dari profesi yang berhubungan dengan lumpur, tanah, air, dan dekatnya kami dengan mentari ini. Karena secara tidak langsung, membuatku ingat lagi dan lagi tentang diri. Tentang siapa diri ini? Mengapa di sini? Berapa lama lagi? Untuk keperluan apa di bumi ini? Maka saat bertani, ku renungi lagi semua ini. Meski beberapa menit sehari.

Ya. Sejak ku kembali lagi menjadi petani, maka berpagi-pagi menyapa embun adalah kebiasaan kami. Menyambut mentari dengan senyuman menjadi nostalgia senangkan hati. Bersatu jemari dengan lumpur di sawah adalah keasyikkan tersendiri. Lalu, semakin dekatnya kepala dengan sinar mentari adalah bagian dari kebahagiaan kami. Sehingga kami pun dapat berkisah dan bercerita tentang pagi, walau sepenggal adanya, seperti saat ini. Karena kami mengalami, maka kami berbagi.

Di kampung halaman, ku berada kini. Seperti halnya di perantauan, maka di sini pun tentu saja ada suka dan dukanya. Terlebih lagi saat ku harus dan mesti bersosialisasi dengan penduduk sekampung. Maka, kembali lagi dech aku seperti adanya aku. Super ‘gadis pingit’ dan jarang ke mana-mana. Huuuwwaaaaa… Terkadang ku ingin luahkan segala rasa yang ada. Namun terkadang ku sepikan ia di ruang jiwa. Karena mesti ku bersyukur atas semua. Baik saat ku menyebutnya sebagai suka atau duka. Karena pasti menjadi yang terbaik di ujungnya, kalau aku sadar diri. Yeps! Semua ada untuk menjadi bagian dari inspirasi. Supaya ku dapat melanjutkan kehidupan ini dengan penggalan kisah yang tak lupa ku bagi. Terutama tentang pagi, selama waktu yang ku jalani. Baik saat di kampung halaman seperti saat ini. Ataupun ketika ragaku kembali mengambil jarak dengannya, mungkin saja terjadi.

Maka tentang pagi hari di sini, dapat ku selipkan dalam memori, untuk menjadi kenangan yang abadi. Termasuk suara kokok ayam jantan yang bersahutan tiada henti, ketika pagi menyapa hari. Intinya, pagi di sini sungguh berarti. [190416]

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s