Di tengah perputaran roda kehidupan, kita berada kini. Kita yang harus bertanya lebih sering, apakah yang ku lakukan saat ini? Ya. Karena apa pun aktivitas kita, akan dipertanggungjawabkan kelak, saat kita sudah keluar dari roda kehidupan. Apakah kita sudah siap?

Sejauh apa kesiapan kita? Saat menghadapi satu kondisi, roda kehidupan kita berhenti. Lalu di posisi manakah kita saat itu? Apakah di bawah dalam keadaan penuh kemunduran, terluka, sendu, bahkan berselubung duka? Atau di posisi bagian atas, berteman cengkerama dan riang gembira, bahagia dan tertawa bersama, ceria bersama kesenangan yang membuai?

Sejenak setelah roda kehidupan berhenti, kita baru ingat dan tersadarkan untuk berkemas. Karena kehidupan bukan lagi untuk kita. Sedangkan sebelumnya, kita asyik dan menyita waktu-waktu yang kita selami.

Di antara perputaran roda kehidupanku kini, terkadang aku ingin bertanya pada bukit pelangi di samping rumahku. Atau pada sebuah pohon rindang di tepi jalan kecil menuju jalan raya. Bahkan sempat pula terbersit tanya itu ku sampaikan pada sepelepah daun kelapa yang kerap membuatku penasaran dengan lambaiannya. Atau pada daun-daun pisang yang tak henti bergoyang. Ya. Aku sangat ingin bertanya pada mereka tentang kecepatan perputaran roda kehidupan. Apakah mereka tahu? Sehingga mereka terlihat segar selalu menempuh waktu. Karena tak sekali pun ku melihat mereka sendu atau kuyu. Namun seberkas kesegaran dan kehijauan selalu mereka jadikan pelembut mataku untuk senantiasa tertuju pada mereka. Ah! Lagi lagi aku ingin bertanya. Apakah benar begitu?

Di tengah perputaran roda kehidupanku kini. Memang. Aku menyadari. Bahwa tak selalu ku mau berucap suara. Bahkan aku suka memilih membisu. Sama seperti angin. Ya. Menurutku sang bayu pun sama. Ia tak banyak bicara. Namun memilih beraksi menyejukkan raga di tengah terik mentari siang hari. Atau ia menjadi pendamai rasa yang berkelebat pilu menjelang hujan turun ke bumi. Karena itu, aku memilih diam dan bisu, ketika mood ku untuk bicara menghilang. Dan dalam kondisi tersebut, ku rasakan roda kehidupanku bergerak pelan dan perlahan. Sedangkan aku berayun asyik di atasnya seraya menikmati waktu. Sesekali ku layangkan arah pandang jauuuh sekali. Hingga penglihatanku tak mampu lagi membedakan. Apakah langit biru atau puncak-puncak pohon kayu yang berwarna kelabu. Nun jauh di sana, aku hanya menyaksikan pemandangam terjauh. Lalu menekur sejenak dan kemudian menengadah lagi ke bagian lain. Begitu selalu ku lakukan, di antara waktu yang ku nikmati.

Di tengah roda kehidupan ku pun, aku sering tak menyangka. Tetiba sudah mencipta ini dan mengkarya itu. Padahal tujuanku hanya satu, untuk membunuh waktu yang terus melaju. Seraya mengajaknya berpacu, ku terus bergerak dengan semangat menggebu. Di hatiku hanya satu, Allahu Akbar! Insya Allah, istiqamah menjalani waktu di tengah perputaran roda kehidupanku. Yuhuuu. Sampai akhirnya nanti, roda berhenti berputar dan aku tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Maka…
Wahai diriku…
Wahai sahabat jiwaku…

Selagi roda kehidupan berputar dan melaju, istiqamahlah dalam kebaikan. Di mana pun engkau berada, bersama siapapun. [180416]

NB// "Menjelang malam di rumahku, surgaku".😉

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s